Kamis, 29 April 2010

Cerita Dari Ibu Pertiwi

karena sudah malas mempelajari buku, puluhan pelajar turun kejalan saling lempar-melempar batu. dengan gesper besar melilit ditubuhnya padahal nyali tak sebesar gespernya, bicaranya sok jagoan padahal beraninya kalau ada banyak teman.

tawuran itu pengecut!. dan senjata paling pengecut adalah batu! beraninya melempar dari jauh!.
apa yang membuat pelajar saling bertengkar?
apa mereka ingin mempraktekkan nilai-nilai pejuang kemerdekaan?

membawa spanduk besar bertuliskan "turunkan..!" sambil meneriakkan nama presiden. ratusan mahasiswa berdemo besar-besaran berdampak keacetan dan rasa pilu yang takkalah besar. sebagian dari mereka berkoar dengan microphone ditangannya "kinerja presiden buruk! turunkan..!" sebagian lagi hanya ikut-ikutan.

diujungnya, polisi sibuk menyemprotkan water canon pada buruh yang menuntut kesejahteraan. pagar gedung MPR/DPR dirobohkan sebagai pelampiasan.
pagar gedung jadi sasaran menunjukkan bahwa manusia memiliki tingkat kewarasan yang kurang.

sepak bola bukan hiburan melainkan menonton hewan. ribut-ribut ditengah lapangan, bukan bola tapi wasit yang ditendang. sementara induk organisasi sibuk bertaruh tempat penyelenggaraan piala dunia yang masih beberapa belas tahun kedepan.

tribun penonton tak mau kalah. botol-botol air mineral dilemparakan, memaki wasit dengan dua kata "wasit goblog!"
apa perlu diadakan sepak bola di taman satwa liar?
toh, pemain dan induk organisasinya sama-sama bernaluri hewan.

nama tuhan di sebut-sebut dengan keras. berpakaian ala agamawan tapi tangan memegang kayu balok siap dipukulkan kemuka lawan.
coba terka, ada apa disana?
ormas-ormas berebut lahan sengketa atas nama agama yang katanya membawa kedamaian.

"aduhh.." rintih personil Satpol PP yang kepalanya bocor akibat dikeroyok orang-orang beragama. dapat pula ditarik kesimpulan bahwa agama bukan saja membawa kedamaian tapi juga mampu merubah pengikutnya menjadi setan.
karena merasa disudutkan warga, Satpol PP berdalih ini bukan karena mereka. tuduh menuduh terjadi disana. sulit berhenti.

aparat merobohkan gerobak bakso sambil berteriak dalam hati "tugas negara ada dipundak kita" kuah bakso meluber dijalanan dan warnanya berubah menjadi merah karena darah anak-anak kecil yang dibesarkan dilingkungan beringas.
"dunia ini keras, nak" nasehat ibu "untuk dapat bertahan kau harus menjadi keras pula, nak"

hari berikutnya tukang bakso ditemukan mati disebuah pasar swalayan, setelah diselidik dia mati karena takut diterkam algojo-algojo rentenir.

para "tetua" masih tak mau meluangkan waktu untuk mencarikan solusi semua itu. karena disibukkan dana pajak yang keliru ditransfer kepada seorang Pegawai Negeri Sipil. yang lebih tua malah latihan teater tetang dana bank yang hilang misterius.

jelas misterius! bukankah mereka yang "calon-calon magician" yang sempat meminta-minta agar wajahnya di contreng dulu?

tak berhenti disini, satu-satu menyatakan argumentasi guna menyudutkan suatu kubu. dikubu yang lain ikut menuduh. semuanya saling menuduh, membuat negeri ini semakin gaduh...

betapa negeri ini penuh dengan kekerasan
setiap individu mencari dan memburu kemengangan, setelah kemengangan itu tercapai baruah tersadar bahwa kemengangannya menimbulkan konflik-konflik disetiap daerah. lalu konflik menelurkan banyak korban.
semakin banyak korban semakin kita butuh sosok "Semar" yang menuturi bahwa kemengangan itu selalu berdiri acuh tak acuh diatas korban.

kemenangan atau kemerdekaan yang berhasil diraih secara perlahan-lahan mendorong kita untuk melupakan tiga wawasan, yaitu:

wawasan kebangsaan:
berupa rasa persatuan yang mampu meminimalisir terjadinya konflik, berhenti memukul karena adanya rasa saling memiliki perasaan.

wawasan kebijaksanaan:
ada banyak orang beragama, namun tak banyak orang yang "bijak dalam beragama" orang beragama cenderung memeluk dan merasa agamanya yang terbaik, jalannya yang paling benar. dan merasa paling baik dan benar adalah bagian dari ego sentris. apakah bermacam agama diciptakan untuk mencetak manusia yang menumbuhkan ego?
bukankah dunia terasa lebih damai dengan rasa saling menghargai tanpa memandang agama dan aliran, apalagi menuduh kesesatan suatu sekte.

wawasan kemanusiaan:
tidak akan ada orang yang merasa miskin, tersudut, terpinggirkan lalu bunuh diri jika kita mengembangkan rasa kemanusiaan. adanya kasta-kasta dalam hidup berguna untuk menggerakkan hati-pikiran manusia agar saling membantu atas dasar jiwa kemanusiaan.

begitulah cerita dari ibu pertiwi.
lalu, muncul pertanyaan, siapakah ibu pertiwi itu?

Ibu Pertiwi adalah aku
Ibu Pertiwi adalah kamu
cerita Ibu Petiwi adalah cerita kita.

Kamis, 08 April 2010

Puing-Puing Pabrik

"rek ayo rek dulinan" ajak Leni bermain pada teman-temannya
temannya menanggapi dengan berkerubung tak rapi.

malam itu kami bermain gentong-gentongan. permainan klasik yang tak menghabiskan tenaga.
tiba-tiba ditengah permainan terhenti oleh sebuah bau yang menyengat.

"ehh.. sopo iki sing ngentut!?" tanya Ari perihal bau kentut.

tanpa ada yang menyuruh Yeni langsung bernyanyi sambil menunjuk temannya satu-satu

"Bang-bang tut jendela-lawang
sopo mari ngentut ditembak raja tua
tua-tua kaji, rambut'e karek siji
mbukak lemari, isine roti.
roti-roti atos, selet'e mbeldos!"

nyanyian berhenti dan telunjuknya menunjuk Mujib. semua menuduhnya sebagai pembuang bom bisu sembarangan.
"duduk aku!" Mujib membela diri.
"kalau tidak percaya, cium saja pantatku!"


***


pukul tiga sore hari. belasan anak berkumpul di sebuah pabrik. pabrik yang terbakar dan kini tinggal puing-puing, lebih akurat jika melihat temboknya yang miring hampir rubuh.
ujung dinding dijebol membentuk lingkaran tak sempurna berukuran setengah meter.
tinggi, rendah, gemuk, kurus jika ingin memasukinya harus patuh merunduk. hal kecil ini mengajarkan pada kita untuk berendah diri saat dijinkan menjadi tinggi nanti.

anak kota suka main bola, anak kota antusias berlari, mengejar, menggiring, menendang dan menangkap bola.
anak kota bermain diteduhi ironi besar.
anak kota tak punya lapangan bola.

jika tak salah hitung, waktu itu saya masih SD. gemar-gemarnya bermain bola.
sepak bola saya lampiaskan di pabrik tersebut. pabrik yang tak beratap lagi, pabrik yang dindingnya hampir rubuh, pabrik yang ditumbuhi semak belukar dan tumbuhan liar.

saya bercerita tentang sepak bola masa lalu saya bersama teman-teman. dengan bola plastik berharga ribuan. digiring oleh Supri diumpan pada Afu. anak keturunan Cina ini menyusup sampai depan gawang lawan, oh Andi sigap didepannya, sedikit terjatuh menangkap bola. aman "gawang kita aman!"

gawang dibuat dari batu puing-puing bangunan, ditumpuk pada kedua ujung. sederhana. lalu Andi dan Johan membentengi kedua gawang, berhadapan dengan status persaingan.

bola diterima Mathius, goyang samba sodorkan bola pada Candra.
Candra cerdik lambungkan bola, disundul Agus kepojok gawang, tangan Johan berkilah tak sampai. "kita kalah satu angka" sesalnya.

"jangan menyerah! ini bukan persaingan yang memperebutkan lahan!. ini persaingan yang dibalut kebahagiaan. kau harus tahu itu! aku disini bukan lawanmu, aku temanmu yang siap membagi keceriaan."

kami pernah bermain bola di lapangan Volly milik RW. tapi atas dasar kekuasaan absolut orang-orang dewasa, kami dilarang bermain bola di lapangan Volly dengan alasan merusak pasir lapangan. dan yang paling saya sesalkan mereka mencekoki kami dengan permainan Volly. "ah! olahraga apa ini!? bukan sehat malah tangan memerah didapat. merusak tangan saja!" umpat saya waktu itu.
hati kecil saya berontak, tak tahan melihat orang-orang dewasa yang menurut saya tak mampu menerapkan keadilan!
saya ingin melawan! tapi apa daya saya? waktu itu saya masih menjadi pelanduk. yang tak bertanduk, yang tak bertaring.

sampai akhirnya, dipabrik ini saya melampiaskan perasaan.
tersudut oleh bangunan-bangunan kota dan terpojok oleh kewenanngan orang dewasa.

jangan memarahi kami yang tak punya lahan, jangan memaki kami yang mencari keceriaan, jangan bebani kami dengan masalah-masalah, jangan turunkan ilmu mencuri, jangan ajari cara mengumpat.

ajari kami tentang kebahagiaan agar tak manja saat dewasa,
curahi kami persatuan agar kami paham pentingnya kebersamaan,
kenalkan kami pada tuhan agar kami tak mencuri lahan.

langit menggelap diringi suara qiraah di masjid. "ayo moleh rek!, wis maghrib!"
dirumah, saya selalu dimarahi Budhe saya karena badan kotor, keringat ambrol disana-sini, kaos kotor basah keringat dan celana yang bagian belakangnya berwarna cokelat kehitam-hitaman khas debu jalanan.



* ditulis pada suatu malam, saat pikiran saya terbang kemasa lalu.

Kamis, 01 April 2010

HAKIKAT Terminal Terboyo

di sebuah bus ekonomi jurusan Surabaya-Semarang terdapati seorang bapak yang bersebelahan dengan anaknya

"yah, aku nggak bisa tidur, nggak ada AC-nya sih"
ayahnya yang katrok malah bertanya. "AC itu apa sih?"

"kalau nggak salah AC itu Air Compressor yah.."

"oalaahh air! jadi kamu mau tidur sambil basah-basahan?"
mendengar jawaban sang ayah, si anak merasa sangat menyesal dilahirkan dibumi ini.


***

adalah terminal Terboyo. salah satu aset dari Kota Semarang.
saya sendiri sudah lebih dari sering untuk memijakkan kaki ditanahnya yang selalu becek. mungkin karena letaknya yang berada di dataran rendah. juga karena itu daerah yang berada di sekitar terminal dijuluki "semarang bawah"

seperti fungsi terminal pada umumnya, yaitu untuk menaik-turunkan penumpang, transit ataupun sebagai sarang kriminalitas ala masyarakat proletaar. baru-baru ini saya tersilaukan oleh "cahaya kecil" yang berada ditengah centang-perentang dan peluh keringat terminal.

dari sebuah WC umum berlantai licin dengan penjagannya yang hampir selalu mendendangkan musik melalui handphonenya. mungkin rasa penat sudah mengerubungi kepalanya.
dinding WC umum menempel padat pada sebuah mushola.

ini terminal ala negeri ini!.
jangan harap dapat menemukan tempat yang bersih nan nyaman untuk melepaskan lelah sejenak.
termasuk Mushola, yang seharusnya bersih dan menyenangkan untuk disinggahi.
dapat dilihat lantai keramik berkerak tebal sampai karpet-karpet berdebu menambah kesan kotor untuk ukuran tempat ibadah dan dibagian pojok beranda berjejalan saling menindih bangku-bangku kayu yang entah berguna untuk apa.

tentu saja didalam terminal itu ada saja yang menipu, mengambil barang kecil-kecilan (ngutil) atau mengambil barang dari pakaikan dengan cepat (copet). itu gambaran buruk dari terminal

yang jelas sebagian proses penyelenggaraan kegiatan terminal dikendalikan bersama-sama oleh masyarakat dengan bermacam kesepakatan tak tertulis untuk melindungi kepentingan bersama.

terakhir kalinya saya berada di terminal ini, saya menyerap banyak ilmu dan pengalaman hidup dari seorang penjual buku keliling.
buku yang ia bawa tak begitu banyak dan jenisnyapun tak beragam, hanya beberapa buku-buku ilmu tasawuf.

sayapun tertarik menggalinya. kenapa hanya buku-buku tasawuf?
jawabnya sederhana, "buku-buku ini kiriman dari Surabaya, dan saya sendiri gemar mempelajari ilmu tasawuf dari sebuah thariqat"
dalam satu hari buku-bukunya terjual empat sampai enam buah dan sore itu masih laku dua buah buku. "dina iki isih payu rong buku, mas" katanya kepada saya dalam bahasa jawa semarangan.

dari jawaban-jawaban sederhana bapak ini, saya mengurai panjang ilmu yang terkandung pada dirinya.
bahwa: bapak penjual buku ini tidak begitu merisaukan hasil kerjanya, tidak memusingkan isi dompet yang mengempis. karena menurutnya yang terpenting bukanlah hasil, melainkan "proses"

proses untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi mahkluk hidup disekitar, proses menjadi orang yang lebih baik dan bermakna. karena didalam proses terdapat ujian-ujian yang mendewasakan hati dan pikiran manusia.

langit semakin meredup. perbincangan kami terpotong oleh hari.
sayapun pamit bersama matahari.


* ditulis untuk penjual buku tersebut.

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top