Jumat, 28 Januari 2011

Pintu

Sudah sejak sore tadi, segerombol awan mendung menyulam langit agar nampak lebih gelap. Gumpalannya yang hitam menyiratkan dendam yang dalam, entah berapa kilometer sudah mereka lewati demi mencari zona pelampiasan dendam.

Angin juga sedang tak berkabar baik, suaranya mendesau tak ramah, setidaknya selama diluar rumah ada angin yang ingin merobohkan tubuh.
Dunia sedang tak baik saya pikir.

20:40
Enam buah buku diatas meja kamar saya ditambah jam tangan memandangi saya halus. Mungkin, Si Buku marah, sudah seminggu ini tak sekalipun terjamah. Oleh karena lebih seperti yang lalu-lalu. Saya lebih sering menuliskan yang mengganjal di diri daripada menyapa buku-buku itu.

"kupikir kau sedang lelah, nak"
Suara seperti pintu berderit, tapi anehnya deritnya menyerupai bahasa manusia, lebih-lebih suara itu menyapaku.
Saya menoleh 180 derajat kearah kanan dan kiri, saya pastikan tak ada yang berbicara.
Ah.. Fantasi saya sudah kelewatan.

"Tak ada yang menjamin dirimu untuk menjadi 2 yang tak adil atau menjadi 1 yang menggenapi. Semua tergantung langkahmu, melangkahlah perlahan dan berpikir pelan-pelan"

"kau ini siapa?! tidak usah sok bijak memberiku 'wejangan'!" tanyaku yang mulai sadar ada seseorang yang lain.

"kau akan menganggapku ramah di awal perkenalan, sampai tiba waktunya kau spontan membakarku"

Dari arah meja baca, leher saya putar 90 derajat ke arah kiri. Pintu kamar saya menyeruapkan nafas yang saya temu disetiap malam.

"Dihamparan salju yang dindin, jangan lagi berharap menjadi kaktus yang menebar panas sendiri. Sekalipun nyaman kau karena beda, tak akan ada yang simpati ketika kau dehidrasi"

"Kalau kau manusia, keinginanku adalah menyumpal mulutmu!" serapah saya.

"Aku yang mengawasimu saat kau sibuk disitu, aku yang mengatur temperatur kamarmu agar hangat senantiasa, mimpimupun kujaga agar tak lekang semusim"

Perlahan saya menarik nafas, menutup mata dan saya reka keadaan, saya ulang dalam pikiran.
Pintu ini tak pernah mencelakai saya, malah dia yang menjadi tabir utama dari suara orang-orang penyayang sinetron di ruang Teve.

"Mulai sekarang kau kuanggap manusia"
ucapku lamban untuk lebih memuliakan.

"Sampai kapan kau menjadi kaktus? saat lelah kau mudah terperangah. Padahal setiap inchi gurun salju bisa menganggapmu warga kehormatan bilamana kau pasrah membiarkan durimu beku"

"Aku hanya ingin menjadi diriku, kupikir tak ada orang yang berhak mengintervensi keinginanku. Apalagi kau, kayu!" balasku kesal.

Saya jadi mendelik kehadapannya, Pintu tersenyum kecil lalu meniup ubun-ubunku.

"Tak seorangpun memasang pelana dipunggungmu untuk ditunggangi, kau yang memaksa dirimu ke gunung, hingga semua merasa bingung. Larilah ke arah gletser-gletser gurun salju, biarkan tubuhmu terbenam didalamnya. jangan memaksa menjadi kaktus, karena tak akan ada yang menagis sembilu ketika kau mati layu"

Saya tercenung lama dan dalam.
Hujan, segeralah turun sebagai penawar, agar sesegera kuserap airmu melalui akar-akar.

Selasa, 25 Januari 2011

Kepada Sang Dirijen

Hal yang membahagiakan, setelah keringatmu menderas, setelah ototmu mengeras dan tenggorokanmu panas, tak ada yang memulihkannya kecuali kemenangan. Kemenangan dari "team" yang kau dukung.

Sejumlah uang yang kau tukar pada gol-gol juga pernah aku rasakan, meneriaki "wasit goblog!"pun pernah kulakukan. aku juga sempat merasakan pilu karena sebuah kekalahan. Di sepak bola memang selalu soal menang-kalah atau seri. Tapi kau dan aku tahu, tak ada apresiasi layak kecuali kemenangan.

Ya seperti yang mereka cibir, kita "supporter" bola yang menggantungkan kebahagiaan pada sebuah team. Mereka yang tidak tahu bahwa team adalah bagian dari diri kita. Gerakan-gerakan magis dari tribun supporter sempat dianggap sebagai kode etik "gangster". Tapi supporter bukan gangster, supporter adalah elemen yang sangat potensial untuk memajukan sepak bola, mungkin lebih luas lagi untuk kemasyarakatan.

Supporter mendukung team masing-masing sampai di titik rasa gengsi dengan supporter lain, ditimpali dengan kekalahan team atau mungkin karena sekelompok "supporter kematin sore" yang melemparkan kalimat kasar pada kelompok lain dan memicu terjadinya permusuhan.

Bicara tentang supporter di Indonesia tak bisa lepas dari dua kubu besar; Bonek dan The Jak. Bonek bergandengan dengan Viking Persib, Laskar Sakera dll, sedang The Jak terkotak bersama Aremania, LA mania dll.
Unik sekaligus ironis, tanpa harus bertemu bertanding kelompok-kelompok supporter ini terlibat saling hujat dengan umpatan-umpatan khas daerah masing-masing.

Dan belakangan semakin menjadi, Suppoorter benar-benar dicap sebagai gangster. kelompok perusuh. Disetiap pertangdingan baik Persikota atau Persita, Benteng mania dan Viola Extrim selalu terlibat tawuran disekitar stadion, Bonek setiapkali bertandang ke Jawa Barat juga selalu terlibat pelemparan rumah warga di daerah Lamongan dan Solo, begitupun sebaliknya. Warga Lamongan dan Solo yang di dominasi pemuda (artinya mereka juga supporter yang terwadah sebagai Pasoepati dan LA mania) membalas dengan melempari kaca kereta.
Terakhhir, dalam perjalanan Bonek ke Tangerang tercatat sudah dua nyawa melayang dan yang paling "hot" adalah berita kerusuhan Bobotoh Persib di Stadion Siliwangi Bandung.

Tapi kita tidak bisa mengurai masalah dengan kacamata kuno. Penugasan ribuan personil Polisi juga termasuk cara kuno. Malah terakhir saya dengar ada puluhan polisi melakukan perusakan markas sekaligus bentrok dengan Viking Persib. hal ini diketahui sebab Polisi melakukan perusakan sedang menggunakan seragam lengkap.
Polisi yang se-yogyanya bertugas mengamankan malah menjadi biang masalah dan saya yakin jika ada supporter mengumpat petinggi PSSI atau melemparkan botol ke arah wasit, BLI tak akan segan-segan menghukum dengan denda ratusan juta rupiah, namun ketika wasit memberi keputusan tidak adil belum pernah sekalipun wasit menerima hukuman, apalagi mau memberi teguran pada puluhan Polisi tersebut.

Padahal setinggi apapun pangkat Polisi tak akan mampu menjinakkan ribuan supporter. supporter hanya bergerak dari komando Sang Dirijen, BUKAN POLISI!
Gerakkan atraktif dan nyanyian kreatif berasal dari dirijen, tak pelak penilaian baik buruk puluhan ribu supporter tergantung dari komando Sang Dirijen.

Tak perlu muluk-muluk berbicara tentang sosiologi keberadaan supporter, menurut saya jalan keluar dari kerusuhan dan permusuhan supporter bertumpu pada Sang Dirijen ini. Karena supporter berisi dari anak-anak muda yang relatif mudah "diracuni". Bukankah ini kesempatan untuk menanamkan sportivitas dan menumbuhkan kreativitas dengan gerakan dan nyanyian yang tidak anarkis?

Bukankah saat di stadion, team kita lebih butuh dukungan daripada hujatan pada supporter lain yang belum tentu mendengarkan?

Jadi, kubu-kubu dalam supporter di Indonesia dapat kita atasi dengan komando kreatif tak anarkis dari Dirijen.
Sepak Bola ada untuk bersaudara dalam kompetisi panjang, buat apa kita saling serang. bukankah akan lebih baik jika kita menjadi fanatik pada team sendiri daripada sibuk menghhujat kelompok lain yang akan semakin memperkeruh dan jika dibiarkan anarkisme sekecil apapun dalam supporter sepak bola pasti akan berdampak pada kehidupam di luar tribun. Mungkin suatu saat warga se-surabaya perang dengan "kera-kera ngalam" atau Barudak Bandung tawuran dengan anak-anak jakarta walau tanpa ada pertandingan.

Kepadamu, Cak Hamim Gmbal (dirijen Bonek), Sam Yuli Sumpil (Dirijen Aremania), kang Ayi Beutik (Dirijen Bobotoh) saya harap, beri komando pada supporter kalian tentang hal-hal yang kreatif, menghibur dan tidak anarkis. Terasa lebih baik jika setiap orang yang belum tentu suka bola melihat pertunjukan seni yang luar biasa kompak dari tribun supporter daripada mendengar kabar bentrok supporter yang semakin banyak cibiran keluar untuk supporter.

Apa jadinya Italy tanpa Tifosi, terkenal darimana Spanyol tanpa Barca, Unggul dari apa Inggris jika tidak punya Manchester United?
Team bersandar pada Suporter, Supporter bergerak dari Dirijen.
Gunakan baik-baik kedudukan mulia kalian, Sang Dirijen.

Rabu, 12 Januari 2011

Dendam Si Pohon

Pikirku kau sudah tahu, jika seorang anak kecil dihadapkan pada sebuah pohon besar. seolah menjadi seorang Perwira yang pongah. memukuli batang pohon, menarik dedaunan dan tertawa riang.
"kamu jangan sering pukuli batang pohon, nanti Tuhan marah" kata teman saya, Mathius namanya. saya yang saat kecil tidak suka diatur-atur menganggap nasehatnya seperti asap menguap saja.

diam saja, peduli apa soal pohon?!
mereka cuma bisa diam! bodoh, dungu. tak akan tuhan mengurusi pohon senbanyak itu. toh selama ini tidak ada pohon yang diurus dengan baik, apalagi tuhan?. tuhankan hanya mengawasi manusia dari layar besar sambil ngemil. begitukah tuhan? heheh.. waktu kecil dulu seringpula saya bertanya tuhan itu seperti apa sih?

selalu begini, orang sekitar terlalu banyak mengomentari kegiatan saya. mereka menganggap saya melanggar hukum dan patut dihukum. namun kenapa juga saya terlahir keras kepala? saya tak gampang menurut keinginan orang-orang termasuk urusan memukuli pohon itu.

***

guntur berteriak kencang malam itu, suaranya masuk kealam mimpiku. menyadarkan sekian detik lalu mengambil HP di balik bantal. pukul 00:06. gila! hujan selebat ini ditengah malam. sebetulnya bunkan karena guntur itu saya terbangun, tapi ada mimpi tak indah yang mampir di otak saya, skenario pendek tentang saya yang tertembak mati bagai lakon di film-film Hollywood. bukan saya tak percaya tapi saya lebih suka tidur daripada susah-susah mengurai mimpi. tertembak mati pula.
segelap ini, sedingin ini, tak ada yang patut disyukuri kecuali bisa kembali tidur.

gemuruh dedaunan saya dengar di balik tembok kamar menambah gusar perasan, bagaimana tidak? saya baru tidur sebelas malam dan harus buru-buru bangun empat pagi.
selimut saya tarik dan berlabuhlah kembali.

04:00 HP saya teriak-teriak, suara alarm tak jelas. saya tunda sekian menit untuk bangkit dari liang kasur. menghela nafas sejenak mengusir sisa pikiran kotor saya tentang mimpi itu. lupakan!

gelap sekali pagi ini, tak ada lampu yang menerangi seperti biasa PLN sengaja mematikan listrik setelah hujan deras. saya bisa mudah menyingkirkan dingin tapi gelap ini perlu perlawanan lain. lampu HP tak sanggup melawan kegelapan ini.
jalan terakhir ya gerayangan. mau kesitu gerayangan, kesini gerayangan.

segelas susu saya pakai mendongkrak tenaga pagi itu, hangatnya mampu sedikit mengobati dingin ini.
persiapan selesai, attack the enemy! teriak batin saya.
langit masih mengucurkan keringatnya, saya hitung kembali apa-apa yang akan saya temui dingin, angin, air. itu saja.

sepanjang jalan keluar dari desa saya lewati sendiri, lagipula siapa yang mau lewat jam sepagi ini? melawan angin kencang dan dingin menyengat. mati listrik juga ampuh memnina bobokan seseorang. huhhh.. sempat juga saya mengeluh harus keluar menantang marabahaya ini.

di depan sebuah pabrik garment lampu menyala terang kontras dengan sekitarnya, ini saat nya ngebut, gas motor saya tarik 70 KM/jam sampai sejauh 100 meter dari pabrik tersebut keadaan masih lengang dan "brakkkk..." tubuh saya terpelanting dua meter dari sebuah pohon raksasa yang menyilang selebar jalan.
kaget dengan apa yang terjadi, kaki saya terkilir di bawah mesin motor, sandal mencelat tak tahu lagi berada dimana. beruntung seorang pria membantu saya mengangkat motor. saya sendiri masih "kliyengan" dengan kejadian awal hari itu.

masih tak habis pikir dibelakang saya mulai ramai orang berteriak-teriak memberitahu ada pohon besar yang tumbang. ternyata saya korban pertama.
"rrrrrrrr....." motor kembali saya nyalakan menyusuri cukup jauh sampai di pertigaan pasar karangjati ternyata ada macet akbar dari arah semarang-yogyakarta mungkin karena pohon tumbang juga. dari arah sebaliknya, arah yang saya lalui juga ada pohon tumbang. namun untunglah kali ini bisa saya lalui aman terkendali.

ada lagi, diskitar pasar babadan-ungaran, sebuah mobil entah bermerk apa, menabrak pembatas jalan dan merompalkan bemper depan dan ban sebelah kiri. tak ada waktu! saya tak mau mencari-cari berita. ada kegiatan yang lebih penting. watu gong! ya, tempat itu yang saya tuju. WATU GONG SEMARANG! JANGAN SAMPAI TERLAMBAT!.

***

apa ini balas si pohon pada saya?
apa rasa terkilir ini berasal dari dendam kesumatnya?, betul, dendam kesumat. tergantung pandai angin besar menyumat dendam itu sampai pohon tumbang melintang.

dan sekarang, manusiakan pohon. karena pohon juga punya perasaan dan dendam seperti manusia. pohon adalah manusia yang tertunda.

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top