Jumat, 24 September 2010

Jum'at Agung

Ibu, dewasa ini aku menjadi sering memikirkanmu, menghayati doa-doamu ditengah sujud yang suci.

Seandainya pagi ini seperti empat tahun yang lalu, engkau pasti sedang menawarkanku segelas susu dan dua potong roti yang dilengketkan dengan susu cokelat cair.

Aku ingat betul kenangan itu, bajuku berwarna putih dipadu celana biru pendek. Lantas, kau betulkan letak bajuku, merapikan dan mengingatkan memangkas rambut dengan menariknya pelan.

Saat aku berusaha menerobos celah kenang-kenangan itu, ada sebuah beton besar menutupinya. Aku anak pertamammu, bu. Aku diharamkan bersikap lembek dengan mengingat-ingat atau sekedar berandai-andai tentang sesuatu yang lucu.

Baiklah, bu. Sekarang kita bicara masa depan, kita tutup saja kenang-kenangan itu dengan selimut perasaan. Masa depanku sepertinya akan sedikit membelot dari perencanaan awal kita, aku memutuskan itu untuk kita berdua dan kemanusiaan, bu. Aku tak punya kebijakan khusus untuk memaksimalkan masa depanku untukkku sendiri.

niki damel njenengan sisan”

Permasalahannya adalah; “jalan baru” ini penuh batu, kalau mengingat batu aku jadi memperhitungkan langkah maju dan mediskusikan potensi keliru. Tapi kita hadapi sajalah. “lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah” begitu kata Hok-Gie.

Aku tak bisa bertahan di satu titik ini, bu. Karena perikemanusiaan dan cinta berada diatas pertimbangan politik sempit. Yang kumaksud politik sempit adalah mereka-mereka itu, bu. Orang-orang yang kolot dan konservatif, yang mempertahankan tradisi militer daripada demokrasi.

Bu, hari ini adalah hari “Jum’at Agung”. Apa Do’a ibu?. Aku harap do’a kita tidak terfokus pada dompet saja. Karena aku yakin sekali, Tuhan menciptakan “Jum’at Agung” ini khusus untukmu, bu. Tuhan merancang hari ini khusus untuk memeluk do’a ibu.

Sebelum ada yang mendahului kuucapkan “Selamat Ulang Tahun, Ibu”. Akan kutitipkan tulisan ini kepada Jibril untuk menyampaikannya padamu. Maaf, bu aku tak bisa memeberimu apa-apa, karena aku tak memiliki apa-apa selain kertas dan pena. Selamat Ulang Tahun, sekali lagi.

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top