Selasa, 26 April 2011

Ubanmu

Kemarin, saat uban dirambutmu beranak-pinak semakin banyak. tak bosan kau ucapakan bahwa usiamu telah kau sampirkan dipundakku, berulang dan berulang-ulang tak henti-henti kau sampaikan bahwa aku lelaki walau telah kusadari dari jauh hari.

"wong lanang kuwi nyandang dandang-gulo lan nuntun anak-bojo" katamu.


Aku juga tahu itu walau akhirnya berulangkali tetap kau ulangi memberitahuku dan menyisipkan banyak kalimat di lubang telingaku. Aku tak akan menghindar ketika kau membuka khutbah khusus untukku. Sebab aku tahu, ubanmu adalah pertanda kesetiaanmu memikirkanku. Tak sekalipun kusiakan Rambut putihmu itu jatuh dan terserak dilantai.

Setiamu berbanding imbang denganku meski kurahasiakan semua rasa, aku bukan orang yang pandai memanfaatkan peluang untuk mencuri perhatianmu dan aku tak mampu mengutarakan kalimat-kalimat yang melengkungkan senyummu, kupilih saja diam ketika kau ungkap rasa.

Sampai kini kita berpisah dengan tujuan laki-laki, awalnya kau bekali dengan kau ceritakan kekuatan dibalik otot, kau hamburkan serapah didepanku mengenai nyawamu yang kau tempelkan dipunggungku. Aku percaya itu.

besok, usia yang kau sampirkan dipundakku serta nyawa yang kau tempelkan dipunggungku menjelma menjadi bara di dadaku yang nantinya kupertaruhan untuk sebuah pukulan gelombang yang membesarkan diriku sendiri. Telah kusiapkan ragaku untuk mereguk tinta-tinta hitam demi kurekat di helai putih rambutmu, aku berjanji.

Berdua kita terlahir sebagai sepaket kue yang tak akan tercuil sia-sia, kesakitan yang kita terima adalah benih kebahagiaan tanaman. Kita berdua adalah tanah yang tak takut sakit dengan cangkulan-cangkulan kejam.
Tangan kita berpegang erat, nyawa kita rapat dan tubuh kita rekat.

Bapak, terima kasih kau telah membesarkanku dengan segenap kesusahan dan berbagai tanda cinta yang menjelma uban dikepalamu.
Aku tak akan lupa bahwa keringatmu pernah membasahi kerongkonganku.

Dalam hening kukatakan padamu, Bapak, percayalah. aku mampu seperti yang kau minta. Tenanglah.

Senin, 18 April 2011

Gamang

Saat ini, hampa benar aku rasa, darahku tak selancar biasanya. mereka menggumpal di dada dan membuatku sesak.
Kutarik nafasku dalam, lantas kubongkar kucari-cari cahaya bulan yang selama ini mengakrabi kamarku. Tak ada. Aku terhenyak dengan kaku semakin kuat. Gamang.

Satu jam yang lalu kau katakan tak ada lagi jalan, padahal telah kusiapkan ototku mendobrak pintu-pintu yang tak begitu rapat terkunci. Aku bukan melawan takdir, aku hanya ingin mendobraknya sekali-kali demi apa yang aku yakini.
kau tetap tak percaya, trauma dan ketakutan terus mendominasi kepalamu.
Aku hembuskan angin yang lama kau kenal, ketakutanmu tak jua padam. Padahal kemarin saat kau datang langkahmu tenang menyemai bebunga di latar, kini semua menjadi runcing penuh getar yang getir.

semenit-dua menit bersama, menyatukan pikiran dalam diskusi panjang menhghasilkan cabang yang teruntai dipiranmu sendiri. Aku jadi ingin mengutarakan sesuatu yang mungkin sudah kau tahu, namun malam itu sungguh menggumpalkan darah di tubuhku. gamang.

Gerimis turun semakin memekat langit, rembulan tersesat di dalam labirin. Cahaya-cahaya manjanya telah memudar habis terkikis.
Kucoba simpan sisa-sisa terangnya, kugenggam erat dan kuperhatikan lamat. Dia tetap anggun walau dalam jumlah sedikit.

"aku sudah berjanji, tak bisa aku terima hal yang tak kusuka" katamu "apa yang tengah dipikirkan tuhan dengan mengirim semua yang tak kusuka?"

Aku tersudut dengan pernyataanmu. Tapi kuterima kenyataan, kuhormati keputusanmu walau gamang sepanjang waktu terdiam.
kebisuan mengbungkam imajinasiku, kau bertanya banyak hal dan kujawab dengan bahasa angin sambil sesekali aku mengingau tentang "dewi" karena sedikit-banyak darahku telah tercampuri udaramu.

namun kau pahami bahasa anginku, senyumku tersungging dalam remang meski tubuhku tetap gamang
Aku teringat bahwa ujung jalan bukan berarti akhir dan kini tak ada lagi kata "mati", yang ada hanyalah perubahan wujad dari sisi koin yang lain. Kau seperti datang kembali dengan segala kegenapanmu.

"aku bukan orang yang suka berlarut dalam kesedihan" katamu memutar kalimatku dulu.
terima kasih kau telah mengenalkanku [ada tinta yang lama kutorehkan, terima kasih untuk perjalanan ini. Yang tak mudah tapi sungguh indah.

Rembulan itu masih ada, dia tersembunyi dibalik cadar hitam yang begitu jauh dari pandangan, cahaya anggunnya ada di relung-relung hati.

Ikrar kuikat diperutmu, aku menjagamu walau tak ada angin, aku memelukmu meski bulan ditunggangi kegelapan.

"aku sayang padamu"

Jumat, 01 April 2011

Damai Ala Mereka

Tak pasti saya ketahui bahwa saya ini Bonek (sebutan supporter Persebaya) apa bukan. Saya tak memahami batasan-batasan yang dapat memunculkan julukan “arek bonek”. Apakah saya harus meng-update berita sekaligus menghadiri setiap jadwal tempur punggawa Persebaya. Saya rasa esensi dari bonek bukanlah hanya sekedar berkaus hijau dan berteriak dipinggir lapangan demi mentransfer semangat pada pemain. Atau hanya melantik diri sebagai bonek hanya karena terlahir dan besar di Surabaya.

Bonek adalah jiwa, bukan jiwa yang nekad. Selama ini yang saya lihat di lapangan bahwasannya yang ada bukanlah sebuah kenekatan yang tak berbatas, saya memandang teman-teman bonek adalah sebuah “Tekad” kuat untuk menggapai sesuatu, dikarenakan disetiap komunitas perkumpulan supporter selalu saja ada oknum yang benar-benar nekad dalam segala hal dan dibumbui berita-berita miring juga kelihaian media mempublikasikan kejadian-kejadian kerusuhan dari oknum bonek tersebut semakin memperburuk dan menempelkan label “anarkis” dalam setiap kaos hijau yang dikenakan bonek.

Dan pagi ini, ketika saya mampir dari sebuah situs yang memuat tulisan-tulisan dari wadah salah satu supporter di jatim-yang namanya tak perlu saya sebutkan-. Ada tulisan dari supporter tersebut dengan judul provokatif dan menyisipkan nama bonek dalam judul tulisannya.

Isinyapun saya nilai memperburuk citra antara bonek dengan suporter tersebut, dia (penulis artikel tersebut) menyebut komunitasnya sebagai suporter yang cinta damai sambil menciptakan percik api provokasi pada bonek. Sampai disini arti “damai ala suporter”-pun menjadi rancu, mungkin menurut suporter tersebut damai ala suporter adalah kedamaian yang dibentuk karena “kesamaan musuh”.

Betul, mereka mungkin mengadaptasi kata sifat -damai- sebagai landasan sebuah kongsi antar suporter yang memusuhi bonek. Damai mereka terbentuk karena mereka sama-sama memusuhi bonek. Apakah ini yang disebut damai? Tentu tidak. Damai itu tidak memprovokasi atau menyudutkan kelompok suporter lain dan damai bukan bernyanyi memperolok suporter lain sambil bersembunyi di balik gelar “suporter santun”
Damai ala suporter adalah totalitas dalam mendukung tim masing-masing serta menerima perbedaan karakter antar suporter.

Walau saya tak tahu pasti, saya ini bonek apa bukan. Tapi muncul rasa sakit hati dalam diri saya setelah membaca artikel yang menyudutkan bonek tersebut. Namun hal ini tidak serta-merta menumbuhkan rasa benci saya pada suporter tersebut, karena saya yakin sebagian suporter memiliki kebesaran jiwa untuk menerima perbedaan walau perbedaan yang dituang dalam tulisan itu sungguh menyakitkan saya. Saya terima, lebih-lebih karena saya bukan mereka, kita pantang untuk memperolok suporter lain sambil bertopeng dengan sebutan suporter terbaik.

Kalau boleh saya mewakili bonek, saya tidak akan memusuhi mereka yang memusuhi bonek. Sebab di Surabaya, sebab dari Persebaya saya mendapatkan ilmu kebesaran jiwa. Kebesaran jiwa karena suporter yang disebut bonek dimana-mana selalu dicecar oleh kabar miring karena satu-dua orang yang membuat keributan tapi tetap berusaha untuk merubah citra, sementara kelompok lain mengumpat bonek secara massal namun lolos dari predikat anarkis dengan alas an cinta damai yang mereka buat sendiri.

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top