Senin, 15 Februari 2010

jangan berebut, jangan ribut, jangan lempar-lempar kancut!

Sekarang kita tidak sedang membahas dana century atau bang antasari-williardi dengan isteri-isterinyanya. kita membahas yang lebih potensial dari pada itu! yaitu saat kenekatanku berangkat ke sidoarjo buat nonton PERSEBAYA dengan modal pas, kaos oblong, sandal jepit dan gak lupa pake kolor dong!.
berhubung kalau jatuh cinta tai kucing bakalan jadi cokelat, aku tetap nekat! biar cokelatnya sepet-sepet dikit aku tetap gila berangkat ke sidoarjo. (entah setan tipe berapa yang ada di otaku saat itu) tapi kalau sekarang aku akan jelas-jelas memilih cokelat dari pada tai kucing warna cokelat!

berangkat naik kereta bersama seorang saudara sekaligus teman bernama Ipung (where are you bro?)
sampai di depan stadion tiket sudah ditangan tinggal baris rapi, lencang kanan-lencang kiri, ikuti perintah polisi dan masuklah ke tribun penonton.
aku sadar betul bahwa kostum yang aku pakai berwana hijau (hijau lusuh) tapi begonya saat masuk malah keliru ke tribun supporter tuan rumah. diantara dominasi tribun supporter Deltras yang berwarna merah aku dan saudaraku pakai warna hijau sendiri!. kampret!.
untunglah masih ada orang baik yang menyadarkan kami berdua untuk kembali ke penangkaran.
aku dan saudara masih benar-benar PEDE berjalan dengan pakaian beda sendiri sambil meyakinkan diri sebagai trade center! ehhhh trend setter!

***

tak ada yang sulit dalam mempraktekkan diri untuk mengantri. berbaris rapi menunggu giliran. tapi bagaimana jika barang yang diperebutkan terbatas? dan orang yang memperebutkannya membeludak? ditambah lagi setiap orang merasa "harus" mendapatkannya.

jangan ditanya apa jadinya! sudahlah pasti keributan mewarnai kegiatan tersebut. tampilan yang sama terjadi di Stadion Tambaksari 10 Nopember minggu kemarin. ribuan orang memberondong stadion sejak pukul tujuh pagi untuk mengantri tiket pertandingan sepak bola PERSEBAYA VS Persib. saya, yang waktu itu masih berbincang dengan dua (ekor) teman di Taman Bungkul tak begitu menghiraukan walaupun saya sendiri sangat berambisi memndapatkan tiket tersebut.

pukul sembilan mata saya cukup dikejutkan dengan orang yang menyemut mengantri tak rapi di pelataran stadion sambil berteriak "Tiket.. tikett.. tikettt....!!".
saya tak tertarik mengikuti mereka, saya lebih memilih berbincang dengan salah satu wartawati dari Suara Surabaya (lupa namanya hehehe..) sampai kemudian saya bertemu dengan staf penjual tiket yang mengatakan loket dibuka pukul 11:00.

ada apa ini?
ini pertandingan besar, kenapa loket tidak dibuka sejak pagi?

berjam-jam berlalu saya menuggu dengan cukup sabar. dalam hati saya memotivasi diri "ini pertandingan besar! harus nonton!!" terlihat bodoh memang, tapi ini saya anggap sebagai pelampiasan rasa kangen karena selama tinggal di Semarang saya tak pernah melihat, berteriak, menyemangati pemain atau sekedar menggoblok-goblokkan wasit. secara langsung dari pinggir lapangan.

tak seperti yang dikatakan. loket baru buka pukul setengah dua belas, sekian banyak orang menyerbu loket dengan berdesakkan, saling menyikut dan saling menjejalkan diri kedalam keramaian. ambisi saya mendapatkan tiket tak surut melihat pemandangan brutal seperti itu. lama saya didalam kerumunan, dijilati panas, juga tenaga yang hampir habis digerogoti rasa lapar.

ini kebodohan yang membatu didiri kita.
rasa ingin memiliki dan fanatisme luar biasa telah membius agar kita bersikap beringas. pun, tak lepas penilaian saya untuk staf penjual tiket dan aparat berseragam cokelat yang bertampang seram tetapi berotak udang!.
seharusnya, antara loket ekonomi, utama dan VIP harus dibagi di setiap loket (pemberlakuan loket khusus) bukannya disetiap loket menjual ketiga tingkat tiket tersebut, dan di setiap loket harus ada aparat yang menjaga ketertiban pembeli!.

siang telah sampai di pukul satu lebih.
badan saya sudah lemas, tak mampu lagi bersaing. saya memilih keluar dari kerumunan (karena, kabarnya tiket sudah habis). lantas menelpon teman yang mengusulkan untuk membeli tiket di daerah simpang (Taman Apsari).
semangat saya timbul kembali. saya menuju taman apsari.

disana ada puluhan Viking Bandung yang ditampung dan sekian Bonek yang menunggu pembagian tiket. siang semakin tak bersahabat kami lawan dengan berbincang dan bercanda dengan anak-anak Bandung.
lanjut cerita, tiket sudah dibagikan, ternyata yang membeli tiket di simpang harus memesan terlebih dahulu. pendeknya, saya pulang dengan berbagai macam perasaan, dengan hati panas ditengah siang yang tak kalah panasnya.

pelampiasan saya alihkan pada sepiring nasi. perut yang memberontak berhasil saya redam.
hanphone menjadi alat yang sangat berguna saat itu, saya hubungi teman yang berprofesi sebagai calo. kabar yang mengatakan bahwa calo dilarang berjualan semakin menciutkan semangat.
dan terbitlah terang.
teman saya mengatakan ada tiket dan harus cepat-cepat ketempatnya.

motor saya keluarkan kembali. hampir disetiap meter kecepatan saya tambah. berpacu dengan waktu.
rasa lelah, letih dan capai terbayar kontan dengan tiket tersebut

setelah saya tanya-tanya teman saya ini mengaku bahwa tiket itu ia dapatkan dari "orang dalam" terkadang malah disuruh menjualkan tiket oleh orang dalam tersebut.
satu lagi catatan bodoh di buku negeri ini.

malam. pertandingan berlangsung cukup menghibur walaupun enam kartu kuning keluar dari saku sang pengadil lapangan.
rintik hujan tak terasa dingin karena rasa kebersamaan antara dominasi warna hijau Bonek mania dengan biru Viking Persib.
pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk PERSEBAYA SURABAYA.




seperti inilah kami,
supporter sepak bola
kami bisa lebih beringas dari peluru yang ada di depan mata
kami dapat kuat melebihi Van Damme
kamipun miliki kemesraan melebihi jutaan mawar merah.


* terima kasih untuk Muklis, Fandi, ALvin dan Adam "ambon"
** foto diambil dari sini

Selasa, 02 Februari 2010

Bondho BangBang Wetan

"BONEK, pada saat kami berbuat baik, orang-orang selalu melupakannya
saat kami melakukan hal yang buruk, hampir semua orang tak pernah melupakannya"



dalam tulisan "Deindividuasi Jamaah". Ali Fatkhan mengatakan "keberanian yang disenyawakan dengan "kesumelehan" menghasilkan energi kekuatan yang begitu dahsyat. komunitas Bonek seperti menjelma menjadi entitas lain dari pribadi-pribadi unsur-unsur"
keberanian Bonek naik diatas gerbong kereta, menjarah makanan diwarung, memanjat tembok stadion akan mereka (Bonek) lakukan jika bersama-sama saja, atau dalam kata lain, bonek melakukan kerusuhan hanya pada saat berkumpul.
jika ada yang menyimpulkan bahwa komunitas bonek adalah kumpulan orang-orang jahat menurut saya salah total. yang terjadi adalah Deindividuasi. hilangnya kepribadian seseorang dan melebur sebagai kepribadian kelompok.

minggu malam kemarin. puluhan Bonek lengkap dengan atribut hijau-hijaunya datang ke Komplek Gedung Balai pemuda Surabaya. apa yang mereka lakukan?

Supporter PERSEBAYA ini mendapat sanksi hukuman dari komdis PSSI karena telah (dianggap) membuat kerusuhan di Lamongan dan Solo saat away ke Bandung.

Bonek datang ke Balai Pemuda bukan untuk menciptakan kerusuhan, memboikot jalan atau membakar gedung. mereka datang untuk mencari solusi bersama di Forum BangBang Wetan. juga untuk menyimak pendapat dari Emha Ainun Nadjib. ini termasuk salah satu etikat baik dari Bonek yang telah siap berubah lebih baik dan siap untuk menggalang perdamaian antar supporter sepak bola di seluruh nusatara.

diacara yang juga dihadiri oleh Dik Doank ini dibuka oleh grup sholawat EL Nababa asal Surabaya. lantas, salah satu perwakilan Bonek bernama Cak Tris mengkisahkan kesalahan yang pernah ia lakukan saat mendukung PERSEBAYA. dari masuk stadion tanpa tiket, naik kereta tanpa tiket, sampai naik kapal tidak membayar tiket pula dan lain sebagainya. Cak Tris sendiripun mengakui hal yang ia lakuakan itu salah. tapi sekarang "saya akan berusaha untuk merubah citra buruk itu!" katanya, dan Cak tris berpesan kepada seluruh warga surabaya agar "ngewongke Bonek" (memanusiakan Bonek).

diskusi berlanjut dengan pernyataan dari Wastomi suhari (ketua Yayasan Supporter Surabaya) "saat pulang, bonek sama sekali tidak melakukan kerusuhan!. bonek berada didalam gerbong kereta yang pintunya ditutup rapat dan diikat dengan kawat!. lalu saat kami melintas di kota Solo kami dilempari oleh warga atas provokasi Pasoepati (supporter persis solo) dan saat melintas di Lamongan kami dilempari oleh oknum LA mania (supporter persela lamongan)" selang beberapa hari, komdis PSSI menyatakan bahwa bonek telah melakukan perusakkan gerbong kereta api dan PERSEBAYA wajib memberi ganti, hal ini juga diamini oleh media massa yang gencar memberitakan kesalahan bonek.
"disini bonek adalah korban, bonek menjadi kambing hitam!" ketus wastomi.

pernyataan wastomi dikuti oleh Saleh Mukadar (manajer PERSEBAYA) "awal bonek melawat ke Bandung adalah bonek lepas (bonek yang tidak tergabung dalam organisasi) lalu terpaksa kami mengirimkan korwil-korwil bonek" kata saleh "kami sudah melakukan pengorganisasian bonek dan memberinya kartu identitas dan berkasnya sudah diberikan kepada polisi, tapi jika ada bonek yang tidak teroganisir berulah anarkis, itu bukan tanggung jawab kami" tandas pria bertubuh subur ini.

interaksi berlangsung. seorang pemuda asal Semarang yang menyatakan dirinya juga Bonek mengkomentari pernyataan wastomi dan saleh. "aku ngerti sampeyan ngurusi Bonek wis suwe" (aku sudah tahu anda mengurusi Bonek sudah lama) katanya dalam logat suroboyoan sambil menatap wastomi suhari. "tapi sampeyan ojok meneng ae lek onok Bonek sing misuh-misuh ning lapangan" (tapi kamu jangan diam saja kalau ada Bonek yang mengumpat dilapangan) "gak onok iku sing jengeng'e supporter liyo jancok, sing onok kabeh supporter sakduluran!" (tidak ada itu yang namanya supporter lain jancok, yang ada semua supporter itu bersaudara!) ("jancok" adalah jenis umpatan di jawa timur)

"trus gae pak saleh" lanjut pemuda itu "aku iki yo Bonek pak! aku yo ndukung PERSEBAYA, tapi aku gak teroganisir. mosok aku duduk Bonek? padahal aku yo seneng ambek PERSEBAYA!. Bonek sing terorganisir ambek bonek sing nggak teroganisir iku podo ae! pokok'e seneng ambek PERSEBAYA!" (terus untuk pak saleh, aku ini juga bonek pak! aku juga dukung PERSEBAYA, tapi aku gak terorganisir. masak saya bukan bonek? padahal saya juga suka dengan PERSEBAYA!. bonek yang terorganisir dengan Bonek yang tidak terorganisir itu sama saja. yang penting senang dengan PERSEBAYA)

malam semakin gelap di Surabaya, tapi semangat berdiskusi di bekas gedung societeit Belanda itu belum juga mengantuk.

dilanjutkan Gus luthfi yang angkat bicara "bonek adalah output. jadi kalau Bonek ini output pasti ada inputnya. siapa inputnya? kalau ditingkat kota inputnya adalah PERSEBAYA dan kalau di tingkat negara inputya adalah PSSI" kata ulama pemimpin Ma'hadul Ibadah al-Islami Tambak Bening Surabaya Indonesia (MIITSI) "mari kita benahi dulu input kita lalu kita perbaiki outputnya" ajak gus Luthfi.

di forum ini Dik Doank yang mengaku tidak datang atas nama supporter lain mengatakan "Bonek, kalau kalian cinta dengan PERSEBAYA kalian harus datang ke stadion dengan cinta. tunjukkan kalian adalah hamba tuhan yang dianugerahi cinta untuk kebersamaan, di dunia ini tidak akan ada sepak bola jika tidak ada kehendak tuhan, dan tuhan tidak akan menghendaki sesuatu untuk menciptakan manusia agar saling membenci, saling merusak atau saling menghina. maka dari itu, tunjukkan kalian adalah hamba yang puya cinta!"

Emha Ainun Nadjib, menawarkan jalan untuk merubah ideologi bonek yang buruk, merubah jargon, lagu dan segala tindakkan Bonek yang selama ini dianggap buruk dan tidak baik dilakukan.
"yang penting saat mendukung PERSEBAYA adalah BAHAGIA! kalian harus mendukung dalam keadaan bahagia!.
kalian harus bisa bersatu antara satu dengan yang lainnya! karena saya tidak suka berada di tempat yang penuh dengan kebencian!
saya akan siap jika Bonek mengajak saya berdiskusi kembali"

mulai kemarin watomi suhari bersama organisasi Bonek akan melawat ke supporter-supporter yang hubungannya meregang dengan Bonek "kami tahu ini beresiko, tapi kami akan tetap mencoba" katanya di sela-sela malam
pun, saleh mukadar yang menyatakan siap untuk membentuk organisasi resmi supporter PERSEBAYA.

BONEK,
KAMI BUKAN PERUSUH
KAMI PENDUKUNG PERSEBAYA

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top