Senin, 27 Mei 2013

22 Tahun

Bukan waktu yang pendek untuk sebuah sejarah evolusi manusia, perkembangan luar biasa dari sebuah bayi yang merangkak perlahan sampai ia mampu mengumpat isi dunia.

Sudah 22 tahun saya bernafas dan saya merasakan perubahan yang luar biasa.
Dari bayi saya baru bisa bicara "es teh" yang saya lafalkan menjadi "eceh.." sampai sudah bisa merayu Britney Spears, dari remaja yang masih memakai seragam putih abu-abu sampai sudah punya seragam petugas kebersihan jalan tol. semuanya saya syukuri.

Ucapan-ucapan dan tradisi-tradisi orang yang sedang berulang tahun sudah saya terima minggu kemarin, dimana saya dimasukkan kedalam kolam ikan sampai akhirnya mencoba bernafas menggunakan ingsan ternyata malah batuk-batuk dan kulit saya berubah jadi sisik ikan louhan.

Lalu ketika saya ditanya tentang apa harapan dan keinginan ketika saya berulang tahun hari ini?
Saya jawab: tidak tahu.
Kenapa? Karena saya memang tidak tahu sedang menginginkan apa. Sempat saya pengin dihadiahi Pulau Bali atau Diwarisi Hotel JW Marriot beserta Tol Surabaya-Malang namun itu semua tidak mungkin, karena selain saya bingung mengelolanya, saya juga tidak pandai jaga di gerbang tol.

Hidup saya masih biasa-biasa saja, saya sendiri tidak mau terlalu menonjol, apa yang saya terima sampai detik ini saya syukuri dengan penuh perasaan berbunga dan berkumbang.
Pekerjaan dengan tingkat kerawanan yang tinggi saya jadikan alat untuk menghalalkan hidup saya sendiri.

Toh, memang tidak mudah hidup ini.
Kenyataannya kita harus bersandiwara dan berbalik tujuan dengan hati kita sendiri, tapi itulah hidup. Tidak semua keinginan pribadi bisa dipenuhi, sebab kita memang bukan seorang Michael Jackson yang bisa membeli barang dengan jari telunjuknya, kita manusia biasa yang tidak bisa terbang dan tidak punya insang di ketiaknya.

Saya selaku pimpinan anak cabang perkumpulan manusia setengah jomblo mengucapkan selamat makan ehh.. Terima kasih atas semua yang sudah banyak orang lakukan sampai saya bisa seperti ini, bukan pencapaian yang mudah karena tidak mungkin bisa saya gapai sendiri.
Sekali lagi terima kasih, seperti kata Ariel Noah di akhir konsernya: "kalian luar biasa!!, Demi Tuhan!!!"

Sabtu, 18 Mei 2013

Menggenjot Sepeda

Bebas polusi dan sehat, begitulah slogan yang selalu dikoarkan oleh mayoritas pecinta sepeda, sebenarnya bukan hanya itu.

Saya sendiri suka naik sepeda karena belum bisa kredit motor Suzuki Satria, itu sebabnya betis saya selintas mirip perut kucing hamil.



Setiap kali pulang ke Surabaya, minggu pagi (pagi sekali) saya sudah mengayuh sepeda, tujuan saya pasti ke tempat kesenian, gedung-gedung tua dan ujung-ujungnya ke Car Free Day.

Keren, kalau saya lihat satu jalan orang-orang naik sepeda bareng.

Sama keluarga, anak di bonceng di belakang, sama teman sekolah beriringan, sama pacar mungkin pacarnya diikat di ban belakang biar kelihatan mesranya.



Saya sudah lupa kapan terakhir kali ke Car Free Day, sekarang minggu pagi saya diisi dengan nyetrika baju.

Aduh, berbanding terbalik ya?



Tapi tidak untuk minggu kemarin, saya mengikuti Fun Bike yang diadakan untuk memperingati HARDIKNAS (hari menghardik nasional) tempatnya di GOR Ken Arok Malang.

Pikiran saya bakal banyak akademisi yang mengikuti Fun Bike ini, ternyata itu salah, sama sekali tak terlihat ada pelajar disini. yahh.. Barang satu-dua mahasiswa sih ada.

Malah lebih banyak bapak-bapaknya, ada yang rambutnya sudah putih mengkilat, ada yang kumisnya sudah mirip buntut kuda juga.

Tidak tepat sasaran, begitulah menurut saya.



Cukup dengan membeli karcis RP 20.000 peserta sudah mendapatkan satu kupon undian.

Fun Bike kali ini terdiri dari dua rute, 15 km dan 30 km.

Jujur saya gengsi kalau mau ambil jalur 15 kilo, akhirnya saya ambil yang 30 kilo walau akhirnya lidah saya jadi mirip dasi dan engsel kaki rasanya mau "njepat". ("njepat" ini bahasa Surabaya, saya ngga ngerti apa bahasa Indonesianya)



Selama perjalanan saya habiskan waktu sambil nelfon, dengerin musik, nyapa orang-orang dijalan sambil melambaikan tangan mirip Ratu Elizabeth keluar Istana dan memberi semangat peserta bapak-bapak yang tidak kuat di tanjakkan.



"ayo pak.. Ayo pak.. Kurang 200 meter lagi" kata saya memberi semangat, walau si bapak sudah tahu kalau rutenya masih kurang 20 kilo lagi.



Garis finisnyapun sama, berada di Gor Ken Arok juga, ditempat sudah ada penjual pernak-pernik sepeda, hasil jepretan foto, hiburan musik dan undian Door Prize ( Door = pintu, Prize =hadiah, Door Prize = berhadiah pintu)

ada kulkas, sepeda, hp dan motor yang akan diundi.



Melihat ratusan peserta dan setiap peserta masing-masing membawa karcis undian lebih dari dua saya jadi tidak tertarik ke depan panggung, saya pasrahkan selembar karcis pada yang diatas.

(emang siapa yang diatas? Tuh lihat, burung perkutut.)



Sepeda saya naikkan kembali ke Truk lalu saya memilih berteduh di selasar Gor Ken Arok, semakin tak yakin dengan peluang membawa pulang hadiah utama saya beranjak dari tempat dan naik ke truk.



Di dalam truk saya tertidur cukup lama, tahu-tahu sudah tiga kali bulan puasa saya lewati dengan tidur di truk.



Bukan karena hadiah yang besar kita seharusnya bersepeda, polusi tidak bisa hilang dengan semboyan atau jargon-jargon di sepanjang jalan.

Sebab kucing tidak bisa mengendarai Honda Vario, kambingpun belum punya SIM A untuk mengemudi Toyota Avanza.

Lalu siapa lagi yang akan peduli?



Di ujung-ujungnya memang saya jadi seperti ketua komunitas penanam bakau dan penggagas penanaman sejuta pohon di kebun teh gini.
Padahal saya sendiri sepedapun pinjam.
Ck...

Selasa, 14 Mei 2013

Menulis Lagi

Rama, sesosok pria yang gagah, segagah Rano Karno di tahun 90an ternyata punya masalah soal asmara.

Dirinya sedang dilanda rindu berat pada Shinta yang diculik Hanoman.
Terbesit di pikiran Rama untuk meng-sms Shinta, namun sayang jaman dulu belum ada operator yang memfasilitasi sms.

Jalan satu-satunya adalah menulis surat, semalaman penuh Rama memaksimalkan praktek ilmu perang dalam menulis surat cinta.

Tak kuasa untuk menulis sesuatu yang lebay, semalaman bergadang Rama hanya menuliskan:
"aku kangen kamu, beib"

***

Sebernya sudah lama saya ingin nulis lagi, tapi entah kenapa salah satu hobi saya ini tersendat-sendat.
Hari demi hari minggu ke minggu ada banyak kejadian konyol yang tak tertulis.

Waktu pertama masuk kerja, gimana saya salah masuk ruangnya bos, gimana saya tersesat di Malang tak tahu jalan pulang dan tenggelam dalam lautan luka dalam.
Semuanya tak sempat tertuliskan.

Niat saya sudah mulia, hape saya aktifkan mau ngetik sesuatu tapi tiba-tiba perut saya terdengar suara blender, ya udah makan dulu, habis makan selonjoran dulu kali ya?
Habis selonjoran di kasur masalah perut merambat ke mata. Tiap kali habis makan siang mata saya ini kayak abis ketetesan air cuka, pedih sekali.

Okelah, tidur dulu barang 10 menit.
Tapi memang setan harus diakui mempunyai daya pikat luar biasa dibanding Dorce Gamalama, tidur siang 10 menit yang saya rencanakan bablas sampak sore.

Dari menulis saya mengerti betapa pentingnya waktu luang, selama ini saya sudah terpojok oleh jam kerja dari subuh sampai larut malam kadang saya belum tidur.
Ya memang seperti ini resiko menjadi penjaga lilin ya?
Ketiup dikit bisa mati babi ngepetnya.

Ini saya juga maksa-maksa diri buat nulis sesuatu setelah sekian lama ngga nulis, banyak dari teman saya yang menanyakan kok blog saya lama ngga di update?
Saya jawab enteng saja, saya lupa password blog sendiri gara-gara pas mau tidur saya berusaha mengosongkan pikiran, paginya bangun saya lupa nama, password blog dan lupa jenis kelamin sendiri.

Segini saja dulu tulisan pemanasan saya, besok-besok kalau ada waktu saya bakal nulis lagi.

Salam Olahraga!.

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top