Selasa, 28 Desember 2010

Apa Yang Kita Cari?

Terdengar bapakku mengaung ditengah rimba, ibuku berlari mendatangi.
mereka, sepasang manusia berwujud singa dan macan melahirkanku diujung dunia membekaliku sepasang taring demi menghadapi dunia manusia.

Saya bukan manusia, saya lebih percaya bahwa saya binatang.
kaki saya melangkah orang-orang menghindar, saya bicara mereka memotong telinga, saya diam dicap gila.

Temanku kesunyian yang berkarat, musuhku dunia yang biasa dicibir 'bangsat!'.
di dunia itu, dengan mata elang saya melihat orang-orang menangis mengemis di perempatan-perampatan, seorang ibu menjerit menatap anaknya bekerja sampai mati, sang bapak lumpuh ditempeli penyakit-penyakit.
APA YANG KITA CARI?

Apakah hanya jabatan yang ada ataukah pembunuhan mental yang diciptakan
APA YANG KITA CARI?!!

***

Pernah pada sebuah hari ketika saya masih biasa berseragam putih-merah saya bertanya tak jelas pada siapa "untuk apa saya lahir?, kenapa saya dilahirkan?"
waktu itu saya memang masih kecil, jadi apa yang saya renungkan hampir semua tak terjawab.
setiap malam saya memikirkannya, pelajaran-pelajaran SD saya tinggalkan.
KENAPA?! APA YANG KITA CARI?!!

Beranjak dewasa saya merasa bahwa lulus sekolah bukan untuk mencari kerja dan tidak pernah ada guru sekolah saya berkata bahwa sekolah berguna untuk mencari kerja sekolah adalah tempat menerima transfer ilmu. Saya rasa kita hidup bukan hanya keluar dari rahim, belajar mengunyah nasi, berjalan tertatih, bersekolah, lulus mencari kerja, menikah beranak-pinak lalu mati dan ditangisi banyak orang.
LANTAS, APA YANG KITA CARI?

Pernah disebuah instansi yang saya lamar untuk bekerja menolak, hati saya hancur saya tak tau apa-apa. Dunia pekerjaan saya datangi dengan wajah yang masih benar-benar hijau.
Dan pertanyaan masa kecil muncul seperti ingatan yang represif, "untuk apa saya lahir?, kenapa saya dilahirkan?" di sela itu ibu saya menelpon, dengan suara lembut saya mendengar suara tuhan muncul dari mulut ibu saya. Karena tak tahan pelan-pelan saya merasakan ujung mata saya pecah. saya tak tahan, air suci menetes halus di pipi saya. diujung telepon sana ibu saya menyenandungkan bait-bait yang pernah saya tulis ketika didalam rahim.

Saya renungkan kembali makna kehadiran manusia, untuk apa sebernarnya diciptakan?.
setiap manusia memiliki kelebihan berpikir meninggi dan merendah. berpikir tinggi adalah berpikir menggunakan otak, sedang berpikir merendah adalah berpikir menggunakan hati.
Otak saya tak mampu menjangkau renungan saya sendiri jadi saya putuskan untuk memakai hati. berpikir serendah-rendahnya.

hidup, tugas dalam hidup adalah "menghidupkan"
ya, itu jawaban yang rasa tepat. hidup bukan untuk mencari pekerjaan atau belajar tentang cara berumah tangga yang baik saja. hidup adalah menghidupkan orang lain. adanya garis kasta kaya dan miskin adalah peluang untuk menghidupkan orang diatas atau dibawah derajat kita.
APA YANG KITA CARI?
kita tidak mencari apa-apa, karena tugas kita bukan mencari tetapi menghidupkan.

Kamis, 16 Desember 2010

Agama Fisik Dan Agama Elektrik

minggu kemarin, bukan sebuah kunjungan yang terencana saya mendatangi sebuah masjid kebanggaan orang Semarang. Masjid Agung Jawa Tengah.

Masjid yang dibangun mulai tahun 2001 sampai 2006 ini memiliki bangunan yang cukup unik dengan campuran arsitektur campuran antara jawa, arab dan yunani dilengkapi dengan fasilitas lengkap seperti perpustakaan, musium bahkan convention hall dan penginapan. karena selain di proyeksikan sebagai tempat ibadah, masjid ini juga ditujukan sebagai wisata reilijius dan pengunjung yang datang dari jauh bisa menginap di areal masjid (bukan tidur di pelataran lo ya!!)

Masjid yang terletak di Semarang Timur ini juga cukup nyaman untuk ukuran tempat ibadah, dilanjut lagi dapat pemandangan unik enam payung yang dapat terbuka dan tertutup secara otomatis di halaman masjid.

pula, yang paling mencorong dari masjid ini adalah menara Al Husna setinggi 99 meter.
dilantai dasarnya terdapat studio radio dakwah dan dipuncaknya terdapat 5 teropong yang dapat melihat ke segala arah semarang.
ada juga musium tentang sejarah Masjid Demak dan benda-benda bersejarah termasuk pedang yang diyakini pernah digunakan pasukan Pangeran Diponegoro.
musium ini terletak di lantai 2 dan 3.

masuk ke bangunan utama masjid juga cukup luas, dengan dua tingkat yang cukup untuk menampung 6000an jamaah yang akan beribadah. di pojok bangunan utama ada sebuah bedug bernama "bedug ijo mangunsari". saya mendatanginya dengan perasaan meletup-letup.
bedug ini memiliki panjang 310cm dan garis tengah 220cm.
ketika sibuk membuat catatan saya dihampiri oleh seseorang penjaga masjid, "kebetulan" batin saya waktu itu.
orang bertubuh subur berkulit gelap ini saya cerca dengan pertanyaan mengenai bedug dan masjid ini.
bedug ini dibuat pada 20 syaban 1424 H dengan jumlah paku 156 buah dan masjid ini berdiri diatas areal tanah seluas 10 hektar dan menghabiskan biaya kurang lebih 180 M (bukan masehi)

saya cecar lagi dengan pertanyaan tentang arsitektur masjid, si bapak ini menjelaskan bahwa yang tertulis melingkar di pelataran masjid itu Asmaul Husna yang dijunjung 25 tiang, beberapa detik sebelum saya menanyakan maksud 25 tiang bapak ini menawarkan buku foto-kopian tentang masjid ini, tapi saya memilih untuk menolaknya saja. masjid kok jadi komoditas?

***

sore itu dibuka dengan adzan dari masjid agung ini, saya datang menghampiri kedepan.
jauh dari pikiran saya ketika ada kegiatan ibadah masjid sebesar ini tak seramai yang saya bayangkan. apakah kita masih cinta pada kelebihan-kelebihan simbol suatu daerah dengan wujud agamis daripada ibadah itu sendiri?

ashar itu di imami oleh sosok bertubuh tinggi besar berbaju terusan putih dengan surban yang digunakan seperti mukena wanita.
entahlah, kepahaman saya mengenai agama memang tak terlalu tinggi karena saya tak berminat dengan agama atau imbalan masuk surga. tapi saya selalu merasa janggal dengan sesuatu yang bertolak belakang dengan indera saya.

apakah saya bodoh atau memang secara umum orang Indonesia cenderung "fisik dalam beragama" menunjuk-nunjukkan bahwa diri sendiri lebih berkemampuan dalam agama dengan pakaian yang mecolok. jubah panjang maroko atau surban yang memanjang.
atau menunjukkan diri sendiri islam sejati dengan berteriak-teriak dijalan "allahu akbar .. allahu akbar..." yang berimbas kemacetan yang memantik amarah orang lain mengumpat "jancok.. jancokk..." dan menjadi polemik, saling menuduh, menghakimi dan saling mengklaim kebenaran.

aneh saja, kita yang orang indonesia mengenakan surban untuk kewibawaan padahal menurut sejarah di jawa, "kopiah" atau penutup kepala digunakan karena orang jawa merasa malu ketika beribadah menghadap tuhan dengan kepala yang terbuka.
bisa saja kita berkilah ini sunnah, tapi apakah kata sunnah mempunyai hak otoritas untuk membunuh budaya?
termasuk budaya berkopiah dan kemeja batik.

seusai keluar dari masjid ini, saya merasa kita, orang indonesia lemah dalam mempertahankan identitas.
karena menurut saya, status agama seseorang bukan untuk dipertunjukkan untuk mencari kewibawaan apalagi sebagai alat penjajahan budaya secara halus.

"saya islam! saya sudah sholat!"
kalimat yang saya pikir juga tak perlu untuk diungkapkan, biar saja tuhan yang mengkalkulasi ibadah manusia.
tapi negaraku yang dengan sedih aku cinta ini, berisi dengan manusia yang rata-rata bercita-cita menjadi nabi semua, menyudutkan minoritas, menilai kafir dari sudut pandang yang sempit.
adakah orang yang benar-benar "bergama elektrik"?
agama yang tidak menyudutkan orang lain, tidak menghakimi, tidak menilai dari pakaian agamis dan tidak menunjukkan kelebihan tapi banyak bermanfaat?
bukankah manusia akan lebih baik jika saling bermanfaat daripada sekedar terlihat agamis?

Senin, 29 November 2010

Mengintip Masa Kecil

Diluar sana hujan menderas,iseng saja saya mengintip dari jendela. Nampak segerombol angin menabrak pohon jambu dengan sangat urakan.

Ditanah dataran tinggi ditambah angin yang mengoyak pakaian rasanya kita pantas menikmatinya dengan sedikit leyeh-leyeh, leha-leha atau cote-hale disebuah kursi panjang dengan suguhan es serut. oh maksud saya teh hangat.

Matahari saja sedang malas, apaladi manusianya?
mata saya menatap jauh ke langit sampai saya terbawa emosi kecil di suatu hari.

***

Buku Andrea Hirata betajuk "Laskar Pelangi" sudah pernah saya khatamkan, buku yang berkisah tentang mimpi-mimpi anak kecil yang terwujud setelah mereka dewasa.
ya, masa kecil yang hampir selalu penuh kelucuan imajinasi, karena hanya dimasa kecil kita bisa mengatakan awan yang berbentuk lumpur lapindo itu menyerupai Benua Eropa, sampai-sampai kita berani bermimpi untuk kuliah di Oxford University atau Cotnell University.
masa kecil tidak pernah mau-tau tentang apa yang terjadi kemudian. yang wajib diketahui adalah: "Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh maha mendengar"

masa kecil saya terbilang cukup labil untuk mencatat cita-cita, seusai menonton film Detektif Conan saja saya bisa meneliti segala hal yang berbau kejahatan, apalagi saat kecil saya pernah menamatkan buku Aryono Grandi -namun saya lupa judulnya- yang berlatar detektif. langsung saja saya berjalan mengendap-endap dengan gaya memegang postol padahal botol lalu bersembunyi di balik pintu dan menggebraknya sambil menembak puluhan orang padahal kamar itu kosong.
cita-cta ini terancam gagal karena saya tahu di Indonesia tidak ada SMK-Teknik Detektif, Akademi Detektif atau Kursus Detektif singkat bersertifikat ISO.

Musik favorit saya waktu kecil adalah suara-suara cadas dari band macam Jamrud.
Jamrud telah menjadi ruang tersendiri dari tubuh saya, dimana Jamrud mampu mengatur emosi saya. sontak saja saya bermimpi menjadi Rockstar, mimpi yang lucu bagi orang dewasa namun saya mengagguminya.
sampai hampir disetiap mandi sore saya latihan take-vocal sambil jingkrak-jingkrak dengan botol sampo sebagai mic-nya.

diluar rumah ada teman akrab bernama eko. si eko ini saya nilai cukup cerdas, dengan dirangsang dengan majalah Bobo Eko menerangkan pada saya proses terbentukna air mata. dimasa sekecil anak SD pula Eko bercerita pada saya ingin membuat Kincir Angin atau pembangkit Listrik tenaga angin seperti di Belanda. bayangkan! masih SD!

setiap kali Eko bercerita tentang ilmiah niat iblis saya selalu muncul untuk meracuninya dengan sepak bola. disini, dengan mencetak 2-3 gol saja saya sudah sesumbar untuk bertekad menjadi pemain sepak bola!
apalagi Om saya waktu itu pemain Persebaya bernomor punggung 12 dan tercantum sebagai pemain Timnas Indonesia. Yusuf Ekodono namanya.
semakin sombonglah saya sambil memamerkan darah sepak bola campur detektif bersuara rocker.

paginya, di SDN 252 Surabaya saya bersebelahan dengan murid pindahan dari Jawa Tengah. Ibnu namanya.
si Ibnu ini juga masuk golongan cerdas, terbukti dari berkali-kali saya mencontek tugasnya. Atas nama teman dekat, saya dan Ibnu membentuk konspirasi busuk untuk mengerjakan tugas bersama dengan Ibnu sebagai pemikir dan saya sebagai pengawas.

Ibnu teman saya ini sering sekali menawari saya pergi ke Suriname saat dewasa kelak, dan seringkali juga hanya menjawab tawarannya dengan diam saja.
Suriname menjadi negeri yang menarik bagi Ibnu kecil karena disana banyak orang jawa yang mungkin medok-nya sama dengannya.
saya menarik garis keras bahwa cita-cita itu tidak penting!, karena menurut analisis masa kecil saya cita-cita yang patut dibanggakan hanyalah menjadi detektif, pemain sepak bola dan seorang rocker, mungkin kalau bisa; pemain sepak bola bersuara rockstar yang nyambi jadi detektif.

disela keheranan saya dengan teman-teman yang maha cerdas, saya kagum dengan mereka, mereka mampu menjadi penopang nilai saya disaat saya benar-benat jeblok. bagaimana tidak? mereka bersekolah dengan terkesiap menerima guyuran ludah guru yang muncrat-muncrat saat menerangkan, sedang saya untuk sekedar bertahan menahan kantuk saat guru menerangkan saja sudah merasa berprestasi.

***

begitulah masa kecil, yang penuh impian yang kadang berbeda dengan apa yang terjadi di episode selanjutnya. tapi, sekali lagi. Jangan remehkan impian masa kecil.

Jumat, 12 November 2010

Kenapa Harus Teater?

Ada yang bodoh tapi tertutupi di Indonesia ini. gerakan saling membodohi yang sengaja disuburkan.

dengan tingkat Seni-Budaya yang luar biasa tinggi dan luas (bahkan tak terjamah)Indonesia seharusnya mampu berdiri di garda depan dunia. jadi kita tak perlu membesar-besarkan kehadiran Obama di Indonesia, karena kita yang seharusnya mempimpin!.
Salah satunya juga karena seni-budaya, beberapa intelektual post-modern menyatakan "negara yang berpeluang mempimpin dunia di tahun 2050 adalah Brazil dan Indonesia!"
sayangnya, 2012 sudah kiamat..

***

malam itu rembulan kelima sejak pembukaan "Festival Seni Surabaya" dan bertepatan dengan Hari Pahlawan. Ada banyak pertunjukan yang hukumnya "sunnah" untuk disaksikan. di Gelora Tambaksari terdapati ribuan "cucu Adam" berseragam hijau-hijau menyaksikan pertandingan Surabaya FC VS Belanda, di Tugu Pahlawan ada ribuan "cucu Siti Hawa" menikmati sajian musik band populer saat ini dengan aneka dandanan untuk mearik perhatian. juga berbagai pertunjukkan yang tak sempat saya catat.

tapi saya memilih "merenung" ditempat lain, saya diajak merenung tentang perkembangan anak-anak kecil dilingkungan pelacuran Kremil oleh pentas Teater "rembulan Di Atas Kremil" dari Teater Berdaya Bangunsari Surabaya.
dalam naskah itu diceritakan alasan dasar empat "mantan gadis" sebelum mereka menyajikan dirinya dilokalisasi Kremil, ada Dara yang putus sekolah sejak SMP dan pacarnya adalah orang pertama yang mengajaknya masuk lingkup kriminal, sampai akhirnya dia dicekoki dan diperkosa ramai-ramai oleh pacar dan teman pacarnya. Ada "ilmu kekinian" yang dapat ditarik bahwa; banyak anak muda yang lebih fokus dengan pacarnya ketimbang dirinya. Saya jadi ingat pesan dari seorang Pastur: "hiduplah bersama orang yang lebih mencintaimu, bukan orang yang lebih kamu cintai"

sampai di titik nadir, Dara melarikan diri menjadi pelacur di Tretes, ada juga peran yang sengaja dijual oleh suaminya tanpa dibayar sepeserpun, sementara suaminya sibuk memenuhi dunianya sendiri. Dan yang paling miris, anak-anak kecil yang duhantui oleh "masa depan ranjang". Masa dimana dirinya harus menjual kelamin manusianya dengan harga binatang, masa dimana mereka harus pasrah dikerangkeng rupiah dengan alasan bertahan hidup, masa dimana mereka menyaksikan rembulan diatas Kremil sambil manja berkata "mas, gak mampir ta?"

Pentas Teater yang disutradarai Zainuri itu dimulai pukul 20:00 dan selesai sejam kemudian.
sesudahnya, masih dalam rangkaian "Festival Seni Surabaya" ada pentas Teater Teku dari Yogyakarta yang mementaskan lakon "Kintir" di pelataran Balai Pemuda.
saya merasa ditampar-tampar bahwa pentas teater tidak hanya dilakukan di gedung pertunjukan tapi di pelataranpun bisa!.
ini pertamakali saya melihat teater outdoor dengan penonton membentuk tapl kuda, biasanya saya terpaku pada sebuah panggung dan pemain yang berorientasi depan panggung. Disini tidak!. Saya merasakan dimensi yang lebih luas, dengan orientasi tak terbatas. Benar-nemar komtemporer!.

Teater Teku menyajikan mozaik antara Epos Mahabarata dengan kehidupan masyarakat pedesaan.
setiap segmen cerita seperti ditumpuk menjadi gerakan-gerakan teatrikal yang minim dialog tapi luas makna.



"kintir" berkisah tentang Dewi Gangga yang turun ke bumi dengan tugas melahirkan delapan wasu yang dikutuk menjadi manusia, tujuh anak diantaranya dihanyutkan di sungai tertinggal anak terakhir yaitu Dewabrata yang kelak dikenal sebagai Bisma.

lalu kisah ditumpuk dengan teks rekaan tentang ibu yang melahirkan delapan anak karena diperkosa, namun tujuh anaknya hilang tanpa sebab yang jelas.
Hingga pada suatu hari, ada tiga anak kecil yang mencari ikan di sungai. Teater Teku berhasil mengolah dialog dengan bahasa yang dekat dengan publik Surabya.
Ditengah keasyikan mencari ikan, Anto, salah satu dari mereka hilang "kintir" (hanyut) di sungai. dua temannya merasa takut dengan tragedi ini dan "surup" (pergantian siang menuju petang) tiba, segerombolan dedemit sungai menari-nari diiringi jerit ibu yang mencari buah hati.
Lalu munculah Bisma, putra terakhir dari Dewi Gangga berbicara dengan bahasa dramatik.
Sampai disini penonton berhak mengimajinasikan cerita dengan perspektif masing-masing.

***

jadi, kenapa harus menonton Teater?
Teater selalu mengangkat tema yang jauh dari film-film bioskop pada umumnya. Film bioskop terkurung oleh keinginan pasar, sementara teater membentuk dirinya sendiri dengan garis equator sejarah, foklor atau masalah sosial.
Peran di film juga sangat baku dan membosankan, jika dibandingkan dengan teater yang bebas lepas pakem, teater adalah tontonan alternatif cerdas dengan misi mempertahankan atau memperkenalkan Seni-Budaya yang lama ditelan gedung-gedung bioskop yang hampir selalu memutar film-film horror semi porno.

Tak jarang gerakan teatrikal yang penuh muatan kritik sosial atau dialog-dialog teater yang penuh pesan moral mampu menginspirasi sekaligus menyadarkan bahwa kita telah lama tidur di gedung bioskop.

Kenapa harus Teater?
Jawab setelah menyaksikan Teater.


*foto dirampok dari sini

Kamis, 28 Oktober 2010

Pripun Gusti?

sedangkan aku?
aku telah melebur, menjadi keping yang lebih kecil dari atom.

sampai pada saatnya, angin menendang, menerbangkanku jauh melewati batas waktu manusiawi. aku tak mengenali lagi 'aku'.
aku hilang, melayang-layang dan jatuh di kubangan problematika.

tak sempat sadar,
di senja yang lembut datang manusia mengambilku.
mengepal-kepalkan badanku menjadi manusia yang sebernarnya, sambil tertatih perlahan aku merasakan kehidupan.
jauh!. sangat jauh dari jangkauan kepak telapak tanganku yang mungil, kehidupan begitu hingar kurasa.

***

dilain tempat.
dewasa sudah pasir kecil yang dulu berterbangan, atau terkadang menempel dikakimu.
sungguh, dia tetap mencari hidupnya, dari waktu ke waktu, dari hijrah ke hijrah.
ditemukannya lahan luas terbentang kaku dihadapannya. lahan kekolotan yang tak berubah suatu apa.

setelah menemukan pencarian, tetap ada tugas yang dijalankan.
lahan yang kolot harus dirubah, entah berubah atau si pasir dewasa yang akan tertanam didalamnya.
ya, tertanam adalah bagian kecil dari penindasan yang harus taat pada aturan-aturan puritan.

dilema terjadi padanya, bingung harus dijadikan apa?
jangan kau tanya aku!
aku telah melebur, menjadi keping yang lebih kecil dari atom.

kelak, ketika lebih matang, si pasir akan paham.
bahwa kehidupan tak perlu dibayangkan.
masa depan tidak ada pentingnya dipikirkan.
karena yang pokok bukanlah masa depan, melainkan hari ini.

hari dimana terjadi dilema, hari dimana ada kebingungan antara berjalan Idealis atau Apatis.
ukurlah, pikirkanlah, hari ini saja.

***

dalam sunyi ia bertanya:
"gusti, pripun niki?"

Jumat, 24 September 2010

Jum'at Agung

Ibu, dewasa ini aku menjadi sering memikirkanmu, menghayati doa-doamu ditengah sujud yang suci.

Seandainya pagi ini seperti empat tahun yang lalu, engkau pasti sedang menawarkanku segelas susu dan dua potong roti yang dilengketkan dengan susu cokelat cair.

Aku ingat betul kenangan itu, bajuku berwarna putih dipadu celana biru pendek. Lantas, kau betulkan letak bajuku, merapikan dan mengingatkan memangkas rambut dengan menariknya pelan.

Saat aku berusaha menerobos celah kenang-kenangan itu, ada sebuah beton besar menutupinya. Aku anak pertamammu, bu. Aku diharamkan bersikap lembek dengan mengingat-ingat atau sekedar berandai-andai tentang sesuatu yang lucu.

Baiklah, bu. Sekarang kita bicara masa depan, kita tutup saja kenang-kenangan itu dengan selimut perasaan. Masa depanku sepertinya akan sedikit membelot dari perencanaan awal kita, aku memutuskan itu untuk kita berdua dan kemanusiaan, bu. Aku tak punya kebijakan khusus untuk memaksimalkan masa depanku untukkku sendiri.

niki damel njenengan sisan”

Permasalahannya adalah; “jalan baru” ini penuh batu, kalau mengingat batu aku jadi memperhitungkan langkah maju dan mediskusikan potensi keliru. Tapi kita hadapi sajalah. “lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah” begitu kata Hok-Gie.

Aku tak bisa bertahan di satu titik ini, bu. Karena perikemanusiaan dan cinta berada diatas pertimbangan politik sempit. Yang kumaksud politik sempit adalah mereka-mereka itu, bu. Orang-orang yang kolot dan konservatif, yang mempertahankan tradisi militer daripada demokrasi.

Bu, hari ini adalah hari “Jum’at Agung”. Apa Do’a ibu?. Aku harap do’a kita tidak terfokus pada dompet saja. Karena aku yakin sekali, Tuhan menciptakan “Jum’at Agung” ini khusus untukmu, bu. Tuhan merancang hari ini khusus untuk memeluk do’a ibu.

Sebelum ada yang mendahului kuucapkan “Selamat Ulang Tahun, Ibu”. Akan kutitipkan tulisan ini kepada Jibril untuk menyampaikannya padamu. Maaf, bu aku tak bisa memeberimu apa-apa, karena aku tak memiliki apa-apa selain kertas dan pena. Selamat Ulang Tahun, sekali lagi.

Minggu, 22 Agustus 2010

Tanda Tanya

berita datang petang itu, sesaat usai masjid mendendangkan suara-suara ketuhanan.
singkatnya saya harus kembali lagi ke Semarang, lagi-lagi untuk menghadapi ketidakpastian.
Ya, kepastian yang hakiki adalah ketidakpastian itu sendiri.

Selain mati. kepastian dalam kehidupan adalah "ketidakpastian". setiap saat dan dimana saja selalu bertemu dengan ketidakpastian, seperti menghantui saja yang namanya tanda tanya itu!

tapi seperti kata Soe Hok Gie dalam sebuah puisinya:
"Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya. Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah."

Soe Hok Gie adalah sosok yang sudah meracuni saya dengan bermacam kata kritis yang jarang diterapkan banyak pemuda. Berontak, Nekad, Berani, Jujur, Bersih. setidaknya deretan kata itu yang sering muncul ditulisan-tulisan Gie.

Berontak untuk memberangus kekolotan "Kaum Tua" yang seringkali tak paham bahwa jaman sudah banyak beralih dari keadaan saat beliau muda. mereka tak sadar bahwa kemerdekaan lahir karena pemuda yang memaksa "Cak Karno" agar sesegera memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini dan pemuda pula yang berani membongkar benteng kokoh keseragaman orde baru yang membungkam kebebasan berekspressi.

sayangnya, dijawa, pemuda terikat hukum fardhu ain untuk menghormati keputusan kaum tua.
kalau sudah begini cukup sukar untuk berani berontak dengan institusi orang-orang tua, sekali lagi kita katakan dengan pelan "yang kolot!"

"orang bodoh kalah dengan orang pintar dan orang pintar kalah dengan orang Nekad."
saya merasa sudah cukup nekad dalam mengambil keputusan untuk menghadapi kesulitan dari orang nekad pula. termasuk keputusan saya pindah keSemarang beberapa hari saja usai lulus sekolah. (untuk ukuran mantan pelajar yang masih labil ini bisa dibilang kenekadan kerdil)
ke'nekad'an bukan berarti tak berbatas, Nekad berguna untuk memilah dan memilih sesuatu yang runyam didalam pikiran.
Nekad tidak perlu lagi dialog!

Jujur dan Bersih adalah bahasa vertikal yang tegak lurus dengan langit bukan bahasa horisontal yang biasa digunakan manusia. itu sebabnya sangat amat jarang ada manusia berperilaku Jujur dan Bersih.
sampai-sampai aktos senior Pong Harjatmo membuat "grafiti" tiga kata yang salah satunya ada kata Jujur untuk menekankan betapa pentingnya kejujuran itu.

yah, paling tidak kita masih bisa jujur bahwa dihidup ini kita selalu bertemu dengan tanda tanya yang mendorong untuk tidak jujur.

"hadapi.. hadapi.. hadapi....!!"
saya mendengar itu dari batin saya, saya harus kembali menghadapi tanda tanya.

Rabu, 11 Agustus 2010

angka satu

JALANG!
batinku teriak melampiaskan kekalahan untuk kedua kalinya. aku tak kalah melawan lawanku tapi aku kalah melawan skenario tuhan saja.

***

apa yang kalian tahu tentang skenario tuhan? pasti tidak ada, itu sebabnya agamawan menyerukan berjuang keras untuk kehidupan bersama.
memang, saya tak memungkiri kebaikan tangan tuhan (walaupun sebetulnya saya tak bisa memastikan tuhan memiliki tangan atau tidak) karenanya saya ada dimuka dunia ini. aku ada karena didalam diriku adalah tuhan, "manunggaling kawulo lan gusti"
tapi bukan karena itu saya tak berani menggugat tuhan!
dengan niat yang tidak jahat, kita boleh saja menggugat.

"hey Jibril, biarkan aku menembus dimensi yang kau jaga. agar aku bisa mendemonstrasikan perasaan, berupa pesan gugatan hidup"

***

Tuhan adalah alam semesta, dia berbahasa dengan apa yang ada disekitar mahkluknya.
aku mencoba meraba-raba tentang apa maksudnya melahirkanku menjadi anak pertama dari pasangan orang tuaku.

begini rabaanku:
dalam sebuah keluarga, anak kesatu adalah penyanggah masa depan dan tempat bersandar anak-anak selanjutnya.
hal ini yang membuat persimpangan jalan yang panjang di dalam pikiranku. apakah aku harus mengikuti jalanku sendiri yang belum tentu dapat menjadi tempat bersandar ataukah aku harus mengikuti jalan mereka yang mampu meminimalisir kesalahan yang sebetulnya aku tak tahan berada di jalan itu?.
aku seperti puing ditengah emosi kota besar.

didalam urut-urutan numerikal, angka satu berada dipunggung angka nol.
nol dapat berarti kosong dan sunyi. sekali lagi, ini cara tuhan mendeskripsikan skenario hidup seseorang.
adalah bahwa: aku harus melewati kesunyian didalam diri, menembus diri lebih dalam dan mencari angka satu digundukkan tulang rusuk.
begitulah kesulitan anak kesatu untuk menemukan angka satu.

satu sisi aku terlihat jantan dalam hal ini, tapi sebenarnya aku juga memiliki perasaan peka yang seringkali tak tahan mencari semua ini.
ada hal yang membuatku membara lagi, rahim bumi (ibu) dan langit sore (bapak) menjadi pendorong kuat untukku mencari diri, mencari satu, menemu hidup.

"Tuhan, aku bersiap merentangkan tubuh dimeja jagad raya untuk menyatu denganmu kembali.
mewujudlah didalam batinku, aku dan engkau adalah satu."

Jumat, 25 Juni 2010

KALAH!

AKU merasakan ada sepasang tanduk yang tumbuh terselip di kanan-kiri kepalaku. bentuknya menyerupai cula badak tapi berwarna merah dan lebih lancip.

***

TARUHAN, kalian pasti tak percaya bahwa dua malam terakhir aku tidur dengan seekor Serigala betina.

malam. satu-dua nafas kurasakan begitu bernafsu, baunya asing. tak seperti nafas-nafsu manusia diranjang prostitusi menengah.
tubuh kubaringkan miring, dia memelukku dari belakang, perutnya menempel dipunggungku, begitu halus.
mataku pelan-pelan menyorot belakang punggung dan tampaklah Serigala betina yang aktif mendenguskan nafasnya ditengkukku. kaki depannya ditekuk diatas lenganku dengan sesekali lidahnya menjulur menempel tengkuk untuk memberikan isyarat titik klimaksnya.

kudengar anjing-anjing melolong dijalanan depan rumah, suaranya begitu jalang waktu sampai ditelingaku. seperti supporter bola, mereka membuat kerusuhan dijalanan atau malah menyoraki Sang Ratu Serigala yang ada dibelakangku? entah.
yang kutahu, yang kupikirkan, yang terpusat dalam pikirku hanya keesokkan hari. hari dimana aku menentukan panjang-pendek umurku.
ya, selayaknya kebudayaan kerajaan. aku harus menunjukkan kekuatan dengan menundukkan lawan untuk sekedar ekspansi wilayah, memamerkan kekuatan atau memenuhi sumpah yang pernah dilaksanakan Gajahmada dalam "Sumpah Amukti Palapa"
aku harus perang esok hari!

***

esoknya.
pagi ini tak memenuhi persyaratan untuk disebut pagi.
pagi yang gelap, matahari seakan takut melihat pertempuran yang akan terjadi padaku. pikirku ini pasti perbuatan pawang hujan!. bagaimana tidak? awan gelap begitu tebal, serta angin meniupkan aba-aba siap menjatuhkan keringat, tapi pawang hujan berhasil menahannya dengan rapalan-rapalan jawa kuno.
namun, hatiku kecilku berbeda. pelan-pelan lubuk terdalam menyeruapkan suara ketakutan dan menguap sampai langit membuat matahari tak sampai hati menyaksikan kematianku hari ini.

terkadang percaya kata hati sama konyolnya dengan kiai-kiai sinetron yang berdakwah didalam kotak kaca itu! terkadang pula, kata hati mampu menciutkan nyali sendiri.
tapi, aku tak pernah takut mati apalagi rasa takut pada hal yang tak mendasar. aku lebih takut kehilangan orang-orang yang kusayang dari pada berjumpa dengan malaikat pencabut nyawa.

***

"Angkara Palagan" telah kumasuki dengan gerombolan setan roban dibelakangku juga segenap Lampor Nyai Roro Kidul. untuk menambah batalyon pertempuran ini aku sempat membai'at anjing-anjing jalang depan rumah semalam yang kini resmi menjadi pengikutku.

hujan tercurah dari langit sebagai pertanda dimulai retaknya bumi yang kupijak ini. dengus-dengus hidup-mati, nafas-nafas menang-kalah tertiup ditengah-tengah pertempuran.
dan..

jatuh tubuh seseorang didepanku, warnanya merah hati. hati yang mati. ujung gaman lawan telah melubangi perutnya.
hujan semakin ganas mengalirkan darah-darah mansia yang gagal menjadi "Satria Piningit".
satria itu hidup! bukan mati!

akupun begitu meluap demi gelar kesatriaanku. badanku melayang-layang menghindari panah beracun.

sampai diakhir pertempuran, aku melihat sekilat cahaya yang membentuk keris. melayang cepat menuju kepalaku, aku rasa ada benarnya kata hati.
aku akan mati?
tidak!
Ratu Serigala menyumbangkan nyawanya untukku, dia melompat kedepan menghadang sebilah keris yang berhenti dipangkal tenggorokannya.
tak sempat aku ucapkan "matur suwun" kepadanya.

diam-diam datang seorang pengecut sejati menusukku dari belakang.
aku tekapar jatuh dengan semburan merah hati di punggung.

***

malam kembali datang menggagahi bumi.
perang telah berakhir.
aku mati.
mbrebes mili jare wong jowo.

Kamis, 27 Mei 2010

19 Tahun

sembilan belas.
adalah angka yang nampaknya selalu menempel di otak saya beberapa hari yang lalu, tak kenapa-napa hanya saja angka itu memberi saya tanda tanya besar.
Apa yang saya capai sampai sembilan belas tahun berada di dunia ini?

saya tak bisa menjawab pertanyaan dari pikiran saya sendiri, semakin saya berpikir apa yang saya berikan kepada orang lain dan apa yang saya dapat dari perbuatan saya semakin saya merasa mengecil dari tahun-ketahun. singkatnya TIDAK PUAS!

saya belum merasakan pencapaian klimaks dalam hidup ini.

***

ini adalah pertama kalinya untuk sekian kalinya saya melewati tanggal 27 mei berada diluar kota Surabaya.
yaitu berada di sebuah kota ditengah padatnya pulau Jawa, Semarang.

ada yang sudah membaca koran hari ini?
bagi yang belum saya beritahu sekarang:

DiSemarang, Polisi mensiagakan ratusan pasukan Anti Huru-Hara di pusat-pusat keramaian kota hanya untuk mengamankan jalannya pesta ulang tahun saya. masih kurang heboh?
tidak berhenti disitu, Tim JIHANDAK (Penjinak Bahan Peledak) KODAM IV DIPONEGORO SEMARANG-pun dikirim untuk menjaga stabilitas dirumah saya.
sebab, beberapa hari sebelumnya salah satu personil GEGANA POLRI mencurigai tamu undangan yang memberikan kado berupa bom yang berdaya ledak tidak besar tapi berdampak sampai radius 270 meter.

bom ini menyebabkan orang sulit bernafas, kejang perut dan pingsan jika daya tahan tubuhnya lemah.
dalam dunia medis bom seperti ini diyakini berasal dari reaksi kimia yang membentuk sebuah gas bercampur dengan bakteri, dan menurut saya yang notabene bertindak sebagai ahli Ngawurnologi (ilmu ngawur dan se'enaknya) bom ini biasa saya sebut kentut.


hal selanjutnya adalah melihat peta hidup.
ya, betul!. bagi saya peta hidup sangat penting, bahkan untuk hal yang sangat jauhpun sudah saya rencanaan mulai hari-hari yang lalu, misalnya menikah, saya sudah punya tahun yang menurut saya tepat (sebenarnya sih, nggak laku-laku)

pun, masih sangat saya perlukan untuk belajar mencintai semua mahkluk hidup dan melatih diri untuk tidak disukai orang lain.
karena saya percaya betul, walaupun didunia ini tidak ada agama tapi jika setiap penghuni bumi menerapkan konsep ilmu "Cinta-Kasih dan kemanusiaan" saya yakin dunia ini akan baik-baik saja dan tidak mudah ditelan dengan issue-issue kehidupan yang memaksa manusia menghabiskan waktunya berendam dalam kubangan lumpur masalah.

begitulah, hari ulang tahun saya yang ke-sembilan belas tahun ini.
berbeda dengan kenyataannya hari jadi saya ini sangat biasa.

tak lupa pula untuk semua orang yang mengucapkan "selamat ulang tahun" kepada saya. saya ucapkan "matur suwun sanget" (terima kasih banyak) terutama orang yang pertama mengucapkannya, yaitu orang yang biasa saya panggil Ibu.

Kamis, 29 April 2010

Cerita Dari Ibu Pertiwi

karena sudah malas mempelajari buku, puluhan pelajar turun kejalan saling lempar-melempar batu. dengan gesper besar melilit ditubuhnya padahal nyali tak sebesar gespernya, bicaranya sok jagoan padahal beraninya kalau ada banyak teman.

tawuran itu pengecut!. dan senjata paling pengecut adalah batu! beraninya melempar dari jauh!.
apa yang membuat pelajar saling bertengkar?
apa mereka ingin mempraktekkan nilai-nilai pejuang kemerdekaan?

membawa spanduk besar bertuliskan "turunkan..!" sambil meneriakkan nama presiden. ratusan mahasiswa berdemo besar-besaran berdampak keacetan dan rasa pilu yang takkalah besar. sebagian dari mereka berkoar dengan microphone ditangannya "kinerja presiden buruk! turunkan..!" sebagian lagi hanya ikut-ikutan.

diujungnya, polisi sibuk menyemprotkan water canon pada buruh yang menuntut kesejahteraan. pagar gedung MPR/DPR dirobohkan sebagai pelampiasan.
pagar gedung jadi sasaran menunjukkan bahwa manusia memiliki tingkat kewarasan yang kurang.

sepak bola bukan hiburan melainkan menonton hewan. ribut-ribut ditengah lapangan, bukan bola tapi wasit yang ditendang. sementara induk organisasi sibuk bertaruh tempat penyelenggaraan piala dunia yang masih beberapa belas tahun kedepan.

tribun penonton tak mau kalah. botol-botol air mineral dilemparakan, memaki wasit dengan dua kata "wasit goblog!"
apa perlu diadakan sepak bola di taman satwa liar?
toh, pemain dan induk organisasinya sama-sama bernaluri hewan.

nama tuhan di sebut-sebut dengan keras. berpakaian ala agamawan tapi tangan memegang kayu balok siap dipukulkan kemuka lawan.
coba terka, ada apa disana?
ormas-ormas berebut lahan sengketa atas nama agama yang katanya membawa kedamaian.

"aduhh.." rintih personil Satpol PP yang kepalanya bocor akibat dikeroyok orang-orang beragama. dapat pula ditarik kesimpulan bahwa agama bukan saja membawa kedamaian tapi juga mampu merubah pengikutnya menjadi setan.
karena merasa disudutkan warga, Satpol PP berdalih ini bukan karena mereka. tuduh menuduh terjadi disana. sulit berhenti.

aparat merobohkan gerobak bakso sambil berteriak dalam hati "tugas negara ada dipundak kita" kuah bakso meluber dijalanan dan warnanya berubah menjadi merah karena darah anak-anak kecil yang dibesarkan dilingkungan beringas.
"dunia ini keras, nak" nasehat ibu "untuk dapat bertahan kau harus menjadi keras pula, nak"

hari berikutnya tukang bakso ditemukan mati disebuah pasar swalayan, setelah diselidik dia mati karena takut diterkam algojo-algojo rentenir.

para "tetua" masih tak mau meluangkan waktu untuk mencarikan solusi semua itu. karena disibukkan dana pajak yang keliru ditransfer kepada seorang Pegawai Negeri Sipil. yang lebih tua malah latihan teater tetang dana bank yang hilang misterius.

jelas misterius! bukankah mereka yang "calon-calon magician" yang sempat meminta-minta agar wajahnya di contreng dulu?

tak berhenti disini, satu-satu menyatakan argumentasi guna menyudutkan suatu kubu. dikubu yang lain ikut menuduh. semuanya saling menuduh, membuat negeri ini semakin gaduh...

betapa negeri ini penuh dengan kekerasan
setiap individu mencari dan memburu kemengangan, setelah kemengangan itu tercapai baruah tersadar bahwa kemengangannya menimbulkan konflik-konflik disetiap daerah. lalu konflik menelurkan banyak korban.
semakin banyak korban semakin kita butuh sosok "Semar" yang menuturi bahwa kemengangan itu selalu berdiri acuh tak acuh diatas korban.

kemenangan atau kemerdekaan yang berhasil diraih secara perlahan-lahan mendorong kita untuk melupakan tiga wawasan, yaitu:

wawasan kebangsaan:
berupa rasa persatuan yang mampu meminimalisir terjadinya konflik, berhenti memukul karena adanya rasa saling memiliki perasaan.

wawasan kebijaksanaan:
ada banyak orang beragama, namun tak banyak orang yang "bijak dalam beragama" orang beragama cenderung memeluk dan merasa agamanya yang terbaik, jalannya yang paling benar. dan merasa paling baik dan benar adalah bagian dari ego sentris. apakah bermacam agama diciptakan untuk mencetak manusia yang menumbuhkan ego?
bukankah dunia terasa lebih damai dengan rasa saling menghargai tanpa memandang agama dan aliran, apalagi menuduh kesesatan suatu sekte.

wawasan kemanusiaan:
tidak akan ada orang yang merasa miskin, tersudut, terpinggirkan lalu bunuh diri jika kita mengembangkan rasa kemanusiaan. adanya kasta-kasta dalam hidup berguna untuk menggerakkan hati-pikiran manusia agar saling membantu atas dasar jiwa kemanusiaan.

begitulah cerita dari ibu pertiwi.
lalu, muncul pertanyaan, siapakah ibu pertiwi itu?

Ibu Pertiwi adalah aku
Ibu Pertiwi adalah kamu
cerita Ibu Petiwi adalah cerita kita.

Kamis, 08 April 2010

Puing-Puing Pabrik

"rek ayo rek dulinan" ajak Leni bermain pada teman-temannya
temannya menanggapi dengan berkerubung tak rapi.

malam itu kami bermain gentong-gentongan. permainan klasik yang tak menghabiskan tenaga.
tiba-tiba ditengah permainan terhenti oleh sebuah bau yang menyengat.

"ehh.. sopo iki sing ngentut!?" tanya Ari perihal bau kentut.

tanpa ada yang menyuruh Yeni langsung bernyanyi sambil menunjuk temannya satu-satu

"Bang-bang tut jendela-lawang
sopo mari ngentut ditembak raja tua
tua-tua kaji, rambut'e karek siji
mbukak lemari, isine roti.
roti-roti atos, selet'e mbeldos!"

nyanyian berhenti dan telunjuknya menunjuk Mujib. semua menuduhnya sebagai pembuang bom bisu sembarangan.
"duduk aku!" Mujib membela diri.
"kalau tidak percaya, cium saja pantatku!"


***


pukul tiga sore hari. belasan anak berkumpul di sebuah pabrik. pabrik yang terbakar dan kini tinggal puing-puing, lebih akurat jika melihat temboknya yang miring hampir rubuh.
ujung dinding dijebol membentuk lingkaran tak sempurna berukuran setengah meter.
tinggi, rendah, gemuk, kurus jika ingin memasukinya harus patuh merunduk. hal kecil ini mengajarkan pada kita untuk berendah diri saat dijinkan menjadi tinggi nanti.

anak kota suka main bola, anak kota antusias berlari, mengejar, menggiring, menendang dan menangkap bola.
anak kota bermain diteduhi ironi besar.
anak kota tak punya lapangan bola.

jika tak salah hitung, waktu itu saya masih SD. gemar-gemarnya bermain bola.
sepak bola saya lampiaskan di pabrik tersebut. pabrik yang tak beratap lagi, pabrik yang dindingnya hampir rubuh, pabrik yang ditumbuhi semak belukar dan tumbuhan liar.

saya bercerita tentang sepak bola masa lalu saya bersama teman-teman. dengan bola plastik berharga ribuan. digiring oleh Supri diumpan pada Afu. anak keturunan Cina ini menyusup sampai depan gawang lawan, oh Andi sigap didepannya, sedikit terjatuh menangkap bola. aman "gawang kita aman!"

gawang dibuat dari batu puing-puing bangunan, ditumpuk pada kedua ujung. sederhana. lalu Andi dan Johan membentengi kedua gawang, berhadapan dengan status persaingan.

bola diterima Mathius, goyang samba sodorkan bola pada Candra.
Candra cerdik lambungkan bola, disundul Agus kepojok gawang, tangan Johan berkilah tak sampai. "kita kalah satu angka" sesalnya.

"jangan menyerah! ini bukan persaingan yang memperebutkan lahan!. ini persaingan yang dibalut kebahagiaan. kau harus tahu itu! aku disini bukan lawanmu, aku temanmu yang siap membagi keceriaan."

kami pernah bermain bola di lapangan Volly milik RW. tapi atas dasar kekuasaan absolut orang-orang dewasa, kami dilarang bermain bola di lapangan Volly dengan alasan merusak pasir lapangan. dan yang paling saya sesalkan mereka mencekoki kami dengan permainan Volly. "ah! olahraga apa ini!? bukan sehat malah tangan memerah didapat. merusak tangan saja!" umpat saya waktu itu.
hati kecil saya berontak, tak tahan melihat orang-orang dewasa yang menurut saya tak mampu menerapkan keadilan!
saya ingin melawan! tapi apa daya saya? waktu itu saya masih menjadi pelanduk. yang tak bertanduk, yang tak bertaring.

sampai akhirnya, dipabrik ini saya melampiaskan perasaan.
tersudut oleh bangunan-bangunan kota dan terpojok oleh kewenanngan orang dewasa.

jangan memarahi kami yang tak punya lahan, jangan memaki kami yang mencari keceriaan, jangan bebani kami dengan masalah-masalah, jangan turunkan ilmu mencuri, jangan ajari cara mengumpat.

ajari kami tentang kebahagiaan agar tak manja saat dewasa,
curahi kami persatuan agar kami paham pentingnya kebersamaan,
kenalkan kami pada tuhan agar kami tak mencuri lahan.

langit menggelap diringi suara qiraah di masjid. "ayo moleh rek!, wis maghrib!"
dirumah, saya selalu dimarahi Budhe saya karena badan kotor, keringat ambrol disana-sini, kaos kotor basah keringat dan celana yang bagian belakangnya berwarna cokelat kehitam-hitaman khas debu jalanan.



* ditulis pada suatu malam, saat pikiran saya terbang kemasa lalu.

Kamis, 01 April 2010

HAKIKAT Terminal Terboyo

di sebuah bus ekonomi jurusan Surabaya-Semarang terdapati seorang bapak yang bersebelahan dengan anaknya

"yah, aku nggak bisa tidur, nggak ada AC-nya sih"
ayahnya yang katrok malah bertanya. "AC itu apa sih?"

"kalau nggak salah AC itu Air Compressor yah.."

"oalaahh air! jadi kamu mau tidur sambil basah-basahan?"
mendengar jawaban sang ayah, si anak merasa sangat menyesal dilahirkan dibumi ini.


***

adalah terminal Terboyo. salah satu aset dari Kota Semarang.
saya sendiri sudah lebih dari sering untuk memijakkan kaki ditanahnya yang selalu becek. mungkin karena letaknya yang berada di dataran rendah. juga karena itu daerah yang berada di sekitar terminal dijuluki "semarang bawah"

seperti fungsi terminal pada umumnya, yaitu untuk menaik-turunkan penumpang, transit ataupun sebagai sarang kriminalitas ala masyarakat proletaar. baru-baru ini saya tersilaukan oleh "cahaya kecil" yang berada ditengah centang-perentang dan peluh keringat terminal.

dari sebuah WC umum berlantai licin dengan penjagannya yang hampir selalu mendendangkan musik melalui handphonenya. mungkin rasa penat sudah mengerubungi kepalanya.
dinding WC umum menempel padat pada sebuah mushola.

ini terminal ala negeri ini!.
jangan harap dapat menemukan tempat yang bersih nan nyaman untuk melepaskan lelah sejenak.
termasuk Mushola, yang seharusnya bersih dan menyenangkan untuk disinggahi.
dapat dilihat lantai keramik berkerak tebal sampai karpet-karpet berdebu menambah kesan kotor untuk ukuran tempat ibadah dan dibagian pojok beranda berjejalan saling menindih bangku-bangku kayu yang entah berguna untuk apa.

tentu saja didalam terminal itu ada saja yang menipu, mengambil barang kecil-kecilan (ngutil) atau mengambil barang dari pakaikan dengan cepat (copet). itu gambaran buruk dari terminal

yang jelas sebagian proses penyelenggaraan kegiatan terminal dikendalikan bersama-sama oleh masyarakat dengan bermacam kesepakatan tak tertulis untuk melindungi kepentingan bersama.

terakhir kalinya saya berada di terminal ini, saya menyerap banyak ilmu dan pengalaman hidup dari seorang penjual buku keliling.
buku yang ia bawa tak begitu banyak dan jenisnyapun tak beragam, hanya beberapa buku-buku ilmu tasawuf.

sayapun tertarik menggalinya. kenapa hanya buku-buku tasawuf?
jawabnya sederhana, "buku-buku ini kiriman dari Surabaya, dan saya sendiri gemar mempelajari ilmu tasawuf dari sebuah thariqat"
dalam satu hari buku-bukunya terjual empat sampai enam buah dan sore itu masih laku dua buah buku. "dina iki isih payu rong buku, mas" katanya kepada saya dalam bahasa jawa semarangan.

dari jawaban-jawaban sederhana bapak ini, saya mengurai panjang ilmu yang terkandung pada dirinya.
bahwa: bapak penjual buku ini tidak begitu merisaukan hasil kerjanya, tidak memusingkan isi dompet yang mengempis. karena menurutnya yang terpenting bukanlah hasil, melainkan "proses"

proses untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi mahkluk hidup disekitar, proses menjadi orang yang lebih baik dan bermakna. karena didalam proses terdapat ujian-ujian yang mendewasakan hati dan pikiran manusia.

langit semakin meredup. perbincangan kami terpotong oleh hari.
sayapun pamit bersama matahari.


* ditulis untuk penjual buku tersebut.

Kamis, 04 Maret 2010

seminggu sebelum Semarang

seminggu sebelum semarang
seminggu sebelum pergi
seminggu sebelum kembali
seminggu sebelum bertemu
seminggu sebelum berpisah
seminggu sebelum berhari-hari



mungkin, kamis esok aku tak nampak lagi di kota yang sering dinilai sebagai kota yang keras. Surabaya.
dan itu yang membuat saya merasa risau.

saya masih ingat, pikiran saya melayang mengingat kenangan menembus batas-batas ruang walaupun saya sadar saat itu masih terduduk disebuah bus ekonomi.
Tugu Muda nampak jelas di sebelah saya, seolah ia bergerak menampar wajah saya untuk berhenti melamun, berhenti mengingat-ingat masa lalu dan berkata:

"kamu tak di Surabaya lagi, kamu ada di disini, dikota ini, kota asem kang arang-arang"

minggu depan akan kutilik kembali engkau
tugu muda yang pongah ditengah jalan



* ditulis dengan pikiran risau
** foto diculik dari sini

Senin, 01 Maret 2010

bersakit-sakit dahulu bersusah-susah kemudian

dibawah ini adalah sekelumit kisah tentang pencarian jati diri, pencarian pekerjaan, pencarian calon istri dan segala macam pencarian.
semuanya dapat dibaca hanya dengan membayar sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah.

pelamar: pak disini bener perusahaan "X" ya? yang butuh pekerja baru ya?
satpam: ohh.. benerr.. tapi penerimaan pegawai tidak disini! ini kantor satpam!
pelamar: ohh.. maaf.. saya kira ini warung remang-remang..

pelamar: bu.. saya mau melamar..
sekretaris perusahaan: apa!? kamu mau melamar saya!!!
pelamar: bukan bu.. saya nggak suka ibu-ibu..
sekretaris perusahaan: jadi kamu rasa saya sudah tua dan gak kuat kawin? emm.. maksud saya nggak kuat kerja!?
pelamar: bukan bu.. ibu masih cantik.. tapi sayang giginya rompal.

pelamar: permisi..
pemimpin: kamu mau ngamen ya? kok pake permisi!?
pelamar: bukan pak.. saya mau melamar..
pemimpin: ngelamar saya!? saya memang homo, tapi pilih-pilih!!
pelamar: (mengumpat pelan) asu!
pemimpin: saya denger kamu tadi bilang apa? belum berkerja sudah berani minta minum! susu lagi!
pelamar: bukan pak..
pemimpin: jadi kamu nggak minta susu!? trus minta apa? lemon tea? atau mix sex? ohh.. maksud saya milk shake?
pelamar: teh hangat saja
pemimpin: kamu pikir ini warung pinggiran!

pelamar: begini pak..
pemimpin: jadi kamu mau ngajak beginian?
pelamar: bukan begitu pak..
pemimpin: ah! sama saja! mau beginian atau begituan saya tidak akan mau!
pelamar: saya mau melamar pekerjaan pak..
pemimpin: kamu lulusan apa?
pelamar: teknik pemesinan pak
pemimpin: mesin apa!? mesin jahit! jahit apa? jahit mulut!?
pelamar: bukan pak..
pemimpin: mesin apa? mesin cuci!? cuci apa? cuci mulut!?
pelamar: mesin bubut
pemimpin: bubut apa? bubut mulut!?

pemimpin: mana, saya lihat ijazah kamu.
pelamar: ngapain bapak minta jenazah saya?
pemimpin: ijazah! bukan hafizah! ohh jenazah!
pelamar: (menyodorkan ijazah)
pemimpin: hmm.. weton kamu apa?
pelamar: lho.. saya mau kerja di bagian teknik, bukan pembuat beton.
pemimpin: kamu budeg ya?
pelamar: saya nggak suka gudeg pak.

pemimpin: kamu diterima kerja
pelamar: terima kasih pak..
pemimpin: tapi inget kerja disini nggak boleh telat
pelamar: saya in cowok pak, nggak bakalan telat.
pemimpin: kerja disini ada aturannya
pelamar: apa saja pak?
pemimpin: nggak boleh merokok kecuali atasan, nggak boleh makan waktu kerja kecuali atasan, nggak boleh ngobrol waktu kerja kecuali atasan, nggak boleh tidur kecuali atasan.
pelamar: atasan itu siapa pak..
pemimpin: (memandang ke atas) itu lihat! tikus!

pemimpin: itu yang gantungan dileher kamu apa?
pelamar: ini flashdisk pak..
pemimpin: ihh.. anak sekarang.. kudis kok dipake hiasan. kalau yang disaku kamu itu apa?
pelamar: ini kamera digital pak.. biar saya bisa motret kejadian dan di upload ke blog.
pemimpin: apa!? kamu bilang saya goblok! kamu saya pecat sebelum kerja!!!
pelamar: bukan pak.. blog! bukan goblok.
pemimpin: lho, kamu ngejek saya goblok sudah dua kali! kamu saya pecat tanpa pesangon!

pelamar: (beranjak keluar ruangan dengan badan lemas tanpa tulang)
pemimpin: ehh.. tunggu yang dikantonng kamu itu tadi apa?
pelamar: ini kamera digital
pemimpin: ngapain kamu bawa-bawa alat vital!? dikantongin lagi!
pelamar: kamera digitalllll pakk!!
pemimpin: ohh.. kamera.. yang bisa buat foto underwear itu ya? ohh maksud saya underwater.

lalu si pelamar kembali menuju parkiran dan mengambil motornya..

satpam: sukses mas?
pelamar: suskses panen! panen ocehan!
satpam: sabar mas.. ada pepatah "dunia ini pake kolor"
pelamar: hahh..??
satpam: kayaknya nggak gitu ya? "dunia tak selebar daun kelor" maksudnya
pelamar: ohh.. iya emang enak kalo di traktir kerak telor.

satpam: itu motor keluaran baru ya mas?
pelamar: iya
satpam: yang pake sistim inject itu ya?
pelamar: iya, ini lagi saya injek-injek!



*ditulis dalam keadaan setengah gila.
** berdoalah seusai membaca, semoga anda tidak tertular dengan penyakit setengah gila ini.

Senin, 15 Februari 2010

jangan berebut, jangan ribut, jangan lempar-lempar kancut!

Sekarang kita tidak sedang membahas dana century atau bang antasari-williardi dengan isteri-isterinyanya. kita membahas yang lebih potensial dari pada itu! yaitu saat kenekatanku berangkat ke sidoarjo buat nonton PERSEBAYA dengan modal pas, kaos oblong, sandal jepit dan gak lupa pake kolor dong!.
berhubung kalau jatuh cinta tai kucing bakalan jadi cokelat, aku tetap nekat! biar cokelatnya sepet-sepet dikit aku tetap gila berangkat ke sidoarjo. (entah setan tipe berapa yang ada di otaku saat itu) tapi kalau sekarang aku akan jelas-jelas memilih cokelat dari pada tai kucing warna cokelat!

berangkat naik kereta bersama seorang saudara sekaligus teman bernama Ipung (where are you bro?)
sampai di depan stadion tiket sudah ditangan tinggal baris rapi, lencang kanan-lencang kiri, ikuti perintah polisi dan masuklah ke tribun penonton.
aku sadar betul bahwa kostum yang aku pakai berwana hijau (hijau lusuh) tapi begonya saat masuk malah keliru ke tribun supporter tuan rumah. diantara dominasi tribun supporter Deltras yang berwarna merah aku dan saudaraku pakai warna hijau sendiri!. kampret!.
untunglah masih ada orang baik yang menyadarkan kami berdua untuk kembali ke penangkaran.
aku dan saudara masih benar-benar PEDE berjalan dengan pakaian beda sendiri sambil meyakinkan diri sebagai trade center! ehhhh trend setter!

***

tak ada yang sulit dalam mempraktekkan diri untuk mengantri. berbaris rapi menunggu giliran. tapi bagaimana jika barang yang diperebutkan terbatas? dan orang yang memperebutkannya membeludak? ditambah lagi setiap orang merasa "harus" mendapatkannya.

jangan ditanya apa jadinya! sudahlah pasti keributan mewarnai kegiatan tersebut. tampilan yang sama terjadi di Stadion Tambaksari 10 Nopember minggu kemarin. ribuan orang memberondong stadion sejak pukul tujuh pagi untuk mengantri tiket pertandingan sepak bola PERSEBAYA VS Persib. saya, yang waktu itu masih berbincang dengan dua (ekor) teman di Taman Bungkul tak begitu menghiraukan walaupun saya sendiri sangat berambisi memndapatkan tiket tersebut.

pukul sembilan mata saya cukup dikejutkan dengan orang yang menyemut mengantri tak rapi di pelataran stadion sambil berteriak "Tiket.. tikett.. tikettt....!!".
saya tak tertarik mengikuti mereka, saya lebih memilih berbincang dengan salah satu wartawati dari Suara Surabaya (lupa namanya hehehe..) sampai kemudian saya bertemu dengan staf penjual tiket yang mengatakan loket dibuka pukul 11:00.

ada apa ini?
ini pertandingan besar, kenapa loket tidak dibuka sejak pagi?

berjam-jam berlalu saya menuggu dengan cukup sabar. dalam hati saya memotivasi diri "ini pertandingan besar! harus nonton!!" terlihat bodoh memang, tapi ini saya anggap sebagai pelampiasan rasa kangen karena selama tinggal di Semarang saya tak pernah melihat, berteriak, menyemangati pemain atau sekedar menggoblok-goblokkan wasit. secara langsung dari pinggir lapangan.

tak seperti yang dikatakan. loket baru buka pukul setengah dua belas, sekian banyak orang menyerbu loket dengan berdesakkan, saling menyikut dan saling menjejalkan diri kedalam keramaian. ambisi saya mendapatkan tiket tak surut melihat pemandangan brutal seperti itu. lama saya didalam kerumunan, dijilati panas, juga tenaga yang hampir habis digerogoti rasa lapar.

ini kebodohan yang membatu didiri kita.
rasa ingin memiliki dan fanatisme luar biasa telah membius agar kita bersikap beringas. pun, tak lepas penilaian saya untuk staf penjual tiket dan aparat berseragam cokelat yang bertampang seram tetapi berotak udang!.
seharusnya, antara loket ekonomi, utama dan VIP harus dibagi di setiap loket (pemberlakuan loket khusus) bukannya disetiap loket menjual ketiga tingkat tiket tersebut, dan di setiap loket harus ada aparat yang menjaga ketertiban pembeli!.

siang telah sampai di pukul satu lebih.
badan saya sudah lemas, tak mampu lagi bersaing. saya memilih keluar dari kerumunan (karena, kabarnya tiket sudah habis). lantas menelpon teman yang mengusulkan untuk membeli tiket di daerah simpang (Taman Apsari).
semangat saya timbul kembali. saya menuju taman apsari.

disana ada puluhan Viking Bandung yang ditampung dan sekian Bonek yang menunggu pembagian tiket. siang semakin tak bersahabat kami lawan dengan berbincang dan bercanda dengan anak-anak Bandung.
lanjut cerita, tiket sudah dibagikan, ternyata yang membeli tiket di simpang harus memesan terlebih dahulu. pendeknya, saya pulang dengan berbagai macam perasaan, dengan hati panas ditengah siang yang tak kalah panasnya.

pelampiasan saya alihkan pada sepiring nasi. perut yang memberontak berhasil saya redam.
hanphone menjadi alat yang sangat berguna saat itu, saya hubungi teman yang berprofesi sebagai calo. kabar yang mengatakan bahwa calo dilarang berjualan semakin menciutkan semangat.
dan terbitlah terang.
teman saya mengatakan ada tiket dan harus cepat-cepat ketempatnya.

motor saya keluarkan kembali. hampir disetiap meter kecepatan saya tambah. berpacu dengan waktu.
rasa lelah, letih dan capai terbayar kontan dengan tiket tersebut

setelah saya tanya-tanya teman saya ini mengaku bahwa tiket itu ia dapatkan dari "orang dalam" terkadang malah disuruh menjualkan tiket oleh orang dalam tersebut.
satu lagi catatan bodoh di buku negeri ini.

malam. pertandingan berlangsung cukup menghibur walaupun enam kartu kuning keluar dari saku sang pengadil lapangan.
rintik hujan tak terasa dingin karena rasa kebersamaan antara dominasi warna hijau Bonek mania dengan biru Viking Persib.
pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk PERSEBAYA SURABAYA.




seperti inilah kami,
supporter sepak bola
kami bisa lebih beringas dari peluru yang ada di depan mata
kami dapat kuat melebihi Van Damme
kamipun miliki kemesraan melebihi jutaan mawar merah.


* terima kasih untuk Muklis, Fandi, ALvin dan Adam "ambon"
** foto diambil dari sini

Selasa, 02 Februari 2010

Bondho BangBang Wetan

"BONEK, pada saat kami berbuat baik, orang-orang selalu melupakannya
saat kami melakukan hal yang buruk, hampir semua orang tak pernah melupakannya"



dalam tulisan "Deindividuasi Jamaah". Ali Fatkhan mengatakan "keberanian yang disenyawakan dengan "kesumelehan" menghasilkan energi kekuatan yang begitu dahsyat. komunitas Bonek seperti menjelma menjadi entitas lain dari pribadi-pribadi unsur-unsur"
keberanian Bonek naik diatas gerbong kereta, menjarah makanan diwarung, memanjat tembok stadion akan mereka (Bonek) lakukan jika bersama-sama saja, atau dalam kata lain, bonek melakukan kerusuhan hanya pada saat berkumpul.
jika ada yang menyimpulkan bahwa komunitas bonek adalah kumpulan orang-orang jahat menurut saya salah total. yang terjadi adalah Deindividuasi. hilangnya kepribadian seseorang dan melebur sebagai kepribadian kelompok.

minggu malam kemarin. puluhan Bonek lengkap dengan atribut hijau-hijaunya datang ke Komplek Gedung Balai pemuda Surabaya. apa yang mereka lakukan?

Supporter PERSEBAYA ini mendapat sanksi hukuman dari komdis PSSI karena telah (dianggap) membuat kerusuhan di Lamongan dan Solo saat away ke Bandung.

Bonek datang ke Balai Pemuda bukan untuk menciptakan kerusuhan, memboikot jalan atau membakar gedung. mereka datang untuk mencari solusi bersama di Forum BangBang Wetan. juga untuk menyimak pendapat dari Emha Ainun Nadjib. ini termasuk salah satu etikat baik dari Bonek yang telah siap berubah lebih baik dan siap untuk menggalang perdamaian antar supporter sepak bola di seluruh nusatara.

diacara yang juga dihadiri oleh Dik Doank ini dibuka oleh grup sholawat EL Nababa asal Surabaya. lantas, salah satu perwakilan Bonek bernama Cak Tris mengkisahkan kesalahan yang pernah ia lakukan saat mendukung PERSEBAYA. dari masuk stadion tanpa tiket, naik kereta tanpa tiket, sampai naik kapal tidak membayar tiket pula dan lain sebagainya. Cak Tris sendiripun mengakui hal yang ia lakuakan itu salah. tapi sekarang "saya akan berusaha untuk merubah citra buruk itu!" katanya, dan Cak tris berpesan kepada seluruh warga surabaya agar "ngewongke Bonek" (memanusiakan Bonek).

diskusi berlanjut dengan pernyataan dari Wastomi suhari (ketua Yayasan Supporter Surabaya) "saat pulang, bonek sama sekali tidak melakukan kerusuhan!. bonek berada didalam gerbong kereta yang pintunya ditutup rapat dan diikat dengan kawat!. lalu saat kami melintas di kota Solo kami dilempari oleh warga atas provokasi Pasoepati (supporter persis solo) dan saat melintas di Lamongan kami dilempari oleh oknum LA mania (supporter persela lamongan)" selang beberapa hari, komdis PSSI menyatakan bahwa bonek telah melakukan perusakkan gerbong kereta api dan PERSEBAYA wajib memberi ganti, hal ini juga diamini oleh media massa yang gencar memberitakan kesalahan bonek.
"disini bonek adalah korban, bonek menjadi kambing hitam!" ketus wastomi.

pernyataan wastomi dikuti oleh Saleh Mukadar (manajer PERSEBAYA) "awal bonek melawat ke Bandung adalah bonek lepas (bonek yang tidak tergabung dalam organisasi) lalu terpaksa kami mengirimkan korwil-korwil bonek" kata saleh "kami sudah melakukan pengorganisasian bonek dan memberinya kartu identitas dan berkasnya sudah diberikan kepada polisi, tapi jika ada bonek yang tidak teroganisir berulah anarkis, itu bukan tanggung jawab kami" tandas pria bertubuh subur ini.

interaksi berlangsung. seorang pemuda asal Semarang yang menyatakan dirinya juga Bonek mengkomentari pernyataan wastomi dan saleh. "aku ngerti sampeyan ngurusi Bonek wis suwe" (aku sudah tahu anda mengurusi Bonek sudah lama) katanya dalam logat suroboyoan sambil menatap wastomi suhari. "tapi sampeyan ojok meneng ae lek onok Bonek sing misuh-misuh ning lapangan" (tapi kamu jangan diam saja kalau ada Bonek yang mengumpat dilapangan) "gak onok iku sing jengeng'e supporter liyo jancok, sing onok kabeh supporter sakduluran!" (tidak ada itu yang namanya supporter lain jancok, yang ada semua supporter itu bersaudara!) ("jancok" adalah jenis umpatan di jawa timur)

"trus gae pak saleh" lanjut pemuda itu "aku iki yo Bonek pak! aku yo ndukung PERSEBAYA, tapi aku gak teroganisir. mosok aku duduk Bonek? padahal aku yo seneng ambek PERSEBAYA!. Bonek sing terorganisir ambek bonek sing nggak teroganisir iku podo ae! pokok'e seneng ambek PERSEBAYA!" (terus untuk pak saleh, aku ini juga bonek pak! aku juga dukung PERSEBAYA, tapi aku gak terorganisir. masak saya bukan bonek? padahal saya juga suka dengan PERSEBAYA!. bonek yang terorganisir dengan Bonek yang tidak terorganisir itu sama saja. yang penting senang dengan PERSEBAYA)

malam semakin gelap di Surabaya, tapi semangat berdiskusi di bekas gedung societeit Belanda itu belum juga mengantuk.

dilanjutkan Gus luthfi yang angkat bicara "bonek adalah output. jadi kalau Bonek ini output pasti ada inputnya. siapa inputnya? kalau ditingkat kota inputnya adalah PERSEBAYA dan kalau di tingkat negara inputya adalah PSSI" kata ulama pemimpin Ma'hadul Ibadah al-Islami Tambak Bening Surabaya Indonesia (MIITSI) "mari kita benahi dulu input kita lalu kita perbaiki outputnya" ajak gus Luthfi.

di forum ini Dik Doank yang mengaku tidak datang atas nama supporter lain mengatakan "Bonek, kalau kalian cinta dengan PERSEBAYA kalian harus datang ke stadion dengan cinta. tunjukkan kalian adalah hamba tuhan yang dianugerahi cinta untuk kebersamaan, di dunia ini tidak akan ada sepak bola jika tidak ada kehendak tuhan, dan tuhan tidak akan menghendaki sesuatu untuk menciptakan manusia agar saling membenci, saling merusak atau saling menghina. maka dari itu, tunjukkan kalian adalah hamba yang puya cinta!"

Emha Ainun Nadjib, menawarkan jalan untuk merubah ideologi bonek yang buruk, merubah jargon, lagu dan segala tindakkan Bonek yang selama ini dianggap buruk dan tidak baik dilakukan.
"yang penting saat mendukung PERSEBAYA adalah BAHAGIA! kalian harus mendukung dalam keadaan bahagia!.
kalian harus bisa bersatu antara satu dengan yang lainnya! karena saya tidak suka berada di tempat yang penuh dengan kebencian!
saya akan siap jika Bonek mengajak saya berdiskusi kembali"

mulai kemarin watomi suhari bersama organisasi Bonek akan melawat ke supporter-supporter yang hubungannya meregang dengan Bonek "kami tahu ini beresiko, tapi kami akan tetap mencoba" katanya di sela-sela malam
pun, saleh mukadar yang menyatakan siap untuk membentuk organisasi resmi supporter PERSEBAYA.

BONEK,
KAMI BUKAN PERUSUH
KAMI PENDUKUNG PERSEBAYA

Jumat, 29 Januari 2010

pulang!

dibawah adalah secarik cerita dari malin kundang yang telah direvisi oleh........ SAYA SENDIRI!

suatu saat malin kundang kembali pulang dari tanah rantau. malin sejak ulus SD sudah merantau ke malaysia, untuk menjadi buruh kasar.
ya, buruh kasar sekasar-kasarnya!

wajah malin menjadi hitam, otot-ototnya keluar, rambutnya tak teratur, rambut ketiaknya panjan menjuntai. dari jauh malin nampak seperti gorila yang lepas dari penangkaran, dari dekat malin nampak seperti.... gorila juga!

"bundooooooooo" kata main dari jauh.

"malin bundomu ada di dapur, dia sedang masak sayur asem!" kata tetanganya.

tak berapa lama malin sudah berada di dapur tempat ibunya memasak.

"malin.. kau benar malin anakku yang dulu suka berak sembarangan?" kata ibunya memastikan.

"bukan! aku bukan malin itu! aku malin yang suka chatting di facebook! kau bukan ibuku!" malin berkilah

ibunya menghela nafas sejenak, dan berkata

"bundo kutuk kau jadi brad pitt"

"ayo bundo! kutuk ambo segera!"

"lalu, bundo kutuk lagi kau jadi katak terbang!"

***

saat duduk didalam bus ekonomi jurusan Semarang-Surabaya. pikiranku sudah lama
mengembara tentang hura-hura macam apa yang harus kulakukan saat di surabaya.

kenapa harus bus ekonomi? selain gak keluar duit banyak, satu hal yang aku suka dari bus ekonomi adalah "pengamen!". yak! dengan suara cempreng, gitar senar tiga, kaos oblong lusuh, sandal jepit kejepit-jepit. senang melihat cara mereka mengumpulkan recehan.

tepat jam lima sore lebih sekian menit. telah sampailah diriku di surabaya. suara teriakkan riuh rendah para penduduk menyambutku, klakson-klakson berbunyi kencang atas kedatanganku, langit bergemuruh, sopir angkot menjerit histeris. namun, belakangan kusadari mereka menjerit dengan suara
"perusuh datanggggg... perusuhhhh datangggg.... amankan anak ayammu!!"
dalam hati aku mengutuk mereka-mereka ituuuu!!!

yap! anda benar saudara-saudari! aku kembali ke surabaya setelah tersesat cukup lama di semarang.

kegiatan selama di surabaya lebih banyak bepergian ke rumah teman jaman STM yang rata-rata belum pada kaya!.
secara terang-terangan seorang teman berinisial A-l-v-i-n (ini inisial!) meludahi dompetnya
sendiri karena hanya berisi surat-surat gaden!.

selama tingal disemarang ada banyak pelajaran hidup yang telah kudapati, tentang apa itu kebersamaan, semangat penghidupan diri dan segala tetek-bengek kehidupan. pun, jiwa kesederhanaan masyarakat desa yang sempat menampar mulutku agar tak terlalu sering mengumpat keadaan.

selama bertemu dengan orang-orang surabaya. reaksi mereka selalu sama
"ehhh.. kapan pulang?"
"wahhh.. udah gede.."
"kamu kok tambah item?"
"jenggot kamu kok ilang?"
dan segala pertanyaan tidak penting lainnya.

sekian saja, postingan rasa gembira kali ini.

"jika ada sumur diladang
boleh kita mencuri kutang!"

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top