Minggu, 19 Februari 2012

Dance Dan Konsumerisme

Karena saya sekarang ini sudah temasuk orang yang ketinggalan teknologi dan informasi, bahkan saking tertinggalnya saya jadi benci kalau lihat teman saya main hape pakai model hape yang touch screen, bukan kenapa-kenapa, jari saya itu kurang lihai pakai hape begituan.

Diam-diam saya mengutuk orang menciptakan model hape seperti itu, entahlah ini dunia yang semakin modern apa saya yang terlalu ndeso?

Kemarin sabtu siang ketika saya pulang kerja, dirumah ada adik saya nonton acara Tv di Indosiar.
Acara tersebut sungguh aneh buat saya, ada sejenis perlombaan menyanyi tapi khusus lagu-lagu Korean, semuanya berlatar Korean artist; rambut di cat warna besi karat, pipi di bedakin putih dan mungkin ditambah tinner agar mengkilat di layar kaca, penyanyi solo seperti khas musik Korean yang Slowly dan berkaitan dengan cinta, jatuh cinta, putus cinta, hati dan patah hati bergaya seperti tidak ada gerakan lain selain ke kiri dan kanan sambil kepala nunduk-nunduk mencari kontak lensa yang jatuh.

Bagi penyanyi yang berkelompok dilengkapi dengan dance-dance modern, ada yang bergaya seperti robot, ada pula yang menurut saya tariannya itu ternspirasi kepiting di bakar yang tangannya keatas memamerkan bulu ketiak.
sampai akhirnya saya tanya adik saya:
"acara opo iki?"

"apik iki"

"apane sing apik? wong sing nyanyi matane koyok gak adus seminggu ngono, sipit nemen" 

"wis ta, sampeyan iku mesti kok!"

(yang belum bisa bahasa jawa suroboyoan silahkan buka google translete ya...)

Mungkin ini yang membuat saya tertiggal, saya sangat pilih-pilih dengan yang sepele, acara Tv yang bagi orang lain menyenangkan tapi absurd bagi saya, saya langsung mengkritisi di dalam diri saya sendiri 'kenapa orang bisa suka acara seperti ini? inikan membodohi banget, inikan tidak layak dikonsumsi secara berlebihan, inikan tidak seharusnya diekspose besar-besaran dan inikan-inikan yang lain'

Mendengar kalimat terakhir adik saya, saya memilih mengalah saja sambil masuk ke kamar dan ganti baju, lima belas menit kemudian saya kembali ke ruang tamu, adik saya menghilang meninggalkan Tv menyala sendirian, saya ambil remote sambil bergumam "wahh.. ini adik saya pasti langsung latihan nyanyi bareng teman-temannya nih, sambil bawa rumbai-rumbai buat nge-dance di depan gapura kampung"

Channel Tv saya pindah ke SCTV, acara cukup memuakkan.
Sekelompok laki-laki diperlombakan nge-dance. Ya ampun rasanya sayur asem yang barusan saya makan mau keluar dari perut.
Channel saya pindah lagi ke SBO Tv, ada lagi acara interview baren anak-anak komunitas dance di Surabaya. "saya nyerah.. saya nyerah.. dimana channel  dipijak, disitu dance di junjung. kampreettt...!!!"

Saya amati lamat-lamat artis dance tersebut, dari rambut yang tebel dan berponi samping mirip Andika Kangen Band. heran jadinya, rambut seperti ini seharusnya hanya pantas bagi seorang pendekar yang sudah naik sabuk hitam yang sudah berani memandang dunia hanya dengan satu mata.

Salah satu personil dancer tersebut mengenakan kaos bermodel "U can see", laki-laki seperti ini yang menurut saya perlu ditonjok mulutnya sampai sadar bahwa baju tersebut hanya untuk perempuan berketiak putih saja, mungkin menurutnya saya akan nafsu melihat dia mengenakan baju U can see yang ketat, tidak mungkin!, jangan harap!!.
Turun ke celana dan sepatunya, nampak beda sekali memang kalau di bandingkan dengan saya. celana mereka jeans pensil dan sepatu cats (bukan sepatu kucing ya..) kalau bicarapun sambil pegang-pegangin rambutnya, apa mereka pamer rambut tebal atau memang kutu sudah lama berternak di kepalanya?

Saya tidak anti dengan modernitas tapi saya menolak keras konsumerisme.
Konsumerisme membentuk pribadi manusia menjadi sama dan tidak berkembang, padahal saya sangat memimpikan dunia ini penuh dengan perbedaan dan saling menghormati bukan semua sama dengan berlabel 'gaul', 'macho', 'keren' atau apalah.

Segalannya seperti di setting untuk menjadi "Booming" di tahun ini dan memperuntungkan satu pihak saja, manusia yang gampang tertarik arus jelas akan mengikuti semuanya sampai akhirnya muncul pedoman dalam diri mereka "ah, saya bosan dengan gaya ini, itu ada yang baru lagi"

Memang tidak ada  yang salah mengenai Dance, tapi saya geli dengan kesamaan antara satu dengan yang lain, cobalah untuk berbeda. Be Yourself!

malam tiba, malam minggu julukannya.
kebingungan menyertai saya, sampai akhirnya saya habiskan malam itu dengan bertanding Billiard melawan atlit catur dari negeri Jiran.

Minggu, 05 Februari 2012

Dalam Bingkai

Tidak ada darah seni di keluarga saya, tapi saya begitu meminatinya. Dulu sewaktu masih SMK saya sempatkan tiap sore mampir di Dewan Kesenian Surabaya hanya untuk berbincang bersama beberapa seniman dan memperhatikan papan pamflet di sebelah kiri pintu gedung kecil tersebut, sambil berharap sekaligus bertanya-tanya dalam diri "kapan ada acara seni lagi?"

begitu gila bagi teman saya ketika saya rela menjual gitar hadiah ulang tahun dari sepupu saya demi membeli tiket teater, namun tak begitu penting buat saya semua barang pribadi untuk sebuah acara seni.
Saat berada di panggung seni saya seperti berada di tempat nyaman tidak ada gangguan, saya seperti ter-refresh oleh suasana.

Hal itu terbawa sampai sekarang, sampai-sampai rekan kerja saya bilang "kamu itu ngapain kerja disini, kamu lebih pantes di dunia seni". saya sering mendengar komentar sejenis, kepahaman saya tentang organisasi seni cukup untuk melumpuhkan otak saya agar menjual idealisme, sebuah kelompok teater besar di Indonesia sekalipun tak mampu untuk menghidupi keseharian anggotanya bagaimana dengan saya yang sekedar mencintai bukan menjiwai.

karena itu saya bekerja di seni hanya sebagai pemerhati saja, sebagai penikmat saja bukan pelaku walau kadang-kadang saya suka melukis-lukis sendiri (kalau sekarang sih sudah tidak sama sekali. sibuk men)
rasa haus akan seni terbayar semalam, saat saya muter-muter Surabaya (oke, emang sendirian, ngga usah di bahas!). Tempat pertama yang saya tuju saat di Surabaya adalah Gedung Galeri Surabaya yang berada satu komplek dengan Gedung Dewan Kesenian Surabaya.

Di Galeri tersebut sedang ada pameran Seni Rupa bertajuk "Ekspresi Rupa Buana" dari Mahasiswa Program Study Seni Rupa Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Satu langkah melewati pintu, di sebelah kiri saya ada meja pengisian buku tamu. Saya tulis nama saya di buku tersebut lalu muncul seorang yang saya pikir mahasiswi di samping saya sambil memberikan kertas pamflet penjelasan acara, saya terima kertas tersebut sambil memandangi lukisan burung di tembok sebelah kiri.

"akhirnya..." hati saya mengatakan, lama sudah saya ingin berada di tempat seperti ini.
Lukisan itu seperti dunia ciptaan manusia yang dibuat dengan batas bingkai, yang membedakan adalah "batasan" tersebut, Tuhan berkarya tanpa ada batasan, sedang manusia memiliki batas sendiri
 begitu cara seniman mengkomunikasikan gagasannya, lewat goresan-goresan, mengekspersikan perasaan lewat pilihan warna-warna.

Di Sebuah Galeri pasti ada dunia-dunia ciptaan yang mugkin tak terjamah oleh pikiran nyata manusia, disini berbeda, orang bisa berkata lewat sorotan mata dari gambar seorang nenek, orang akan terangsang untuk berpikir mengenai arti dari dunia yang ada di dalam bingkai, orang akan tertarik ke dalam bingkai tersebut ketika sudah mengerti arti dari lukisan.

Saya memang tak mampu untuk mengartikan semua "dunia dalam bingkai" di sebuah Galeri, tapi saya tersegarkan oleh semua itu, semalam saya puas karena telah menemukan banyak dunia, baik yang sudah saya pahami maupun belum.

Dari sini kita akan tahu, bahwasannya seni bukanlah tempat untuk mencari rizki, tapi seni adalah metode untuk menghayati rizki. kalau toh ada seniman yang mampu berkecukupan dari seni mungkin saja dia pernah mimpi kejatuhan bulan atau bertemu dengan seorang perampok bank yang tiba-tiba taubat.

Cobalah sekali-kali untuk mendatangi Galeri seni atau nekad mendatangi acara seni, untuk sekedar menikmati dunia yang mungkin saja belum pernah kita ketahuai bahwa dunia itu ada di dalam bingkai.

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top