Minggu, 24 Januari 2016

Makan Siang

Bima, salah satu kesatria yang tergabung dalam Pandawa Lima siang itu  duduk di pojok taman istana bersandar di sebuah pohon maja sambil memeluk kedua kakinya dan memblesekkan kepalanya di kedua lututnya.

wajah Bima kecil sepertinya sedang murung tidak seperti saudara-saudaranya di Pandawa Lima yang sedang bermain Tekong-Tekongan (nama permainan Petak Umpet dalam bahasa Jawa Suroboyoan) Bima kecil masih saja sendiri duduk di bawah pohon maja sampai salah satu pengemong datang yakni Kiai Semar.

"lho, kok dewean disini kenapa le?"

Tanya Kiai Semar sambil mengelus kepala Bima kecil yang masih saja mblesek diantara kedua lutut.

"aku ngamuk" 
jawab  Bima Singkat saja.

"lha ngamuk kenapa, le?
kali ini Kiai Semar duduk disamping Bima kecil dengan tangan yang akan menggendong bima masuk kembali ke istana

dalam pelukan Kiai Semar, Bima bercerita bahwa dia sedang ngidam Bakso tapi juru masak Istana memaksanya untuk tetap makan sayuran hasil rakyat pribumi istana.

"lah.. lahh.. sayur kan apik buat badanmu le.."

belum selesai Kiai semar menjelaskan tentang sayur, Bima kecil langsung melompat dari pelukan Kiai Semar dan berkacak pinggang di depannya dengan mata "mlorok".

"Lha aku ini Kesatria apa Popeye???"

***

Sudah lama sekali tidak menuliskan sesuatu di blog ini, sampai-sampai di tahun 2014 saya hanya menerbitkan empat postingan saja, selanjutnya di tahun 2015 sudah tidak ada kabar sama sekali, itu yang membuat saya mengganti template blog ini agar terlihat masih berpenghuni dan terawat walau kadang yang membuat semangat menulis down adalah ketika saya blogwalking hampir disemua blog yang saya kunjungi mengalami mati suri. hidup segan, mati masih negosiasi.
dimana teman-teman saya blogger dulu?

12:00 tepat waktu malang, saya merencanakan untuk apel ke rumah calon Istri saya (oh iya, saya lupa! sekarang beta tidak jomblo lagi!!) di Sidoarjo.
berangkat sekitar pukul 12:30 saya nyalakan mesin motor saya dan mengarahkan ke daerah singosari malang, baru sekitar 500 meter saya keluar dari tempat tinggal saya melihat kearah langit yang perlahan menghitam dibarengi dengan hembusan angin yang tidak wajar.

siang itu angin berhembus sangat brutal.
angin berhembus sangat kencang bersamaan dengan langit yang gelap, sudah tidak bisa dihindari lagi bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
benar saja, hujan turun mengeroyok sangat deras, menciprat kemana-mana karena dihempas oleh angin yang sangat kencang.

"Cinta tidak mengenal musim" batin saya sambil terus menerobos hujan dan angin yang kencang.

sampai di pasar lawang saya hentikan motor untuk membeli oleh-oleh, mata saya tertambat pada apel dan langsung saja saya ambil beberapa kilo sebagai buah tangan, masih merasa ada yang kurang saya membeli lagi kerupuk tahu di toko sebelah penjual buah tersebut.
di dalam toko saya sedikit membuka obrolan basa-basi

"waduhhh.. kok hujan terus bu ya?"

"walahh.. emang udah waktunya, mas" kata ibu penjual kerupuk tersebut

saya timpali kemudian "waduhhh jangan dulu, bu, saya masih perjalanan jauh niii"

"ya ndak bisa gitu, mas. hujan itu sudah kehendak Allah, hujan itu berkah juga, nanti kalau panas terus apa ngga retak-retak tanah ini"

saya pikir memang benar adanya kata ibu berkerudung ungu penjual kerupuk tersebut, segala hal di dunia ini tinggal kita terima saja.

menyoal perjalanan saya sudah masuk di daerah Pandaan dan keadaan cuaca masih saja ekstrim dengan angin yang berhembus masih kencang. motorpun jadi sulit dikendalikan, saya arahkan lurus tahu-tahu terhembus angin jadi miring ke kiri. ini membuat saya semakin ketar-ketir di jalan karena mobil dan truk-truk besar tidak akan memberi toleransi pada motor yang ketiup angin kencang.

semakin hati-hatilah saya dijalan, materi "Semakin Di Depan" dari Valentino Rossi tidak bisa saya terapkan saat itu. saya memilih materi "biar lambat asal selamet" saja.

masuk di sekitaran Gempol masih saja hujan mengeroyok secara kasar, saya merasa celana jeans saya sudah basah dan kaki saya sudah dingin sekali rasanya, tapi tujuan sudah dekat, saya tak mau kalah dengan keadaan, saya pacu kembali motor sampai di depan rumah calon istri saya berdirikan motor tepat di depan pintu rumah.
saya ketuk pintu sambil saya missed call HP-nya, siluet nampak dari kaca pintu rumah, saya kenal pasti gadis yang berjalan menuju pintu itu.

semakin mendekat ke pintu saya semakin yakin, pintu dibukanya pelan-pelan dan saya merapat ke pintu, senyumannya membuat saya semakin yakin bahwa itu memang gadis yang saya cari sepanjang siang itu.
senyuman manis pelepas lelah.

gadis itu mengambil tangan saya dan menciumnya, semakin rontok rasa lelah ini dibuatnya.
lalu gadis itu mempersilahkan saya duduk lantas menyiapkan makan siang untuk saya.
gadis itu datang kembali dari dapur dengan membawa segelas teh hangat, lauk ikan dan semangkuk bakso.


ya, sebuah cerita tentang bakso.
bahkan semangkuk baksopun bisa membuat kita bahagia, dasarnya adalah rasa sayang.
kalau sesama manusia kita bisa saling menyayangi, kebahagiaan akan mudah kita dapatkan, seperti bakso di siang itu yang menimbulkan suasana mesra.



*foto dirampok dari sini

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top