Senin, 19 September 2011

CETRA GANDAMAYI

"aku mengandungmu lima bulan saja" kata Itnar pada bayi berkepala naga "dalam lima bulan itu aku melihat purnama sebanyak dua puluh tujuh kali, semoga kau sebenderang itu, nak"

Itnar adalah ular yang baru saja melahirkan anak berkepala naga.

"aku tahu, nak. kau tak pernah nyaman dalam perutku yang sempit, kini kau ada di rahim sungai. pada lampu sisa semalam kusabdakan pada dunia bahwa anakku akan kularungkan di sungai ini"

semuanya sudah hafal diluar kepala bahwasanya dunia tak menunggu langkah lambatmu, begitupun Itnar yang melarungkan anaknya ke sungai, melepas sekaligus merelakan anaknya bertarung sendiri dengan arus sungai

"jika dewa-dewa dan siluman-siluman alas memperkenankanmu menjadi besar, kita akan saling menari kembali, nak. anggaplah sekarang aku sebuah pedang yang berada di pinggang kirimu, sebelum kau mengambilku dari sarung pedang tanganmu harus benar-benar kokoh dan sungai deras inilah yang pantas mengepalkan tanganmu lebih kuat"

kelemahan manusia yang tidak disadari adalah kebiasaan mencari kelemahan sendiri, itu lahir karena dunia yang memperkenalkan manusia pada titik-titik extrem kelemahan seseorang, kekurangan sebuah agama dan diperdebatkan lantas muncul korban yang lantas secara frontal menilai kekurangan sendiri lalu sengaja menyingkir dan mengikat diri dari paradaban. Itnar sudah lama tahu tentang hal itu, karena itu dia bersumpah bahwa tidak ada manusia yang benar-benar manusia.

"kau tahu, nak. bau matahari di barat itu, warna senjanya yang terpantul pada atmosfer. ada mahkluk-mahkluk yang tak menyukai terang seperti kita. sebab kita tidak berjalan dengan kaki dan mata yang kita butuhkan hanya keyakinan dan aku yakin kau akan menjadi purnama dalam sungai ini, karena itu pula kita tidak butuh cahaya-cahaya benderang siang hari"

Gelap itu lebih mendidik manusia ketimbang terang, di dalam gelap manusia mampu membuat peradaban yang santun dengan tidak terlalu banyak gerakan, semenatara di dalam terang seseorang dapat dengan mudah berlari kesana kemari dan leluasa. justru, di dalam terang manusia sering lupa bahwa dirinya manusia 'surup' (bahasa jawa; perjalanan hari menuju petang) ketika burung dares manggung di pucuk tangan pohon beringin, dan dirumah sebelah sungai itu seorang istri menagisi pria setengah baya yang mati dengan dada membiru. seperti yang kita tahu bahwa di sungai ini telah terjadi pertempuran roh-roh malam dan badan halusnya terlepas untuk ikut dalam pertempuran.
karena dia kalah, badan halus tak diperkenankan kembali pada raga.

"jelas aku tak mau kau seperti itu, nak" kata Itnar yang tak mau anaknya kalah degan takdir liuk sungai "larunglah anakku, bertapalah kau di dungai ini. kuberi kau nama Cetra Gandamayi"

Selasa, 26 April 2011

Ubanmu

Kemarin, saat uban dirambutmu beranak-pinak semakin banyak. tak bosan kau ucapakan bahwa usiamu telah kau sampirkan dipundakku, berulang dan berulang-ulang tak henti-henti kau sampaikan bahwa aku lelaki walau telah kusadari dari jauh hari.

"wong lanang kuwi nyandang dandang-gulo lan nuntun anak-bojo" katamu.


Aku juga tahu itu walau akhirnya berulangkali tetap kau ulangi memberitahuku dan menyisipkan banyak kalimat di lubang telingaku. Aku tak akan menghindar ketika kau membuka khutbah khusus untukku. Sebab aku tahu, ubanmu adalah pertanda kesetiaanmu memikirkanku. Tak sekalipun kusiakan Rambut putihmu itu jatuh dan terserak dilantai.

Setiamu berbanding imbang denganku meski kurahasiakan semua rasa, aku bukan orang yang pandai memanfaatkan peluang untuk mencuri perhatianmu dan aku tak mampu mengutarakan kalimat-kalimat yang melengkungkan senyummu, kupilih saja diam ketika kau ungkap rasa.

Sampai kini kita berpisah dengan tujuan laki-laki, awalnya kau bekali dengan kau ceritakan kekuatan dibalik otot, kau hamburkan serapah didepanku mengenai nyawamu yang kau tempelkan dipunggungku. Aku percaya itu.

besok, usia yang kau sampirkan dipundakku serta nyawa yang kau tempelkan dipunggungku menjelma menjadi bara di dadaku yang nantinya kupertaruhan untuk sebuah pukulan gelombang yang membesarkan diriku sendiri. Telah kusiapkan ragaku untuk mereguk tinta-tinta hitam demi kurekat di helai putih rambutmu, aku berjanji.

Berdua kita terlahir sebagai sepaket kue yang tak akan tercuil sia-sia, kesakitan yang kita terima adalah benih kebahagiaan tanaman. Kita berdua adalah tanah yang tak takut sakit dengan cangkulan-cangkulan kejam.
Tangan kita berpegang erat, nyawa kita rapat dan tubuh kita rekat.

Bapak, terima kasih kau telah membesarkanku dengan segenap kesusahan dan berbagai tanda cinta yang menjelma uban dikepalamu.
Aku tak akan lupa bahwa keringatmu pernah membasahi kerongkonganku.

Dalam hening kukatakan padamu, Bapak, percayalah. aku mampu seperti yang kau minta. Tenanglah.

Senin, 18 April 2011

Gamang

Saat ini, hampa benar aku rasa, darahku tak selancar biasanya. mereka menggumpal di dada dan membuatku sesak.
Kutarik nafasku dalam, lantas kubongkar kucari-cari cahaya bulan yang selama ini mengakrabi kamarku. Tak ada. Aku terhenyak dengan kaku semakin kuat. Gamang.

Satu jam yang lalu kau katakan tak ada lagi jalan, padahal telah kusiapkan ototku mendobrak pintu-pintu yang tak begitu rapat terkunci. Aku bukan melawan takdir, aku hanya ingin mendobraknya sekali-kali demi apa yang aku yakini.
kau tetap tak percaya, trauma dan ketakutan terus mendominasi kepalamu.
Aku hembuskan angin yang lama kau kenal, ketakutanmu tak jua padam. Padahal kemarin saat kau datang langkahmu tenang menyemai bebunga di latar, kini semua menjadi runcing penuh getar yang getir.

semenit-dua menit bersama, menyatukan pikiran dalam diskusi panjang menhghasilkan cabang yang teruntai dipiranmu sendiri. Aku jadi ingin mengutarakan sesuatu yang mungkin sudah kau tahu, namun malam itu sungguh menggumpalkan darah di tubuhku. gamang.

Gerimis turun semakin memekat langit, rembulan tersesat di dalam labirin. Cahaya-cahaya manjanya telah memudar habis terkikis.
Kucoba simpan sisa-sisa terangnya, kugenggam erat dan kuperhatikan lamat. Dia tetap anggun walau dalam jumlah sedikit.

"aku sudah berjanji, tak bisa aku terima hal yang tak kusuka" katamu "apa yang tengah dipikirkan tuhan dengan mengirim semua yang tak kusuka?"

Aku tersudut dengan pernyataanmu. Tapi kuterima kenyataan, kuhormati keputusanmu walau gamang sepanjang waktu terdiam.
kebisuan mengbungkam imajinasiku, kau bertanya banyak hal dan kujawab dengan bahasa angin sambil sesekali aku mengingau tentang "dewi" karena sedikit-banyak darahku telah tercampuri udaramu.

namun kau pahami bahasa anginku, senyumku tersungging dalam remang meski tubuhku tetap gamang
Aku teringat bahwa ujung jalan bukan berarti akhir dan kini tak ada lagi kata "mati", yang ada hanyalah perubahan wujad dari sisi koin yang lain. Kau seperti datang kembali dengan segala kegenapanmu.

"aku bukan orang yang suka berlarut dalam kesedihan" katamu memutar kalimatku dulu.
terima kasih kau telah mengenalkanku [ada tinta yang lama kutorehkan, terima kasih untuk perjalanan ini. Yang tak mudah tapi sungguh indah.

Rembulan itu masih ada, dia tersembunyi dibalik cadar hitam yang begitu jauh dari pandangan, cahaya anggunnya ada di relung-relung hati.

Ikrar kuikat diperutmu, aku menjagamu walau tak ada angin, aku memelukmu meski bulan ditunggangi kegelapan.

"aku sayang padamu"

Jumat, 01 April 2011

Damai Ala Mereka

Tak pasti saya ketahui bahwa saya ini Bonek (sebutan supporter Persebaya) apa bukan. Saya tak memahami batasan-batasan yang dapat memunculkan julukan “arek bonek”. Apakah saya harus meng-update berita sekaligus menghadiri setiap jadwal tempur punggawa Persebaya. Saya rasa esensi dari bonek bukanlah hanya sekedar berkaus hijau dan berteriak dipinggir lapangan demi mentransfer semangat pada pemain. Atau hanya melantik diri sebagai bonek hanya karena terlahir dan besar di Surabaya.

Bonek adalah jiwa, bukan jiwa yang nekad. Selama ini yang saya lihat di lapangan bahwasannya yang ada bukanlah sebuah kenekatan yang tak berbatas, saya memandang teman-teman bonek adalah sebuah “Tekad” kuat untuk menggapai sesuatu, dikarenakan disetiap komunitas perkumpulan supporter selalu saja ada oknum yang benar-benar nekad dalam segala hal dan dibumbui berita-berita miring juga kelihaian media mempublikasikan kejadian-kejadian kerusuhan dari oknum bonek tersebut semakin memperburuk dan menempelkan label “anarkis” dalam setiap kaos hijau yang dikenakan bonek.

Dan pagi ini, ketika saya mampir dari sebuah situs yang memuat tulisan-tulisan dari wadah salah satu supporter di jatim-yang namanya tak perlu saya sebutkan-. Ada tulisan dari supporter tersebut dengan judul provokatif dan menyisipkan nama bonek dalam judul tulisannya.

Isinyapun saya nilai memperburuk citra antara bonek dengan suporter tersebut, dia (penulis artikel tersebut) menyebut komunitasnya sebagai suporter yang cinta damai sambil menciptakan percik api provokasi pada bonek. Sampai disini arti “damai ala suporter”-pun menjadi rancu, mungkin menurut suporter tersebut damai ala suporter adalah kedamaian yang dibentuk karena “kesamaan musuh”.

Betul, mereka mungkin mengadaptasi kata sifat -damai- sebagai landasan sebuah kongsi antar suporter yang memusuhi bonek. Damai mereka terbentuk karena mereka sama-sama memusuhi bonek. Apakah ini yang disebut damai? Tentu tidak. Damai itu tidak memprovokasi atau menyudutkan kelompok suporter lain dan damai bukan bernyanyi memperolok suporter lain sambil bersembunyi di balik gelar “suporter santun”
Damai ala suporter adalah totalitas dalam mendukung tim masing-masing serta menerima perbedaan karakter antar suporter.

Walau saya tak tahu pasti, saya ini bonek apa bukan. Tapi muncul rasa sakit hati dalam diri saya setelah membaca artikel yang menyudutkan bonek tersebut. Namun hal ini tidak serta-merta menumbuhkan rasa benci saya pada suporter tersebut, karena saya yakin sebagian suporter memiliki kebesaran jiwa untuk menerima perbedaan walau perbedaan yang dituang dalam tulisan itu sungguh menyakitkan saya. Saya terima, lebih-lebih karena saya bukan mereka, kita pantang untuk memperolok suporter lain sambil bertopeng dengan sebutan suporter terbaik.

Kalau boleh saya mewakili bonek, saya tidak akan memusuhi mereka yang memusuhi bonek. Sebab di Surabaya, sebab dari Persebaya saya mendapatkan ilmu kebesaran jiwa. Kebesaran jiwa karena suporter yang disebut bonek dimana-mana selalu dicecar oleh kabar miring karena satu-dua orang yang membuat keributan tapi tetap berusaha untuk merubah citra, sementara kelompok lain mengumpat bonek secara massal namun lolos dari predikat anarkis dengan alas an cinta damai yang mereka buat sendiri.

Jumat, 04 Maret 2011

Mogok Bersinar

Bukan perkara setan atau dukun yang secara iseng membunuh langit, tapi ini sebuah utusan abstrak pada sebuah bumi, langit dan matahari. Bertahun-tahun jutaan bahkan milyaran bumi berputar pada poros yang sama. langit juga begitu tak ada yang aneh jika suatu saat berubah wajahnnya menjadi sangat sendu.

Pun, matahari. Bentukanya simpel, bundar dan berpendar cahaya sengit. Namun jangan kau tanyakan kenapa dia pergi dari langit beberapa hari ini. Akupun tak berani katakan dia sedang memberontak Tuhan untuk mogok bersinar.

***

GEGER PANEN.
Bulan ini, tepatnya akhir februari. Beberapa petani padi seperti mendapat petuah padi yang melimpah, tak ada hama tikus yang mengganggu ketentraman sawahnya seperti penanaman jagung musim kemarin.

Sejurus kemudian muncul kesibukan selain mempersiapkan tanah -digemburkan kembali untuk ditanami- yakni “mepe gabah” atau mengeringkan gabah, dan yang menjadi masalah bukanlah metode tradisional dalam “mepe gabah” ini, tak ada yang ngedumel kecapekan atau sesenggukan sakit akibat dehidrasi kelelahan. Bukan, bukan itu.

Mereka sudah terbiasa dengan rasa lelah, dehidrasi sudah menjadi soulmate setiap hari. Melainkan, ke-absen-an matahari beberapa hari ini yang mempersulit keadaan. Sudah berbulan-bulan menunggu panen raya, berdoa setiap saat agar terhindar dari hama, diwaktu panen matahari malah absen.

Itulah kenapa tulisan ini berjudul “geger panen” bukan “gagal panen”. Kegegeran lahir dari banyaknya padi yang hampir busuk karena basah, ditimpali dengan “gabah” yang terlanjur dihidangkan dihalaman rumah sering kerembesan air hujan. Geger!.

“yo ngene iki, le dadi wong tani urip’e rekoso”


Kata seorang wanita –yang bisa dikata sudah tua- memberitahu pada saya bahwa begitulah kehidupan menjadi petani, “rekoso” atau susah.

Sambil terus menarik “bagor” (bagor adalah bahasa semarang yang berarti terpal) untuk menjemur gabah tersebut:

“gusti, mbok njenengan paringi panas ingkang banter damel mepeni gabah niki, lho”

Kata wanita itu. Bisa saya jelaskan bahwa yang wanita katakan itu bukanlah sebuah keluhan karena keputusan langit, melainkan keinginan yang terhalangi dan Mimpi mereka yang lama tersembunyi.

Saya tak mampu berbuat apa-apa, apa saya harus terbang kelangit, membawa spanduk bertuliskan: “BERI KAMI PANAS!”, atau membagikan selebaran berikut uang suap untuk malaikat mengatur “panas banter” di desa kami. Tidak.

Mereka, orang-orang yang bagi saya istimewa. Saya tak bergerak, mata saya kaku menatap mereka, kaki saya seperti terikat kuat, tubuh saya layaknya “digubet” Naga BaruKlinting yang menyeruap dari Rawapening.

Subuh tadi sewaktu saya menjalani ritual jalan-jalan, bulan masih muncul separuh diatas pohon mangga. Beberapa jam kemudian, pukul 05:30 leher saya enggokan kearah timur dan nampaklah matahari lahir berumur satu ruas jari.

“nuwun gusti”.

Selasa, 01 Maret 2011

Nggrundel Pemerintah

Semalam ini,Di kota-kota pasti masih ada keriuhan di sebuah warung kopi. Entah sekedar menghindari istri, merundingkan judi bola atau diskusi politik. emm.. mingkin lebih tepat jika disebut "nggrundel pemerintah". mengeluh dan menjelek-jelekkan pemerintah.

"yo'opo iki? hidup bertahun-tahun kok masih saja begini!, jalanan masih berlubang, kerjo pabrik gak sugih-sugih, dipaksa bayar pajak dengan kalimat nonsens; 'orang bijak taat bayar pajak!'. tapi sampek sekarang uang pajak tak jelas jluntrungannya"

mungkin semacam itu.
Sampai pada tenggak kopi terakhir dan dalam perjalanan pulangpun, orang-orang kota berkebiasaan "nggrundel pemerintah"
Kebiasaan yang orang surabaya sebut; "wis kadung ngetel" atau sudah mendarah daging ini memang sulit ditinggalkan.

Ya, bisa dibilang "grundelan-grundelan" warga warung kopi itu sejenis petasan bisu dihalaman kantor walikota. Betul-betul bisu, walau sekencang apapun "nggrundel" di tengah malam tetap saja mewujud bisu.

Jadi untuk apa "nggrundel" pada pemerintah?

Di desa, atau saya bisa dijadikan saksi dari tempat tinggal saya sekarang di desa Candirejo - Kabupaten Semarang.
Warga sini sudah mematikan lampu kamar dan berangkat "ngimpi" pada pukul antara 20:00-21:00. Lantas bangun mendahului adzan subuh untuk kembali bekerja keras.

Tak ada keriuhan disini, jangan tanya soal warung kopi!.
Taka ada "grundelan-grundelan" tengah malam disini, yang ada hanya suara jangkrik.

Dua hari yang lalu tepatnya, sawah milik budhe saya siap panen, budhe saya bingung mencari pekerja tukang panen atau kalau disini biasa disebut "derep".
"derep" adalah semacam bekerja tanpa digajki uang.

Sebagai contoh, seseorang memiliki sawah seluas lima petak yang siap panen, namun pemilik sawah itu pastilah "ora sanggup" jika memanennya sendiri. maka pemilik sawah itu mencari pekerja "derep"



Pekerja "derep" itu berusaha -dan berlomba- mengumpulkan butir-butir gabah untuk disetorkan pada pemilik sawah. Umumnya mereka mampu mengumpulkan 4-5 karung mulai pagi-sore hari, dengan punggung yang hampir patah tentunya.

Uniknya, waktu menyetor dirumah pemilik sawah, mereka tidak seta-merta menerima lembaran uang tapi masih ada pekerjaan.
Gabah yang mereka panen harus dibagi dengan pemilik sawah dengan nilai perbandingan 1:5. satu piring untuk pekerja, lima piring untuk pemilik.

Betul!, cara pembagian cukup menggunakan piring!.
satu piring dituang didepan pekerja, lima piring dituang didepan pemilik.
betapa mahal derajat sepiring gabah disaat menghitung seperti ini.

Jelas karena saya besar dikota yang dididik dengan kepraktisan, saya melontarkan pertanyaan pada mereka:

"kenapa nggak langsung ditimbang saja? agar lebih cepat."

mereka menjawab:
"penak ngene, kok" lebih enak begini kok.

Apakah ini yang dinamakan mosi tidak percaya pada timbangan? bisa jadi!.
Mungkin mereka takut dicurangi dengan timbangan yang berat sebelah.
Maka dari itu mereka lebih memilih menggunakan cara kuno yang mereka anggap cukup praktis dan mampu mereka awasi tingkat keadilan piring itu.

Dari 4-5 karung gabah yang mereka panen, biasanya mereka hanya membawa pulang satu karung berukukan 60 kg.
Gabah 60 kg itu kalau dijual dengan harga sekarang -yang katanya turun- Rp 6000 per kilo, mereka mendapat uang Rp 360.000. Namun tak semua gabah dijual, sebagian juga untuk dimakan sendiri. Yang jelas bekerja sehari penuh mematahkan tulang punggung pasti bernilai dibawah RP 360.000 dan pekerjaan "derep" itu hanya ada empat bulan sekali, itupun kalau ada yang menyuruh "derep".

Tidak ada yang mengeluh disini, tak sekalipun saya dengar "grundelan" pada pemerintah. Tak seperti diwarung kopi kota.

Biar saja pemerintah sedikit ling-lung, biar saja "orang bijak semakin taat membayar pajak". Mereka akan tetap mempertahankan tulang punggung tetap tegap.


*foto ilustrasi dirampok dari sini

Jumat, 28 Januari 2011

Pintu

Sudah sejak sore tadi, segerombol awan mendung menyulam langit agar nampak lebih gelap. Gumpalannya yang hitam menyiratkan dendam yang dalam, entah berapa kilometer sudah mereka lewati demi mencari zona pelampiasan dendam.

Angin juga sedang tak berkabar baik, suaranya mendesau tak ramah, setidaknya selama diluar rumah ada angin yang ingin merobohkan tubuh.
Dunia sedang tak baik saya pikir.

20:40
Enam buah buku diatas meja kamar saya ditambah jam tangan memandangi saya halus. Mungkin, Si Buku marah, sudah seminggu ini tak sekalipun terjamah. Oleh karena lebih seperti yang lalu-lalu. Saya lebih sering menuliskan yang mengganjal di diri daripada menyapa buku-buku itu.

"kupikir kau sedang lelah, nak"
Suara seperti pintu berderit, tapi anehnya deritnya menyerupai bahasa manusia, lebih-lebih suara itu menyapaku.
Saya menoleh 180 derajat kearah kanan dan kiri, saya pastikan tak ada yang berbicara.
Ah.. Fantasi saya sudah kelewatan.

"Tak ada yang menjamin dirimu untuk menjadi 2 yang tak adil atau menjadi 1 yang menggenapi. Semua tergantung langkahmu, melangkahlah perlahan dan berpikir pelan-pelan"

"kau ini siapa?! tidak usah sok bijak memberiku 'wejangan'!" tanyaku yang mulai sadar ada seseorang yang lain.

"kau akan menganggapku ramah di awal perkenalan, sampai tiba waktunya kau spontan membakarku"

Dari arah meja baca, leher saya putar 90 derajat ke arah kiri. Pintu kamar saya menyeruapkan nafas yang saya temu disetiap malam.

"Dihamparan salju yang dindin, jangan lagi berharap menjadi kaktus yang menebar panas sendiri. Sekalipun nyaman kau karena beda, tak akan ada yang simpati ketika kau dehidrasi"

"Kalau kau manusia, keinginanku adalah menyumpal mulutmu!" serapah saya.

"Aku yang mengawasimu saat kau sibuk disitu, aku yang mengatur temperatur kamarmu agar hangat senantiasa, mimpimupun kujaga agar tak lekang semusim"

Perlahan saya menarik nafas, menutup mata dan saya reka keadaan, saya ulang dalam pikiran.
Pintu ini tak pernah mencelakai saya, malah dia yang menjadi tabir utama dari suara orang-orang penyayang sinetron di ruang Teve.

"Mulai sekarang kau kuanggap manusia"
ucapku lamban untuk lebih memuliakan.

"Sampai kapan kau menjadi kaktus? saat lelah kau mudah terperangah. Padahal setiap inchi gurun salju bisa menganggapmu warga kehormatan bilamana kau pasrah membiarkan durimu beku"

"Aku hanya ingin menjadi diriku, kupikir tak ada orang yang berhak mengintervensi keinginanku. Apalagi kau, kayu!" balasku kesal.

Saya jadi mendelik kehadapannya, Pintu tersenyum kecil lalu meniup ubun-ubunku.

"Tak seorangpun memasang pelana dipunggungmu untuk ditunggangi, kau yang memaksa dirimu ke gunung, hingga semua merasa bingung. Larilah ke arah gletser-gletser gurun salju, biarkan tubuhmu terbenam didalamnya. jangan memaksa menjadi kaktus, karena tak akan ada yang menagis sembilu ketika kau mati layu"

Saya tercenung lama dan dalam.
Hujan, segeralah turun sebagai penawar, agar sesegera kuserap airmu melalui akar-akar.

Selasa, 25 Januari 2011

Kepada Sang Dirijen

Hal yang membahagiakan, setelah keringatmu menderas, setelah ototmu mengeras dan tenggorokanmu panas, tak ada yang memulihkannya kecuali kemenangan. Kemenangan dari "team" yang kau dukung.

Sejumlah uang yang kau tukar pada gol-gol juga pernah aku rasakan, meneriaki "wasit goblog!"pun pernah kulakukan. aku juga sempat merasakan pilu karena sebuah kekalahan. Di sepak bola memang selalu soal menang-kalah atau seri. Tapi kau dan aku tahu, tak ada apresiasi layak kecuali kemenangan.

Ya seperti yang mereka cibir, kita "supporter" bola yang menggantungkan kebahagiaan pada sebuah team. Mereka yang tidak tahu bahwa team adalah bagian dari diri kita. Gerakan-gerakan magis dari tribun supporter sempat dianggap sebagai kode etik "gangster". Tapi supporter bukan gangster, supporter adalah elemen yang sangat potensial untuk memajukan sepak bola, mungkin lebih luas lagi untuk kemasyarakatan.

Supporter mendukung team masing-masing sampai di titik rasa gengsi dengan supporter lain, ditimpali dengan kekalahan team atau mungkin karena sekelompok "supporter kematin sore" yang melemparkan kalimat kasar pada kelompok lain dan memicu terjadinya permusuhan.

Bicara tentang supporter di Indonesia tak bisa lepas dari dua kubu besar; Bonek dan The Jak. Bonek bergandengan dengan Viking Persib, Laskar Sakera dll, sedang The Jak terkotak bersama Aremania, LA mania dll.
Unik sekaligus ironis, tanpa harus bertemu bertanding kelompok-kelompok supporter ini terlibat saling hujat dengan umpatan-umpatan khas daerah masing-masing.

Dan belakangan semakin menjadi, Suppoorter benar-benar dicap sebagai gangster. kelompok perusuh. Disetiap pertangdingan baik Persikota atau Persita, Benteng mania dan Viola Extrim selalu terlibat tawuran disekitar stadion, Bonek setiapkali bertandang ke Jawa Barat juga selalu terlibat pelemparan rumah warga di daerah Lamongan dan Solo, begitupun sebaliknya. Warga Lamongan dan Solo yang di dominasi pemuda (artinya mereka juga supporter yang terwadah sebagai Pasoepati dan LA mania) membalas dengan melempari kaca kereta.
Terakhhir, dalam perjalanan Bonek ke Tangerang tercatat sudah dua nyawa melayang dan yang paling "hot" adalah berita kerusuhan Bobotoh Persib di Stadion Siliwangi Bandung.

Tapi kita tidak bisa mengurai masalah dengan kacamata kuno. Penugasan ribuan personil Polisi juga termasuk cara kuno. Malah terakhir saya dengar ada puluhan polisi melakukan perusakan markas sekaligus bentrok dengan Viking Persib. hal ini diketahui sebab Polisi melakukan perusakan sedang menggunakan seragam lengkap.
Polisi yang se-yogyanya bertugas mengamankan malah menjadi biang masalah dan saya yakin jika ada supporter mengumpat petinggi PSSI atau melemparkan botol ke arah wasit, BLI tak akan segan-segan menghukum dengan denda ratusan juta rupiah, namun ketika wasit memberi keputusan tidak adil belum pernah sekalipun wasit menerima hukuman, apalagi mau memberi teguran pada puluhan Polisi tersebut.

Padahal setinggi apapun pangkat Polisi tak akan mampu menjinakkan ribuan supporter. supporter hanya bergerak dari komando Sang Dirijen, BUKAN POLISI!
Gerakkan atraktif dan nyanyian kreatif berasal dari dirijen, tak pelak penilaian baik buruk puluhan ribu supporter tergantung dari komando Sang Dirijen.

Tak perlu muluk-muluk berbicara tentang sosiologi keberadaan supporter, menurut saya jalan keluar dari kerusuhan dan permusuhan supporter bertumpu pada Sang Dirijen ini. Karena supporter berisi dari anak-anak muda yang relatif mudah "diracuni". Bukankah ini kesempatan untuk menanamkan sportivitas dan menumbuhkan kreativitas dengan gerakan dan nyanyian yang tidak anarkis?

Bukankah saat di stadion, team kita lebih butuh dukungan daripada hujatan pada supporter lain yang belum tentu mendengarkan?

Jadi, kubu-kubu dalam supporter di Indonesia dapat kita atasi dengan komando kreatif tak anarkis dari Dirijen.
Sepak Bola ada untuk bersaudara dalam kompetisi panjang, buat apa kita saling serang. bukankah akan lebih baik jika kita menjadi fanatik pada team sendiri daripada sibuk menghhujat kelompok lain yang akan semakin memperkeruh dan jika dibiarkan anarkisme sekecil apapun dalam supporter sepak bola pasti akan berdampak pada kehidupam di luar tribun. Mungkin suatu saat warga se-surabaya perang dengan "kera-kera ngalam" atau Barudak Bandung tawuran dengan anak-anak jakarta walau tanpa ada pertandingan.

Kepadamu, Cak Hamim Gmbal (dirijen Bonek), Sam Yuli Sumpil (Dirijen Aremania), kang Ayi Beutik (Dirijen Bobotoh) saya harap, beri komando pada supporter kalian tentang hal-hal yang kreatif, menghibur dan tidak anarkis. Terasa lebih baik jika setiap orang yang belum tentu suka bola melihat pertunjukan seni yang luar biasa kompak dari tribun supporter daripada mendengar kabar bentrok supporter yang semakin banyak cibiran keluar untuk supporter.

Apa jadinya Italy tanpa Tifosi, terkenal darimana Spanyol tanpa Barca, Unggul dari apa Inggris jika tidak punya Manchester United?
Team bersandar pada Suporter, Supporter bergerak dari Dirijen.
Gunakan baik-baik kedudukan mulia kalian, Sang Dirijen.

Rabu, 12 Januari 2011

Dendam Si Pohon

Pikirku kau sudah tahu, jika seorang anak kecil dihadapkan pada sebuah pohon besar. seolah menjadi seorang Perwira yang pongah. memukuli batang pohon, menarik dedaunan dan tertawa riang.
"kamu jangan sering pukuli batang pohon, nanti Tuhan marah" kata teman saya, Mathius namanya. saya yang saat kecil tidak suka diatur-atur menganggap nasehatnya seperti asap menguap saja.

diam saja, peduli apa soal pohon?!
mereka cuma bisa diam! bodoh, dungu. tak akan tuhan mengurusi pohon senbanyak itu. toh selama ini tidak ada pohon yang diurus dengan baik, apalagi tuhan?. tuhankan hanya mengawasi manusia dari layar besar sambil ngemil. begitukah tuhan? heheh.. waktu kecil dulu seringpula saya bertanya tuhan itu seperti apa sih?

selalu begini, orang sekitar terlalu banyak mengomentari kegiatan saya. mereka menganggap saya melanggar hukum dan patut dihukum. namun kenapa juga saya terlahir keras kepala? saya tak gampang menurut keinginan orang-orang termasuk urusan memukuli pohon itu.

***

guntur berteriak kencang malam itu, suaranya masuk kealam mimpiku. menyadarkan sekian detik lalu mengambil HP di balik bantal. pukul 00:06. gila! hujan selebat ini ditengah malam. sebetulnya bunkan karena guntur itu saya terbangun, tapi ada mimpi tak indah yang mampir di otak saya, skenario pendek tentang saya yang tertembak mati bagai lakon di film-film Hollywood. bukan saya tak percaya tapi saya lebih suka tidur daripada susah-susah mengurai mimpi. tertembak mati pula.
segelap ini, sedingin ini, tak ada yang patut disyukuri kecuali bisa kembali tidur.

gemuruh dedaunan saya dengar di balik tembok kamar menambah gusar perasan, bagaimana tidak? saya baru tidur sebelas malam dan harus buru-buru bangun empat pagi.
selimut saya tarik dan berlabuhlah kembali.

04:00 HP saya teriak-teriak, suara alarm tak jelas. saya tunda sekian menit untuk bangkit dari liang kasur. menghela nafas sejenak mengusir sisa pikiran kotor saya tentang mimpi itu. lupakan!

gelap sekali pagi ini, tak ada lampu yang menerangi seperti biasa PLN sengaja mematikan listrik setelah hujan deras. saya bisa mudah menyingkirkan dingin tapi gelap ini perlu perlawanan lain. lampu HP tak sanggup melawan kegelapan ini.
jalan terakhir ya gerayangan. mau kesitu gerayangan, kesini gerayangan.

segelas susu saya pakai mendongkrak tenaga pagi itu, hangatnya mampu sedikit mengobati dingin ini.
persiapan selesai, attack the enemy! teriak batin saya.
langit masih mengucurkan keringatnya, saya hitung kembali apa-apa yang akan saya temui dingin, angin, air. itu saja.

sepanjang jalan keluar dari desa saya lewati sendiri, lagipula siapa yang mau lewat jam sepagi ini? melawan angin kencang dan dingin menyengat. mati listrik juga ampuh memnina bobokan seseorang. huhhh.. sempat juga saya mengeluh harus keluar menantang marabahaya ini.

di depan sebuah pabrik garment lampu menyala terang kontras dengan sekitarnya, ini saat nya ngebut, gas motor saya tarik 70 KM/jam sampai sejauh 100 meter dari pabrik tersebut keadaan masih lengang dan "brakkkk..." tubuh saya terpelanting dua meter dari sebuah pohon raksasa yang menyilang selebar jalan.
kaget dengan apa yang terjadi, kaki saya terkilir di bawah mesin motor, sandal mencelat tak tahu lagi berada dimana. beruntung seorang pria membantu saya mengangkat motor. saya sendiri masih "kliyengan" dengan kejadian awal hari itu.

masih tak habis pikir dibelakang saya mulai ramai orang berteriak-teriak memberitahu ada pohon besar yang tumbang. ternyata saya korban pertama.
"rrrrrrrr....." motor kembali saya nyalakan menyusuri cukup jauh sampai di pertigaan pasar karangjati ternyata ada macet akbar dari arah semarang-yogyakarta mungkin karena pohon tumbang juga. dari arah sebaliknya, arah yang saya lalui juga ada pohon tumbang. namun untunglah kali ini bisa saya lalui aman terkendali.

ada lagi, diskitar pasar babadan-ungaran, sebuah mobil entah bermerk apa, menabrak pembatas jalan dan merompalkan bemper depan dan ban sebelah kiri. tak ada waktu! saya tak mau mencari-cari berita. ada kegiatan yang lebih penting. watu gong! ya, tempat itu yang saya tuju. WATU GONG SEMARANG! JANGAN SAMPAI TERLAMBAT!.

***

apa ini balas si pohon pada saya?
apa rasa terkilir ini berasal dari dendam kesumatnya?, betul, dendam kesumat. tergantung pandai angin besar menyumat dendam itu sampai pohon tumbang melintang.

dan sekarang, manusiakan pohon. karena pohon juga punya perasaan dan dendam seperti manusia. pohon adalah manusia yang tertunda.

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top