Jumat, 04 Maret 2011

Mogok Bersinar

Bukan perkara setan atau dukun yang secara iseng membunuh langit, tapi ini sebuah utusan abstrak pada sebuah bumi, langit dan matahari. Bertahun-tahun jutaan bahkan milyaran bumi berputar pada poros yang sama. langit juga begitu tak ada yang aneh jika suatu saat berubah wajahnnya menjadi sangat sendu.

Pun, matahari. Bentukanya simpel, bundar dan berpendar cahaya sengit. Namun jangan kau tanyakan kenapa dia pergi dari langit beberapa hari ini. Akupun tak berani katakan dia sedang memberontak Tuhan untuk mogok bersinar.

***

GEGER PANEN.
Bulan ini, tepatnya akhir februari. Beberapa petani padi seperti mendapat petuah padi yang melimpah, tak ada hama tikus yang mengganggu ketentraman sawahnya seperti penanaman jagung musim kemarin.

Sejurus kemudian muncul kesibukan selain mempersiapkan tanah -digemburkan kembali untuk ditanami- yakni “mepe gabah” atau mengeringkan gabah, dan yang menjadi masalah bukanlah metode tradisional dalam “mepe gabah” ini, tak ada yang ngedumel kecapekan atau sesenggukan sakit akibat dehidrasi kelelahan. Bukan, bukan itu.

Mereka sudah terbiasa dengan rasa lelah, dehidrasi sudah menjadi soulmate setiap hari. Melainkan, ke-absen-an matahari beberapa hari ini yang mempersulit keadaan. Sudah berbulan-bulan menunggu panen raya, berdoa setiap saat agar terhindar dari hama, diwaktu panen matahari malah absen.

Itulah kenapa tulisan ini berjudul “geger panen” bukan “gagal panen”. Kegegeran lahir dari banyaknya padi yang hampir busuk karena basah, ditimpali dengan “gabah” yang terlanjur dihidangkan dihalaman rumah sering kerembesan air hujan. Geger!.

“yo ngene iki, le dadi wong tani urip’e rekoso”


Kata seorang wanita –yang bisa dikata sudah tua- memberitahu pada saya bahwa begitulah kehidupan menjadi petani, “rekoso” atau susah.

Sambil terus menarik “bagor” (bagor adalah bahasa semarang yang berarti terpal) untuk menjemur gabah tersebut:

“gusti, mbok njenengan paringi panas ingkang banter damel mepeni gabah niki, lho”

Kata wanita itu. Bisa saya jelaskan bahwa yang wanita katakan itu bukanlah sebuah keluhan karena keputusan langit, melainkan keinginan yang terhalangi dan Mimpi mereka yang lama tersembunyi.

Saya tak mampu berbuat apa-apa, apa saya harus terbang kelangit, membawa spanduk bertuliskan: “BERI KAMI PANAS!”, atau membagikan selebaran berikut uang suap untuk malaikat mengatur “panas banter” di desa kami. Tidak.

Mereka, orang-orang yang bagi saya istimewa. Saya tak bergerak, mata saya kaku menatap mereka, kaki saya seperti terikat kuat, tubuh saya layaknya “digubet” Naga BaruKlinting yang menyeruap dari Rawapening.

Subuh tadi sewaktu saya menjalani ritual jalan-jalan, bulan masih muncul separuh diatas pohon mangga. Beberapa jam kemudian, pukul 05:30 leher saya enggokan kearah timur dan nampaklah matahari lahir berumur satu ruas jari.

“nuwun gusti”.

Selasa, 01 Maret 2011

Nggrundel Pemerintah

Semalam ini,Di kota-kota pasti masih ada keriuhan di sebuah warung kopi. Entah sekedar menghindari istri, merundingkan judi bola atau diskusi politik. emm.. mingkin lebih tepat jika disebut "nggrundel pemerintah". mengeluh dan menjelek-jelekkan pemerintah.

"yo'opo iki? hidup bertahun-tahun kok masih saja begini!, jalanan masih berlubang, kerjo pabrik gak sugih-sugih, dipaksa bayar pajak dengan kalimat nonsens; 'orang bijak taat bayar pajak!'. tapi sampek sekarang uang pajak tak jelas jluntrungannya"

mungkin semacam itu.
Sampai pada tenggak kopi terakhir dan dalam perjalanan pulangpun, orang-orang kota berkebiasaan "nggrundel pemerintah"
Kebiasaan yang orang surabaya sebut; "wis kadung ngetel" atau sudah mendarah daging ini memang sulit ditinggalkan.

Ya, bisa dibilang "grundelan-grundelan" warga warung kopi itu sejenis petasan bisu dihalaman kantor walikota. Betul-betul bisu, walau sekencang apapun "nggrundel" di tengah malam tetap saja mewujud bisu.

Jadi untuk apa "nggrundel" pada pemerintah?

Di desa, atau saya bisa dijadikan saksi dari tempat tinggal saya sekarang di desa Candirejo - Kabupaten Semarang.
Warga sini sudah mematikan lampu kamar dan berangkat "ngimpi" pada pukul antara 20:00-21:00. Lantas bangun mendahului adzan subuh untuk kembali bekerja keras.

Tak ada keriuhan disini, jangan tanya soal warung kopi!.
Taka ada "grundelan-grundelan" tengah malam disini, yang ada hanya suara jangkrik.

Dua hari yang lalu tepatnya, sawah milik budhe saya siap panen, budhe saya bingung mencari pekerja tukang panen atau kalau disini biasa disebut "derep".
"derep" adalah semacam bekerja tanpa digajki uang.

Sebagai contoh, seseorang memiliki sawah seluas lima petak yang siap panen, namun pemilik sawah itu pastilah "ora sanggup" jika memanennya sendiri. maka pemilik sawah itu mencari pekerja "derep"



Pekerja "derep" itu berusaha -dan berlomba- mengumpulkan butir-butir gabah untuk disetorkan pada pemilik sawah. Umumnya mereka mampu mengumpulkan 4-5 karung mulai pagi-sore hari, dengan punggung yang hampir patah tentunya.

Uniknya, waktu menyetor dirumah pemilik sawah, mereka tidak seta-merta menerima lembaran uang tapi masih ada pekerjaan.
Gabah yang mereka panen harus dibagi dengan pemilik sawah dengan nilai perbandingan 1:5. satu piring untuk pekerja, lima piring untuk pemilik.

Betul!, cara pembagian cukup menggunakan piring!.
satu piring dituang didepan pekerja, lima piring dituang didepan pemilik.
betapa mahal derajat sepiring gabah disaat menghitung seperti ini.

Jelas karena saya besar dikota yang dididik dengan kepraktisan, saya melontarkan pertanyaan pada mereka:

"kenapa nggak langsung ditimbang saja? agar lebih cepat."

mereka menjawab:
"penak ngene, kok" lebih enak begini kok.

Apakah ini yang dinamakan mosi tidak percaya pada timbangan? bisa jadi!.
Mungkin mereka takut dicurangi dengan timbangan yang berat sebelah.
Maka dari itu mereka lebih memilih menggunakan cara kuno yang mereka anggap cukup praktis dan mampu mereka awasi tingkat keadilan piring itu.

Dari 4-5 karung gabah yang mereka panen, biasanya mereka hanya membawa pulang satu karung berukukan 60 kg.
Gabah 60 kg itu kalau dijual dengan harga sekarang -yang katanya turun- Rp 6000 per kilo, mereka mendapat uang Rp 360.000. Namun tak semua gabah dijual, sebagian juga untuk dimakan sendiri. Yang jelas bekerja sehari penuh mematahkan tulang punggung pasti bernilai dibawah RP 360.000 dan pekerjaan "derep" itu hanya ada empat bulan sekali, itupun kalau ada yang menyuruh "derep".

Tidak ada yang mengeluh disini, tak sekalipun saya dengar "grundelan" pada pemerintah. Tak seperti diwarung kopi kota.

Biar saja pemerintah sedikit ling-lung, biar saja "orang bijak semakin taat membayar pajak". Mereka akan tetap mempertahankan tulang punggung tetap tegap.


*foto ilustrasi dirampok dari sini

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top