Minggu, 27 Oktober 2013

Bergandengan Tangan

Saya sedang dikamar sambil internetan dikasur tiba-tiba hape saya menderingkan sebuah pesan singkat dari adik saya berbunnyi: "mas, buruan sarapan ditungguin dibawah"

Keluarga saya sedang dijajah elektronik.
Dari lantai bawah ke atas saja harus memanggil pakai sms, coba bayangkan ditahun 90an awal, mungkin bapak saya akan memanggil anaknya ini dengan mengirim surat ke kamar lalu diambil lagi karena lupa ditempelin perangko.

Dan baru saja saya ngobrol sama saudara saya di Semarang, pertanyaan pertama masih enak "bagaimana kabarnya?" pertanyaan kedua sedikit berbau ekonomi "tabungannya udah banyak belum?" pertanyaan ketiga ini yang sempat membuat jantung saya pindah ke kana.

"lha, kamu udah punya pacar belum?"


***

Pemirsa, camkan baik-baik.
Bahwasannya mencari pacar itu tidak semudah membalik telapak kaki kuda, mungkin itu untuk sebagian lelaki saja emmmm... termasuk saya kali ya?
Tapi tolonglah hargai kaum adam sesuai dengan harga pasarannya,  jangan bertanya soal pacar secara frontal seperti ini contohnya:

Esmeralda: kau mau kemana malam minggu nanti?

Pedro: aku mau pergi nonton film romantis

Esmeralda: oh ya!, sama siapa?

Pedro: sebenarnya sih...

Esmeralda: ah, pasti sendirian ya? kamu masih jomblo? belum nemu juga? kasian.. yang tabah yaa...

yap!, setidaknya seperti itu cukup menyakitkan, menusuk batin dan bisa memindah jantung ke sebelah kanan.

Puluhan orang tua memberi tahu saya harus mencari calon istri yang baik, yang pengertian, sopan, agamanya bagus dan nilai tambah kalau bisa bantu kerja.
saya juga selalu merasa sesak nafas kalau harus mencari yang seperti itu, untuk sekedar merayu nenek-nenek saja saya masih bingung harus memberi bunga mawar atau sarung pantai.

Semuanya buruk, saya nggak ngerti apa-apa soal pacaran. disekolah sejak SD sampai baru kemarin lulus dari Oxford belum pernah saya diajari tentang kalkulasi mencari istri, itulah sebabnya saya kagok sekali kalau pacaran.
Untungnya, Valentine itu terjadi sehari dalam setahun, kalau saja setiap hari kamis itu Valentine saya akan membeli kain putih setiap rabu untuk dikibarkan disamping rumah sebagai tanda menyerah.

Mencari pacar itu tidak mudah, sungguh tidak mudah (buat saya), saya sudah kenal dengan gadis mulai yang cantik sampai yang agak ganteng semuanya susah saya masuki pintu hatinya karena ternyata hati perempuan itu tidak berpintu, sudah saya coba pendekatan dengan metode merayap, berjalan perlahan sampai ilmu menghilang dan tetap tidak berhasil.

saya putus asa?
tidak, 'cuman rodok mangkel!' (bahasa jawa, artinya: kamu sudah makan?)
bolak-balik akeh sing takok, koen wis duwe pacar durung? (bahasa jawa lagi, artinya: jangan lupa sarapan dan jangan lupa minum susu keledai)
mungkin salah saya juga, dari waktu yang saya luangkan untuk keluar yang kata teman saya mencari kenalan, saya malah sibuk memotret gedung-gedung tua dan mencari tau soal keberadaannya di masa lalu. tidak.. tidak begitu pemirsa, saya masih normal kok, saya nggak bakalan nikah sama gedung lumutan.

Jadi kesimpulannya, jangan terlalu memojokkan kaum yang tertindas asmaranya, kirim kami doa setiap hari agar dengan senang hati melihat kalender bahwa hari sabtu hari dilewati dengan bergandengan tangan.
karena saya.... emmmm... sudahhh.... saya sudah lupa cara bergandengan tangan.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Bina Yunior

Sore itu menjelang Maghrib saya baru saja dibelikan bola plastik oleh Budhe saya, benda yang waktu itu saya anggap ajaib karena bisa membuat saya bersumpah untuk menjadi pemain sepak bola, sedikit konyol memang karena saya yang mungkin sejak kecil sudah ditasbihkan menjadi model harus bersusah payah menjadi pemain bola.

Sepak bola adalah racun positif bagi saya, racun itu datang dari Pakdhe saya, setiap kali ada pertandingan Persebaya saya selalu diajak menonton, entah itu di TV, di stadion maupun mendengarkan radio di pojok rumah dan hanya berdua. Ini urusan laki-laki pikirku.
Dari beliau saya tahu banyak hal tentang Sepak bola, mulai pemain-pemain sampai fanatisme tentang stiker bertuliskan "PERSEBAYA IDOLAKU" yang ditempel dipintu kamarnya.

Berbekal bola plastik tersebut saya tak kenal waktu dan tempat saat bermain bola, dijalanan, di teras rumah, ruang TV sampai ruang tamu, lawannya jelas tak asing lagi yaitu Pakdhe saya sendiri dan hal ini sudah memakan korban jam dinding yang terjatuh sampai pecah dan kaca almari ruang tamu pecah pula kena tendangan saya Sungguh masa kecil yang binal.

***

"Gus, kamu mau ikut Sekolah Sepak Bola nggak?" tanya Pakdhe saya
saya tak berpikir panjang dan saya rasa di otak saya waktu itu tidak ada kata "tidak mau".
Mulai minggu itu pula saya berlatih sepak bola secara Profesional di "Sekolah Sepak Bola Bina Yunior Surabaya" yang di asuh langsung oleh Om saya yang pemain Timnas dan pemain Persebaya, Yusuf Ekodono. (Where are you now, my coach?)



Setiap minggu pagi saya diantar oleh Pakdhe saya ke tempat latihan tersebut dan saya masih ingat betul saya bernomor punggung 2 dengan kaos berwarna merah.
Gugup, Malu saya rasakan ketika pertama kali masuk SSB, saya tak kenal siapapun disini, tapi ternyata ada satu anak yang sebelumnya sudah saya kenal, Fandi Eko Utomo, putra dari Om saya yang pemain Timnas tersebut.
Semua teman berlatih sangat bersahabat namun saya merasa lebih 'klop' dengan Fandi. Latihan mengoper bola, berlari memutari lapangan semuanya kami bersebelahan yang beda mungkin hanya saat bertanding lawan Tim lain Fandi lebih sering menjadi pemain inti dan saya lebih akrab dengan kursi penonton.

Lewat  Bina Yunior pula saya dekat dengan Pemain-pemain Persebaya kala itu, saat persebaya mampu menjuarai liga Kansas pada musim 1996-1997 saya beserta Pakdhe saya diundang dalam pesta perayaan juara Persebaya di kediaman Om Yusuf, berbaur menyatu dengan tim official dan semua pemain Persebaya sungguh pengalaman yang luar biasa di masa kecil saya.

Sempat pula kala itu saya berfoto dengan pemain Persebaya yang bernama Jackson F Tiago dan Carlos De Mello, saking girangnya foto tersebut saya bawa kemana-mana termasuk saat disekolah, namun sekarang entah dimana foto kesayangan saya tersebut, hilang tak diketahui letaknya.

Berlangsung hanya kurang lebih 2 tahun saya aktif, setelah itu dunia menarik saya dari persepakbolaan klub menjadi tim bola kampung, saya lepas dari struktur pelatihan yang teroganisir karena kesibukan Pakdhe saya. sekian tahun lamanya saya tak bertemu dengan Om Yusuf dan Fandi sampai terkhir kemarin saat saya melihat Final Timnas U-23 mampu menjuarai kompetisi ternyata ada salah satu pemain disebut oleh komentator bernama "Fandi Eko" saya terkejut, teman kecil saya itu sekarang benar-benar menjadi pemain sepak bola.

Menurun bakat dari ayahnya, Fandi kini bergabung dalam squad Timnas U-23.

Teruslah berkarya mengukir prestasi cemerlang teman kecilku, sungguh membanggakan pernah berkenalan denganmu.
Tetap rendah hati dan secemerlang minggu pagi saat kita latihan bersama.

Rabu, 02 Oktober 2013

Mengantuk

Selamat malam.
Saya menuliskan ini semua ketika situasi dalam keadaan sepi, angin malam berhembus dingin, mendung merata dilangit dan mata saya. Ngantuk. Itu dia!.
Sebuah fenomena alam yang identik dengan mata berkedut, mata merah dan mau loncat, itu semua terjadi kalau tubuh kita kurang akrab dengan kasur.

Masalahnya, setelah bekerja waktu tidur saya jadi tidak efektif.
Pagi bisa masih tidur karena malam begadang kerja, ini kerja ya, bukan dugem, siang bisa tidur karena paginya belum sempat tidur, sore bisa ketiduran karena tidur siang tidak maksimal, tidur malam bisa sampai tembus siang karena saking capeknya.
Terus, kapan saya kerja?

Nah itu dia, jam kerja saya sebenarnya sudah terjadwal rapi, namun diluar jam kerja ternyata masih ada antek-antek Belanda yang memanggil saya untuk membantunya kerja.
Dari sini saya merasa bahwa, apa saya ini cowok panggilan?
Oh tidak!, saya bukan cowok yang bisa dibayar perjam! (tapi per hari)

Hampir setiap malam begadang, cari uang buat nyicil kutang.
Sampai-sampai saya yang tidak terbiasa ngopi, jadi nyruput-nyruput kopi, ternyata kopi itu tidak terlalu berpengaruh ya?
Yang namanya ngantuk itu cuman bisa diterapi dengan bantal, bukan kopi!.
Anehnya setiap kali saya habis ngopi untuk mengurangi ngantuk malah ngantuk saya datang tambah parah.
Ternyata minum kopi jangan terlalu banyak, kemarin saya minum satu teko kopi, bukannya melek malah tak sadarkan diri.

Bekerja larut malam hampir disetiap hari juga bikin badan cepat capek.
Sering saya ketiduran di masjid gara-gara ngga kuat nahan ngantuk.
Sempat juga pas Imam di Masjid memimpin berdoa, jamaah yang lain khusyu menengadahkan tangan sambil mengamini ternyata saya lebih khusyu dari mereka, kaki saya menyilang, tangan saya merapat, kepala saya merunduk. Saya tertidur.

Pada dasarnya memang bekerja itu butuh pengorbanan, waktu dan tenaga.
Waktu saya tersita berjam-jam yang membuat saya susah nemu jodoh (emm.. Mungkin ini salah satu penyebabnya...) tenaga saya terkuras, tak lagi sekuat kuda.
Dokter mungkin akan berkata:
"hutang tidur anda sudah menumpuk, cobalah sekali-kali membayar hutang tersebut"
Betul, hutang tidur saya sudah menumpuk, saya sudah mencoba mencicilnya dengan tidur sepanjang weekend, hasilnya apa?
Saya malah semakin jauh dengan dunia percintaan anak muda, jodoh semakin jauh, prestasi asmara tidak pernah sampai puncak dll.

Tapi biarlah, saya bersyukur atas semua ini, saya menikmati kelelahan saya, tidak semua orang bisa melewati semua ini.
Dan saya yakin saya bisa.
Bisa ngantuk maksudnya...

02:49 WIB
Malang, 02-10-2013

Senin, 27 Mei 2013

22 Tahun

Bukan waktu yang pendek untuk sebuah sejarah evolusi manusia, perkembangan luar biasa dari sebuah bayi yang merangkak perlahan sampai ia mampu mengumpat isi dunia.

Sudah 22 tahun saya bernafas dan saya merasakan perubahan yang luar biasa.
Dari bayi saya baru bisa bicara "es teh" yang saya lafalkan menjadi "eceh.." sampai sudah bisa merayu Britney Spears, dari remaja yang masih memakai seragam putih abu-abu sampai sudah punya seragam petugas kebersihan jalan tol. semuanya saya syukuri.

Ucapan-ucapan dan tradisi-tradisi orang yang sedang berulang tahun sudah saya terima minggu kemarin, dimana saya dimasukkan kedalam kolam ikan sampai akhirnya mencoba bernafas menggunakan ingsan ternyata malah batuk-batuk dan kulit saya berubah jadi sisik ikan louhan.

Lalu ketika saya ditanya tentang apa harapan dan keinginan ketika saya berulang tahun hari ini?
Saya jawab: tidak tahu.
Kenapa? Karena saya memang tidak tahu sedang menginginkan apa. Sempat saya pengin dihadiahi Pulau Bali atau Diwarisi Hotel JW Marriot beserta Tol Surabaya-Malang namun itu semua tidak mungkin, karena selain saya bingung mengelolanya, saya juga tidak pandai jaga di gerbang tol.

Hidup saya masih biasa-biasa saja, saya sendiri tidak mau terlalu menonjol, apa yang saya terima sampai detik ini saya syukuri dengan penuh perasaan berbunga dan berkumbang.
Pekerjaan dengan tingkat kerawanan yang tinggi saya jadikan alat untuk menghalalkan hidup saya sendiri.

Toh, memang tidak mudah hidup ini.
Kenyataannya kita harus bersandiwara dan berbalik tujuan dengan hati kita sendiri, tapi itulah hidup. Tidak semua keinginan pribadi bisa dipenuhi, sebab kita memang bukan seorang Michael Jackson yang bisa membeli barang dengan jari telunjuknya, kita manusia biasa yang tidak bisa terbang dan tidak punya insang di ketiaknya.

Saya selaku pimpinan anak cabang perkumpulan manusia setengah jomblo mengucapkan selamat makan ehh.. Terima kasih atas semua yang sudah banyak orang lakukan sampai saya bisa seperti ini, bukan pencapaian yang mudah karena tidak mungkin bisa saya gapai sendiri.
Sekali lagi terima kasih, seperti kata Ariel Noah di akhir konsernya: "kalian luar biasa!!, Demi Tuhan!!!"

Sabtu, 18 Mei 2013

Menggenjot Sepeda

Bebas polusi dan sehat, begitulah slogan yang selalu dikoarkan oleh mayoritas pecinta sepeda, sebenarnya bukan hanya itu.

Saya sendiri suka naik sepeda karena belum bisa kredit motor Suzuki Satria, itu sebabnya betis saya selintas mirip perut kucing hamil.



Setiap kali pulang ke Surabaya, minggu pagi (pagi sekali) saya sudah mengayuh sepeda, tujuan saya pasti ke tempat kesenian, gedung-gedung tua dan ujung-ujungnya ke Car Free Day.

Keren, kalau saya lihat satu jalan orang-orang naik sepeda bareng.

Sama keluarga, anak di bonceng di belakang, sama teman sekolah beriringan, sama pacar mungkin pacarnya diikat di ban belakang biar kelihatan mesranya.



Saya sudah lupa kapan terakhir kali ke Car Free Day, sekarang minggu pagi saya diisi dengan nyetrika baju.

Aduh, berbanding terbalik ya?



Tapi tidak untuk minggu kemarin, saya mengikuti Fun Bike yang diadakan untuk memperingati HARDIKNAS (hari menghardik nasional) tempatnya di GOR Ken Arok Malang.

Pikiran saya bakal banyak akademisi yang mengikuti Fun Bike ini, ternyata itu salah, sama sekali tak terlihat ada pelajar disini. yahh.. Barang satu-dua mahasiswa sih ada.

Malah lebih banyak bapak-bapaknya, ada yang rambutnya sudah putih mengkilat, ada yang kumisnya sudah mirip buntut kuda juga.

Tidak tepat sasaran, begitulah menurut saya.



Cukup dengan membeli karcis RP 20.000 peserta sudah mendapatkan satu kupon undian.

Fun Bike kali ini terdiri dari dua rute, 15 km dan 30 km.

Jujur saya gengsi kalau mau ambil jalur 15 kilo, akhirnya saya ambil yang 30 kilo walau akhirnya lidah saya jadi mirip dasi dan engsel kaki rasanya mau "njepat". ("njepat" ini bahasa Surabaya, saya ngga ngerti apa bahasa Indonesianya)



Selama perjalanan saya habiskan waktu sambil nelfon, dengerin musik, nyapa orang-orang dijalan sambil melambaikan tangan mirip Ratu Elizabeth keluar Istana dan memberi semangat peserta bapak-bapak yang tidak kuat di tanjakkan.



"ayo pak.. Ayo pak.. Kurang 200 meter lagi" kata saya memberi semangat, walau si bapak sudah tahu kalau rutenya masih kurang 20 kilo lagi.



Garis finisnyapun sama, berada di Gor Ken Arok juga, ditempat sudah ada penjual pernak-pernik sepeda, hasil jepretan foto, hiburan musik dan undian Door Prize ( Door = pintu, Prize =hadiah, Door Prize = berhadiah pintu)

ada kulkas, sepeda, hp dan motor yang akan diundi.



Melihat ratusan peserta dan setiap peserta masing-masing membawa karcis undian lebih dari dua saya jadi tidak tertarik ke depan panggung, saya pasrahkan selembar karcis pada yang diatas.

(emang siapa yang diatas? Tuh lihat, burung perkutut.)



Sepeda saya naikkan kembali ke Truk lalu saya memilih berteduh di selasar Gor Ken Arok, semakin tak yakin dengan peluang membawa pulang hadiah utama saya beranjak dari tempat dan naik ke truk.



Di dalam truk saya tertidur cukup lama, tahu-tahu sudah tiga kali bulan puasa saya lewati dengan tidur di truk.



Bukan karena hadiah yang besar kita seharusnya bersepeda, polusi tidak bisa hilang dengan semboyan atau jargon-jargon di sepanjang jalan.

Sebab kucing tidak bisa mengendarai Honda Vario, kambingpun belum punya SIM A untuk mengemudi Toyota Avanza.

Lalu siapa lagi yang akan peduli?



Di ujung-ujungnya memang saya jadi seperti ketua komunitas penanam bakau dan penggagas penanaman sejuta pohon di kebun teh gini.
Padahal saya sendiri sepedapun pinjam.
Ck...

Selasa, 14 Mei 2013

Menulis Lagi

Rama, sesosok pria yang gagah, segagah Rano Karno di tahun 90an ternyata punya masalah soal asmara.

Dirinya sedang dilanda rindu berat pada Shinta yang diculik Hanoman.
Terbesit di pikiran Rama untuk meng-sms Shinta, namun sayang jaman dulu belum ada operator yang memfasilitasi sms.

Jalan satu-satunya adalah menulis surat, semalaman penuh Rama memaksimalkan praktek ilmu perang dalam menulis surat cinta.

Tak kuasa untuk menulis sesuatu yang lebay, semalaman bergadang Rama hanya menuliskan:
"aku kangen kamu, beib"

***

Sebernya sudah lama saya ingin nulis lagi, tapi entah kenapa salah satu hobi saya ini tersendat-sendat.
Hari demi hari minggu ke minggu ada banyak kejadian konyol yang tak tertulis.

Waktu pertama masuk kerja, gimana saya salah masuk ruangnya bos, gimana saya tersesat di Malang tak tahu jalan pulang dan tenggelam dalam lautan luka dalam.
Semuanya tak sempat tertuliskan.

Niat saya sudah mulia, hape saya aktifkan mau ngetik sesuatu tapi tiba-tiba perut saya terdengar suara blender, ya udah makan dulu, habis makan selonjoran dulu kali ya?
Habis selonjoran di kasur masalah perut merambat ke mata. Tiap kali habis makan siang mata saya ini kayak abis ketetesan air cuka, pedih sekali.

Okelah, tidur dulu barang 10 menit.
Tapi memang setan harus diakui mempunyai daya pikat luar biasa dibanding Dorce Gamalama, tidur siang 10 menit yang saya rencanakan bablas sampak sore.

Dari menulis saya mengerti betapa pentingnya waktu luang, selama ini saya sudah terpojok oleh jam kerja dari subuh sampai larut malam kadang saya belum tidur.
Ya memang seperti ini resiko menjadi penjaga lilin ya?
Ketiup dikit bisa mati babi ngepetnya.

Ini saya juga maksa-maksa diri buat nulis sesuatu setelah sekian lama ngga nulis, banyak dari teman saya yang menanyakan kok blog saya lama ngga di update?
Saya jawab enteng saja, saya lupa password blog sendiri gara-gara pas mau tidur saya berusaha mengosongkan pikiran, paginya bangun saya lupa nama, password blog dan lupa jenis kelamin sendiri.

Segini saja dulu tulisan pemanasan saya, besok-besok kalau ada waktu saya bakal nulis lagi.

Salam Olahraga!.

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top