Senin, 29 November 2010

Mengintip Masa Kecil

Diluar sana hujan menderas,iseng saja saya mengintip dari jendela. Nampak segerombol angin menabrak pohon jambu dengan sangat urakan.

Ditanah dataran tinggi ditambah angin yang mengoyak pakaian rasanya kita pantas menikmatinya dengan sedikit leyeh-leyeh, leha-leha atau cote-hale disebuah kursi panjang dengan suguhan es serut. oh maksud saya teh hangat.

Matahari saja sedang malas, apaladi manusianya?
mata saya menatap jauh ke langit sampai saya terbawa emosi kecil di suatu hari.

***

Buku Andrea Hirata betajuk "Laskar Pelangi" sudah pernah saya khatamkan, buku yang berkisah tentang mimpi-mimpi anak kecil yang terwujud setelah mereka dewasa.
ya, masa kecil yang hampir selalu penuh kelucuan imajinasi, karena hanya dimasa kecil kita bisa mengatakan awan yang berbentuk lumpur lapindo itu menyerupai Benua Eropa, sampai-sampai kita berani bermimpi untuk kuliah di Oxford University atau Cotnell University.
masa kecil tidak pernah mau-tau tentang apa yang terjadi kemudian. yang wajib diketahui adalah: "Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh maha mendengar"

masa kecil saya terbilang cukup labil untuk mencatat cita-cita, seusai menonton film Detektif Conan saja saya bisa meneliti segala hal yang berbau kejahatan, apalagi saat kecil saya pernah menamatkan buku Aryono Grandi -namun saya lupa judulnya- yang berlatar detektif. langsung saja saya berjalan mengendap-endap dengan gaya memegang postol padahal botol lalu bersembunyi di balik pintu dan menggebraknya sambil menembak puluhan orang padahal kamar itu kosong.
cita-cta ini terancam gagal karena saya tahu di Indonesia tidak ada SMK-Teknik Detektif, Akademi Detektif atau Kursus Detektif singkat bersertifikat ISO.

Musik favorit saya waktu kecil adalah suara-suara cadas dari band macam Jamrud.
Jamrud telah menjadi ruang tersendiri dari tubuh saya, dimana Jamrud mampu mengatur emosi saya. sontak saja saya bermimpi menjadi Rockstar, mimpi yang lucu bagi orang dewasa namun saya mengagguminya.
sampai hampir disetiap mandi sore saya latihan take-vocal sambil jingkrak-jingkrak dengan botol sampo sebagai mic-nya.

diluar rumah ada teman akrab bernama eko. si eko ini saya nilai cukup cerdas, dengan dirangsang dengan majalah Bobo Eko menerangkan pada saya proses terbentukna air mata. dimasa sekecil anak SD pula Eko bercerita pada saya ingin membuat Kincir Angin atau pembangkit Listrik tenaga angin seperti di Belanda. bayangkan! masih SD!

setiap kali Eko bercerita tentang ilmiah niat iblis saya selalu muncul untuk meracuninya dengan sepak bola. disini, dengan mencetak 2-3 gol saja saya sudah sesumbar untuk bertekad menjadi pemain sepak bola!
apalagi Om saya waktu itu pemain Persebaya bernomor punggung 12 dan tercantum sebagai pemain Timnas Indonesia. Yusuf Ekodono namanya.
semakin sombonglah saya sambil memamerkan darah sepak bola campur detektif bersuara rocker.

paginya, di SDN 252 Surabaya saya bersebelahan dengan murid pindahan dari Jawa Tengah. Ibnu namanya.
si Ibnu ini juga masuk golongan cerdas, terbukti dari berkali-kali saya mencontek tugasnya. Atas nama teman dekat, saya dan Ibnu membentuk konspirasi busuk untuk mengerjakan tugas bersama dengan Ibnu sebagai pemikir dan saya sebagai pengawas.

Ibnu teman saya ini sering sekali menawari saya pergi ke Suriname saat dewasa kelak, dan seringkali juga hanya menjawab tawarannya dengan diam saja.
Suriname menjadi negeri yang menarik bagi Ibnu kecil karena disana banyak orang jawa yang mungkin medok-nya sama dengannya.
saya menarik garis keras bahwa cita-cita itu tidak penting!, karena menurut analisis masa kecil saya cita-cita yang patut dibanggakan hanyalah menjadi detektif, pemain sepak bola dan seorang rocker, mungkin kalau bisa; pemain sepak bola bersuara rockstar yang nyambi jadi detektif.

disela keheranan saya dengan teman-teman yang maha cerdas, saya kagum dengan mereka, mereka mampu menjadi penopang nilai saya disaat saya benar-benat jeblok. bagaimana tidak? mereka bersekolah dengan terkesiap menerima guyuran ludah guru yang muncrat-muncrat saat menerangkan, sedang saya untuk sekedar bertahan menahan kantuk saat guru menerangkan saja sudah merasa berprestasi.

***

begitulah masa kecil, yang penuh impian yang kadang berbeda dengan apa yang terjadi di episode selanjutnya. tapi, sekali lagi. Jangan remehkan impian masa kecil.

Jumat, 12 November 2010

Kenapa Harus Teater?

Ada yang bodoh tapi tertutupi di Indonesia ini. gerakan saling membodohi yang sengaja disuburkan.

dengan tingkat Seni-Budaya yang luar biasa tinggi dan luas (bahkan tak terjamah)Indonesia seharusnya mampu berdiri di garda depan dunia. jadi kita tak perlu membesar-besarkan kehadiran Obama di Indonesia, karena kita yang seharusnya mempimpin!.
Salah satunya juga karena seni-budaya, beberapa intelektual post-modern menyatakan "negara yang berpeluang mempimpin dunia di tahun 2050 adalah Brazil dan Indonesia!"
sayangnya, 2012 sudah kiamat..

***

malam itu rembulan kelima sejak pembukaan "Festival Seni Surabaya" dan bertepatan dengan Hari Pahlawan. Ada banyak pertunjukan yang hukumnya "sunnah" untuk disaksikan. di Gelora Tambaksari terdapati ribuan "cucu Adam" berseragam hijau-hijau menyaksikan pertandingan Surabaya FC VS Belanda, di Tugu Pahlawan ada ribuan "cucu Siti Hawa" menikmati sajian musik band populer saat ini dengan aneka dandanan untuk mearik perhatian. juga berbagai pertunjukkan yang tak sempat saya catat.

tapi saya memilih "merenung" ditempat lain, saya diajak merenung tentang perkembangan anak-anak kecil dilingkungan pelacuran Kremil oleh pentas Teater "rembulan Di Atas Kremil" dari Teater Berdaya Bangunsari Surabaya.
dalam naskah itu diceritakan alasan dasar empat "mantan gadis" sebelum mereka menyajikan dirinya dilokalisasi Kremil, ada Dara yang putus sekolah sejak SMP dan pacarnya adalah orang pertama yang mengajaknya masuk lingkup kriminal, sampai akhirnya dia dicekoki dan diperkosa ramai-ramai oleh pacar dan teman pacarnya. Ada "ilmu kekinian" yang dapat ditarik bahwa; banyak anak muda yang lebih fokus dengan pacarnya ketimbang dirinya. Saya jadi ingat pesan dari seorang Pastur: "hiduplah bersama orang yang lebih mencintaimu, bukan orang yang lebih kamu cintai"

sampai di titik nadir, Dara melarikan diri menjadi pelacur di Tretes, ada juga peran yang sengaja dijual oleh suaminya tanpa dibayar sepeserpun, sementara suaminya sibuk memenuhi dunianya sendiri. Dan yang paling miris, anak-anak kecil yang duhantui oleh "masa depan ranjang". Masa dimana dirinya harus menjual kelamin manusianya dengan harga binatang, masa dimana mereka harus pasrah dikerangkeng rupiah dengan alasan bertahan hidup, masa dimana mereka menyaksikan rembulan diatas Kremil sambil manja berkata "mas, gak mampir ta?"

Pentas Teater yang disutradarai Zainuri itu dimulai pukul 20:00 dan selesai sejam kemudian.
sesudahnya, masih dalam rangkaian "Festival Seni Surabaya" ada pentas Teater Teku dari Yogyakarta yang mementaskan lakon "Kintir" di pelataran Balai Pemuda.
saya merasa ditampar-tampar bahwa pentas teater tidak hanya dilakukan di gedung pertunjukan tapi di pelataranpun bisa!.
ini pertamakali saya melihat teater outdoor dengan penonton membentuk tapl kuda, biasanya saya terpaku pada sebuah panggung dan pemain yang berorientasi depan panggung. Disini tidak!. Saya merasakan dimensi yang lebih luas, dengan orientasi tak terbatas. Benar-nemar komtemporer!.

Teater Teku menyajikan mozaik antara Epos Mahabarata dengan kehidupan masyarakat pedesaan.
setiap segmen cerita seperti ditumpuk menjadi gerakan-gerakan teatrikal yang minim dialog tapi luas makna.



"kintir" berkisah tentang Dewi Gangga yang turun ke bumi dengan tugas melahirkan delapan wasu yang dikutuk menjadi manusia, tujuh anak diantaranya dihanyutkan di sungai tertinggal anak terakhir yaitu Dewabrata yang kelak dikenal sebagai Bisma.

lalu kisah ditumpuk dengan teks rekaan tentang ibu yang melahirkan delapan anak karena diperkosa, namun tujuh anaknya hilang tanpa sebab yang jelas.
Hingga pada suatu hari, ada tiga anak kecil yang mencari ikan di sungai. Teater Teku berhasil mengolah dialog dengan bahasa yang dekat dengan publik Surabya.
Ditengah keasyikan mencari ikan, Anto, salah satu dari mereka hilang "kintir" (hanyut) di sungai. dua temannya merasa takut dengan tragedi ini dan "surup" (pergantian siang menuju petang) tiba, segerombolan dedemit sungai menari-nari diiringi jerit ibu yang mencari buah hati.
Lalu munculah Bisma, putra terakhir dari Dewi Gangga berbicara dengan bahasa dramatik.
Sampai disini penonton berhak mengimajinasikan cerita dengan perspektif masing-masing.

***

jadi, kenapa harus menonton Teater?
Teater selalu mengangkat tema yang jauh dari film-film bioskop pada umumnya. Film bioskop terkurung oleh keinginan pasar, sementara teater membentuk dirinya sendiri dengan garis equator sejarah, foklor atau masalah sosial.
Peran di film juga sangat baku dan membosankan, jika dibandingkan dengan teater yang bebas lepas pakem, teater adalah tontonan alternatif cerdas dengan misi mempertahankan atau memperkenalkan Seni-Budaya yang lama ditelan gedung-gedung bioskop yang hampir selalu memutar film-film horror semi porno.

Tak jarang gerakan teatrikal yang penuh muatan kritik sosial atau dialog-dialog teater yang penuh pesan moral mampu menginspirasi sekaligus menyadarkan bahwa kita telah lama tidur di gedung bioskop.

Kenapa harus Teater?
Jawab setelah menyaksikan Teater.


*foto dirampok dari sini

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top