Sabtu, 03 November 2012

Lambung Kiri

Lama juga ngga nulis nih...

Sore hari, ketika Gatotkaca berkaca di genangan air bah, ibunya Arimbi mendatanginya.

"anakku, ngapain kamu ngaca disitu?

"mama, kenapa aku tak sehebat papa?" tanya Gatotkaca kepada Ibunya.

"memangnya, sehebat apa papamu selain bisa dapatin mama di pasar malam dulu. itupun papamu maksa-maksa banget"

"ma, aku pengen bisa terbang kayak papa" rajuk Gatotkaca di pangkuan Ibunya

Arimbi, wanita bertubuh besar ini baru mengerti maksud anaknya, lalu:
"nak, papamu itu ngga bisa terbang, dia cuma ditarik tali aja pas main film laga"

***

Sudah sebulan ini saya menempuh sebuah kursus terjun di Bandung, sangaja di tempat saya bekerja mengirimkan pekerjanya untuk memiliki spesifikasi terjun dan saya terpilih atas beberapa seleksi bersama 25 teman saya se-jawatimur.
Di bandung saya berkumpul sejumlah 247 siswa se-Indonesia ditambah lagi siswa dari Fillipina, ini cukup lumayan untuk mengetes Bahasa Inggris saya yang cuma berbendahara kata; "yes", "no" dan "I love you" saja.

Tempat saya berlatih terjun ini terletak di Sekolah Payung Udara, Batujajar yang masih termasuk di kawasan Kabupaten Bandung Barat.
Latihannya terdiri dari 4  minggu Ground Training dan 1 minggu praktek langsung penerjunan.
Ground Training terdiri dari segala macam jenis pendaratan, kemudi, pengetahuan tentang pesawat, pengetahuan jenis-jenis payung udara dll, sementara praktek penerjunan dilaksanankan pada seminggu terakhir dengan macam-macam jenis penerjunan seperti terjun malam, terjun bersenjata, terjun beban atau terjuan countainer dan terjun hutan-gunung.

Tepatnya pada hari selasa kemarin tanggal 30 Oktober 2012, saya melaksanakn penerjunan pertama dengan menggunakan payung udara G1- P (Garuda 1- Paiman) buatan CV Maju Mapan TulungAgung. Hebat juga ya orang TulungAgung ini? menciptakan Payung yang harganya puluhan juta, sementara saya menjahit kain saja sudah kesusahan dengan memasukkan benang ke jarum.

Berangkat dari asrama Batujajar pukul 05:00 waktu tempuh ke Bandara Hussein Sastranegara Bandung sekitar 45 menit, sampai di bandara Payung di tata rapi di depan menara Base Operations sementara kami melaksanakan penasan.
Saya berada di posisi Sortie 4, Run 1, pelompat nomor 8 (sortie terbagi atas 3 run, tiap run terdapat 21-22 penerjun) Saat itu kami menggunakan Pesawat 130 H Short Body dengan kemampuan angkut 64 ParaTroopers.

Saya merasakan sendiri mitos dalam penerjunan pertama yakni; kepala pusing, sering kencing dan kebelet ngising (bahasa jawa: kepingin buang air besar)
Singkatnya 3 sortie sudah melaksanakan penerjuan, tibalah Sortie saya memasuki pesawat. wajah saya yang semula merah-merona, imut-memanja berubah drastis menjadi biru kehijau-hijauan mirip katak sawah.
di dalam pesawat saya melihat semua teman-teman saya bukan seperti penerjuan tapi kok malah mirip Supporter  bola Chelsea FC yang wajahnya di cat biru ya?

Pesawat melaju ke Runaway saya ingat-ingat kembali teori-teori Penerjunan, tapi tak satunpun catatan saya ingat kecuali sebuah kalimat dari instruktur saya sebelum penerjuanan berlangsung "Semua orang pasti memiliki rasa takut, tapi kita harus mampu mengendalikan rasa takut tersebut. Jangan terlalu takut dan jangan terlalu berani"

Pesawat sudah berada di ketinggian 1200 Feet  atau sekitar 400 meter.
"Jump Master" (sebutan untuk pengatur penerjunan) berkata: "Dropping Zone (daerah penerjunan biasanya sepanjang 3000 meter) mendekat, berdiri di pintu. lampu hijau menyala. GO!!!"
saya masih ingat bahwa penerjun pertama pada run saya pada pukul 10:23.

Dengan menggunakan pintu lambung kiri dari pesawat saya terlempar sekitar 2 detik muncul hentakan dari payung saya, saya lihat keatas payung saya mengembang dengan sempurna.
Pemandangan menakjubkan yang belum, pernah saya lihat sebelumnya sangat jelas di depan mata saya. langit biru, rumah-rumah yang kecil, tumbuhan bergoyang gunung yang indah dan danau saguling yang teduh.
terhasut dengan pemandangan saya lupa dengan kemudi. kampret memang! teman saya muncul dari samping kanan saya langsung berteriak: "WOOIIII.... KANANNN.. TARIK KEMUDI KANANNN!!!" payung belum membelok jauh kanopi saya bertabrakan dengan kanopi teman saya, antisipasi saya lakukan dengan menarik kemudi kiri untuk menghindari dari payung teman saya.

saya terhindar dari tabarakan, sudah aman?
belum!. mendekati daerah pendaratan, saya kendalikan payung saya untuk "Up Wind" (pendaratan terdiri dari 3 jenis Down Wind = searah dengan angin, ini tidak boleh dilaksanakan karena payung akan terdorong angin dan mendarat dengan sangat kencang, Cross Wind = angin dari samping, ini juga tidak diperbolehkan karena dapat menyebabkan engkel keseleo, Up Wind = berlawanan dengan angin, ini yang disarankan agar mendarat dengan lebih lambat.)

Yang terjadi pada saat itu, saya mendarat dengan Cross Wind di sebuah tanah persawahan milik warga yang untungnya lumayan lembek. selamatlah saya dalam penerjunan pertama ini.
Sampai sekarang tinggal 2 kali terjun termasuk terjun terakhir hari selasa 06 November 2012 besok yang disebut "Wing Day" penerjunan dimana saya ketika mendarat akan disambut dengan penempelan Wings penerjun di dada kiri.
ingat ya, ini yang ditempelkan Wings, bukan tutup sabun wings!.

Terima kasih untuk semua orang yang sudah mendoakan saya selama menjalani kursus ini.
Tiada kesan tanpa kehadiranmu ehh... doamu. 

"WITH GOD, WE STRIKE FROM THE SKY!"

Sabtu, 17 Maret 2012

Blues Dalam Bilik

Surabaya di malam minggu, Yeah!

Disekitaran jalan menuju Gubernur Suryo sudah ada banyak penampakan yang menurut saya tidak etis bagi orang-orang yang Jomblo atau bagi Orang-orang yang masih dalam tahap rehabilitasi batin seperti saya ini.
Dimana sudut mata saya tertancap, hampir selalu yang saya lihat seorang cowok membonceng cewenya dengan tangan merangkul erat di pinggangnya. ini ngga etis men! ini nggak etis sumpah!!

Untungnya saya cukup tabah menjalani semua ini, karena saya percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan walau Ijab-Qabul ada di tangan pegawai KUA.

Kebiasaan saya adalah keluar sambil menunggangi motor tanpa tahu mau kemana, tapi malam minggu ini beda!. Saya sudah niatkan dengan sungguh untuk melihat sebuah acara musik bertajuk Rock n Roll Chronicles dengan bintang tamu yang terkenal dengan musik-musiknya yang kesetanan yakni Seringai, Superman Is Dead, Konspirasi dan Gugun and The Blues Shelter. Awalnya pihak promotor mau mengundang Syahrini juga namun undangan itu dibatalkan karena mbak Syahrini sendiri sedang Mixing album terbarunya di pedalaman Wamena.

Kabar mengenai adanya konser tersebut saya dapat dari koran Jawa Pos yang saya beli tadi pagi dan masalahnya adalah di kolom berita mengenai konser hanya tersebutkan tanggal dan artisnya saja, tempat dan HTM tidak dituliskan secara pasti.
Akibatnya, saya selaku orang yang bekerja di luar kota Surabaya dan terbatas atas info-info jadi kebingungan mau nonton dimana, tapi saya masih mampu berpikir bahwa konser sebesar ini tidak mungkin di laksanakan dilapangan parkir puskesmas.

Siang hari saya mau cari-cari Informasi dari internet lewat hape saya yang kadang cepet kadang lelet terkadang luar biasa leletnya ini, tapi kesalah besar terjadi, saya ketiduran men!

Setengah Tujuh malam saya geber motor dari depan rumah, sampai di pertigaan Gelora 10 Nopember saya melihat beberapa anak muda berkostum Street Punk, "nah ini dia" pikir saya membatin, tapi saya acuhkan untuk bertanya dimana letak Venue konser tersebut, saya memilih untuk muter-muter dulu di Surabaya dan menyambangi Galeri Surabaya. pas, melewati Taman Budaya Jatim saya melihat disitu ada acara kesenian wayang kulit. Setelah saya korek informasi dari teman-teman ternyata di taman budaya Jatim sedang ada Gelar Kesenian dari Kabupaten Gresik yang di kemas dengan Tema "Kharisma Dari Bumi Wali" mulai tanggal 16 sampai 18 Maret.

Tertarik juga saya untuk ikut nonton Wayang kulit, tapi saya masih teguh pada niat awal nonton konser.
Tiba di jalan Kusuma Bangsa motor saya hentikan di parkiran warnet Multiplus, cari-cari informasi dulu soal konser tersebut ternyata Venue berada di Jatim Expo, dimulai sejak jam 5 sore tadi, HTM bisa di pesan mulai tanggal 5 kemarin dengan harga Rp 80.000.

Apa pula ini?
Sudah tahu beritanya mepet, jam awal konser terlambat, Tiket masuk tidak punya dan pacar sedang tidak pada genggaman tangan. Sungguh nista keadaan ini.

Akhirnya saya pilih tetap di warnet ini saja sambil membaca-baca berita dari Tempo, fesbukan dan menuliskan semua ini.
akhir kata, selamat menjalankan malam minggu bagi anda yang menunaikannya. Bagi anda yang sedang tidak menunaikan dengan alasan sakit, alasan mengirim tugas atau sedang dalam proses pencarian jati diri di dunia maya saya doakan semoga lekas diangkat dari segala macam marabahaya.


*Ditulis terburu-buru selama 15 menit karena Tukang Parkir warnet bilang 'mas, masih lama? yang parkir sudah nggak ada lagi, saya juga mau pulang'

Minggu, 19 Februari 2012

Dance Dan Konsumerisme

Karena saya sekarang ini sudah temasuk orang yang ketinggalan teknologi dan informasi, bahkan saking tertinggalnya saya jadi benci kalau lihat teman saya main hape pakai model hape yang touch screen, bukan kenapa-kenapa, jari saya itu kurang lihai pakai hape begituan.

Diam-diam saya mengutuk orang menciptakan model hape seperti itu, entahlah ini dunia yang semakin modern apa saya yang terlalu ndeso?

Kemarin sabtu siang ketika saya pulang kerja, dirumah ada adik saya nonton acara Tv di Indosiar.
Acara tersebut sungguh aneh buat saya, ada sejenis perlombaan menyanyi tapi khusus lagu-lagu Korean, semuanya berlatar Korean artist; rambut di cat warna besi karat, pipi di bedakin putih dan mungkin ditambah tinner agar mengkilat di layar kaca, penyanyi solo seperti khas musik Korean yang Slowly dan berkaitan dengan cinta, jatuh cinta, putus cinta, hati dan patah hati bergaya seperti tidak ada gerakan lain selain ke kiri dan kanan sambil kepala nunduk-nunduk mencari kontak lensa yang jatuh.

Bagi penyanyi yang berkelompok dilengkapi dengan dance-dance modern, ada yang bergaya seperti robot, ada pula yang menurut saya tariannya itu ternspirasi kepiting di bakar yang tangannya keatas memamerkan bulu ketiak.
sampai akhirnya saya tanya adik saya:
"acara opo iki?"

"apik iki"

"apane sing apik? wong sing nyanyi matane koyok gak adus seminggu ngono, sipit nemen" 

"wis ta, sampeyan iku mesti kok!"

(yang belum bisa bahasa jawa suroboyoan silahkan buka google translete ya...)

Mungkin ini yang membuat saya tertiggal, saya sangat pilih-pilih dengan yang sepele, acara Tv yang bagi orang lain menyenangkan tapi absurd bagi saya, saya langsung mengkritisi di dalam diri saya sendiri 'kenapa orang bisa suka acara seperti ini? inikan membodohi banget, inikan tidak layak dikonsumsi secara berlebihan, inikan tidak seharusnya diekspose besar-besaran dan inikan-inikan yang lain'

Mendengar kalimat terakhir adik saya, saya memilih mengalah saja sambil masuk ke kamar dan ganti baju, lima belas menit kemudian saya kembali ke ruang tamu, adik saya menghilang meninggalkan Tv menyala sendirian, saya ambil remote sambil bergumam "wahh.. ini adik saya pasti langsung latihan nyanyi bareng teman-temannya nih, sambil bawa rumbai-rumbai buat nge-dance di depan gapura kampung"

Channel Tv saya pindah ke SCTV, acara cukup memuakkan.
Sekelompok laki-laki diperlombakan nge-dance. Ya ampun rasanya sayur asem yang barusan saya makan mau keluar dari perut.
Channel saya pindah lagi ke SBO Tv, ada lagi acara interview baren anak-anak komunitas dance di Surabaya. "saya nyerah.. saya nyerah.. dimana channel  dipijak, disitu dance di junjung. kampreettt...!!!"

Saya amati lamat-lamat artis dance tersebut, dari rambut yang tebel dan berponi samping mirip Andika Kangen Band. heran jadinya, rambut seperti ini seharusnya hanya pantas bagi seorang pendekar yang sudah naik sabuk hitam yang sudah berani memandang dunia hanya dengan satu mata.

Salah satu personil dancer tersebut mengenakan kaos bermodel "U can see", laki-laki seperti ini yang menurut saya perlu ditonjok mulutnya sampai sadar bahwa baju tersebut hanya untuk perempuan berketiak putih saja, mungkin menurutnya saya akan nafsu melihat dia mengenakan baju U can see yang ketat, tidak mungkin!, jangan harap!!.
Turun ke celana dan sepatunya, nampak beda sekali memang kalau di bandingkan dengan saya. celana mereka jeans pensil dan sepatu cats (bukan sepatu kucing ya..) kalau bicarapun sambil pegang-pegangin rambutnya, apa mereka pamer rambut tebal atau memang kutu sudah lama berternak di kepalanya?

Saya tidak anti dengan modernitas tapi saya menolak keras konsumerisme.
Konsumerisme membentuk pribadi manusia menjadi sama dan tidak berkembang, padahal saya sangat memimpikan dunia ini penuh dengan perbedaan dan saling menghormati bukan semua sama dengan berlabel 'gaul', 'macho', 'keren' atau apalah.

Segalannya seperti di setting untuk menjadi "Booming" di tahun ini dan memperuntungkan satu pihak saja, manusia yang gampang tertarik arus jelas akan mengikuti semuanya sampai akhirnya muncul pedoman dalam diri mereka "ah, saya bosan dengan gaya ini, itu ada yang baru lagi"

Memang tidak ada  yang salah mengenai Dance, tapi saya geli dengan kesamaan antara satu dengan yang lain, cobalah untuk berbeda. Be Yourself!

malam tiba, malam minggu julukannya.
kebingungan menyertai saya, sampai akhirnya saya habiskan malam itu dengan bertanding Billiard melawan atlit catur dari negeri Jiran.

Minggu, 05 Februari 2012

Dalam Bingkai

Tidak ada darah seni di keluarga saya, tapi saya begitu meminatinya. Dulu sewaktu masih SMK saya sempatkan tiap sore mampir di Dewan Kesenian Surabaya hanya untuk berbincang bersama beberapa seniman dan memperhatikan papan pamflet di sebelah kiri pintu gedung kecil tersebut, sambil berharap sekaligus bertanya-tanya dalam diri "kapan ada acara seni lagi?"

begitu gila bagi teman saya ketika saya rela menjual gitar hadiah ulang tahun dari sepupu saya demi membeli tiket teater, namun tak begitu penting buat saya semua barang pribadi untuk sebuah acara seni.
Saat berada di panggung seni saya seperti berada di tempat nyaman tidak ada gangguan, saya seperti ter-refresh oleh suasana.

Hal itu terbawa sampai sekarang, sampai-sampai rekan kerja saya bilang "kamu itu ngapain kerja disini, kamu lebih pantes di dunia seni". saya sering mendengar komentar sejenis, kepahaman saya tentang organisasi seni cukup untuk melumpuhkan otak saya agar menjual idealisme, sebuah kelompok teater besar di Indonesia sekalipun tak mampu untuk menghidupi keseharian anggotanya bagaimana dengan saya yang sekedar mencintai bukan menjiwai.

karena itu saya bekerja di seni hanya sebagai pemerhati saja, sebagai penikmat saja bukan pelaku walau kadang-kadang saya suka melukis-lukis sendiri (kalau sekarang sih sudah tidak sama sekali. sibuk men)
rasa haus akan seni terbayar semalam, saat saya muter-muter Surabaya (oke, emang sendirian, ngga usah di bahas!). Tempat pertama yang saya tuju saat di Surabaya adalah Gedung Galeri Surabaya yang berada satu komplek dengan Gedung Dewan Kesenian Surabaya.

Di Galeri tersebut sedang ada pameran Seni Rupa bertajuk "Ekspresi Rupa Buana" dari Mahasiswa Program Study Seni Rupa Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Satu langkah melewati pintu, di sebelah kiri saya ada meja pengisian buku tamu. Saya tulis nama saya di buku tersebut lalu muncul seorang yang saya pikir mahasiswi di samping saya sambil memberikan kertas pamflet penjelasan acara, saya terima kertas tersebut sambil memandangi lukisan burung di tembok sebelah kiri.

"akhirnya..." hati saya mengatakan, lama sudah saya ingin berada di tempat seperti ini.
Lukisan itu seperti dunia ciptaan manusia yang dibuat dengan batas bingkai, yang membedakan adalah "batasan" tersebut, Tuhan berkarya tanpa ada batasan, sedang manusia memiliki batas sendiri
 begitu cara seniman mengkomunikasikan gagasannya, lewat goresan-goresan, mengekspersikan perasaan lewat pilihan warna-warna.

Di Sebuah Galeri pasti ada dunia-dunia ciptaan yang mugkin tak terjamah oleh pikiran nyata manusia, disini berbeda, orang bisa berkata lewat sorotan mata dari gambar seorang nenek, orang akan terangsang untuk berpikir mengenai arti dari dunia yang ada di dalam bingkai, orang akan tertarik ke dalam bingkai tersebut ketika sudah mengerti arti dari lukisan.

Saya memang tak mampu untuk mengartikan semua "dunia dalam bingkai" di sebuah Galeri, tapi saya tersegarkan oleh semua itu, semalam saya puas karena telah menemukan banyak dunia, baik yang sudah saya pahami maupun belum.

Dari sini kita akan tahu, bahwasannya seni bukanlah tempat untuk mencari rizki, tapi seni adalah metode untuk menghayati rizki. kalau toh ada seniman yang mampu berkecukupan dari seni mungkin saja dia pernah mimpi kejatuhan bulan atau bertemu dengan seorang perampok bank yang tiba-tiba taubat.

Cobalah sekali-kali untuk mendatangi Galeri seni atau nekad mendatangi acara seni, untuk sekedar menikmati dunia yang mungkin saja belum pernah kita ketahuai bahwa dunia itu ada di dalam bingkai.

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top