Rabu, 23 Desember 2009

"asem ik!" said the farmer

sebelum membaca tulisan dibawah ini
akan lebih baik kursus bahasa jawa semarangan dulu

BAHASA SEMARANGAN INI DITULIS DENGAN SE'ENAKNYA PENULIS


isuk-isuk kepeksan kudu tangi
langsung mbukak piring ehhh durung ono sarapan, usus ning weteng wis mbulet, malah ono sebagian usus wis mreteli.

ora mang adus langsung njupuk parang nggo nggoseki suket sing arep tak pakanke sapi, mbareng wis ngosek-nggosek suket rodo suwe jempol sikilku keno pucuk'e parang. terus terang wae aku kudu misuh ning ngarep sapi!
tapi pancen dasar'e sapi. tapi sapi isone mung madhang! (madhang=mangan=makan) arep dijak crito-crito malah dikiro wong gendheng!

mbukak piring maneh, durung ono sego. piring arep tak banting tapi jare bojoku "eman-eman ora nduwe piring maneh, ngko lek arep madhang opo arep nganggo panci?"
wis awan ngene tapi wetengku cuman kisenan telo, wis ora opo-opolah dari pada cuman kisenan angin, malah-malah iso masuk angin tur ngentut-ngentut sak'nggon-nggon.

awan ngene iki jatah'e nggarap sawah. panas-panas arep ngewor (ngewor=nandur=menanam) jagung. geger kemeng kabeh goro-goro ngewor jagung, jagung arep tak sebar sembarangan tapi ngko malah ora iso ngembang.

wis se sasi jagung tak mes (mes=pupuk). regane mes mundak tak belani ngedol katok kloworku.
mari ngemes jagung geger rasane iso pedhot-pedhot.
bengi arep turu ora iso nyenyak goro-goro geger arep pedhot.
bojo tak celuk tak kon ngerik'i geger.
di kon ngerik'i malah jik leren tuku balsem, balsem wis ono saiki gumun karo duwit receh, duwit receh wis ono tapi jare bojoku wis ngantuk. bojo arep tak banting tapi rupane sik ayu.

bingung'e ati ndeleng langit kok mung panas wae?
iki kapan tho udane?
nandur wis sampe rupaku ireng koyo areng tapi udan ora teko-teko.
awan arep tak banting tapi ora ngerti carane.

wis tak gae main sanggong (sanggong=judi kartu) wae karo kanca-kancaku.
durung main tapi wis ono sing njaluk duit keamanan. arep tak pisuh'i tapi ngko malah ora iso main sanggong tur dipenjara pisan.
sanggong main sampek isuk tapi ora menang blas. dompet tak banting, tak incak-incak, trus bali (bali=moleh=pulang) ning omah.
tapi lagek kelingan..
tak jupuk maneh dompetku sing ndalan mau, tak bukak mung arep njupuk fotone bojoku, trus tak tutup maneh, tak banting maneh, tak incak-incak maneh, trus tak jupuk maneh, tak lebok'ne clonoku. eman-eman dompet mung siji.

isuk wis ambyar tapi moto isih ngantuk,yo wes tak sogok'e nganggo kopi!
arep nggawe isih leren ngodok jarang (jarang=banyu panas=air panas) bareng wis nyuntak banyu ning panci gas LPG'ne entek!. sangking mankel'e LPG tak banting tapi malah mbledos keno clonoku. clonoku kobong separuh!

banyu tak godok ning kompor kayu, ora ngerti lek kayune entek pisan. wis ora kepikir maneh klambi-klambiku tak obong nggo nggodok jarang.
jarang wis ono malah kopine kari sak cendok. cendok tak banting malah mental ning bathukku!
bareng jarang arep tak suntak ning gelas, gelas'e mleset pecah lan marak'ke aku kaget trus panci'ne nibo tur banyu panas'e kesuntak ning sikilku.
moto ngantuk ora sido ngombe kopi malah kesuntak banyu panas!

gumunku, sakben tandur jagung kok ora duwur-duwur?
liyane wis panen tur leyeh-leyeh sawahku isih ribut karo tikus!
wis tak njarke wae. mboh! ora mungkin aku arep mbanting tikus. nyekel tikus'e wae wis kangelan.

jangkep patang sasi wayahku panen, tapi apes'e regone jagung wis medun.
ora kesu'en cangkemku iso langsung njerit
"ASEEEEEMMMMMMMMM IKKKKKK!!!"

*ditulis berdasarkan inspirasi beberapa petani di desaku yang mengeluh hujan.
** maaf jika banyak bahasa semarangan yang salah, maklum aku wong suroboyo rek!
***selamat menikmati sajian sehat dari saya. semoga bermanfaat. TABIK!

Selasa, 22 Desember 2009

rumah penyakit

anak SD yang baru saja pulang dari sekolah bertanya pada ibunya

"bu, raja itu apa?"

"raja itu pemimpin nak"

"di negara ini pemimpinnya siapa?"

"katanya sih presiden yang itu tu" sang ibu menjawab sambil menunjuk pada televisi

"kalau di hutan rajanya siapa?" si anak kembali bertanya

"emm..em..emmmmm.... kalau di hutan ya...... raja singa!"

***
perkembangan biasanya dihubungkan dengan sebuah kemajuan yang berjalan bertahap atau
pencapaian prestasi pada satu titik tertentu.

begitu pula yang terjadi pada Rumah Sakit. perkembangan pada peralatan maupun kemajuan orang-orang medis dalam berkemampuan di bidangnya. sudah semakin kompeten.

sesaat tak begitu lama kemajuan itu terjadi, rumah sakit telah berevolusi menjadi sebuah "mesin pemeras" yang modern.
rumah sakit. yang dulu menyandang gelar sebagai "lembaga sosial" secara perlahan pula telah merubah statusnya menjadi "lembaga bisnis' yang secara jelas-jelas akan mencari keuntungan dari pasien.

lalu, apakah pemerintah tanggap dengan spektrum seperti ini?
kemungkinan tidak.
niat baik pemerintah menelurkan program SKM (surat keterangan miskin) agar warga (yang dianggap miskin) tetap dapat berobat dan sehat kembali sepertinya tak berjalan sesuai rencana. bukankah lebih baik diadakan program kesehatan murah dari pada pembuatan kartu-kartu semacam ini yang (kemungkinan besar) hanya akan menimulkan masalah baru.

kita harus memberontak!
kesehatan untuk kita setiap orang harus digalakkan, bukan semata unutk kepentingan bisnis!

dengan keras saya menolak adanya SKM dan sejenisnya.
penganggapan adanya orang miskin bisa mengkotak-kotak pemikiran manusia!

miskin dianugerahkan oleh tuhan agar manusia berusaha untuk menolak jiwa miskin dan belajar untuk bertahan hidup dalam kenyataan.
miskin dianugerahkan bukan untuk dikasihani hanya dengan lembar Surat Keterangan Miskin.

"semangatlah
hey kalian yang dianggap miskin!"

Sabtu, 19 Desember 2009

YEN ING TAWANG ANA LINTANG

"dek jaman pejuang
njur kelingan anak lanang
biyen tak openi
njur saiki ono ngendi?"

***

"kamu suka musik apa?" tanya Gathal pada temannya

Gathul: "aku suka musik dangdut! soalnya bisa liat rok penyanyinya terbang-terbang"

Gathel: "mending musik klasik bisa bikin kita ketiduran dan memproduksi liur sampe di pipi"

Gathal: "hmm.. kalian semua nggak ngerti musik! aku suka musik yang nge-beat!"

suasana terdiam sejenak...

Gathal: "ngomong-ngomong nge-beat itu kan nama lengkapnya nge-beat G ade ya?"

***

karena telinga kita terlalu munafik untuk menerima hal-hal yang berbau ndeso, terpinggirkan dan musik selalu dianggap sebagai penunjuk strata seseorang oleh karena itu pemikiran kita tidak terlalu terbuka, juga sulit untuk menghargai kenyataan yang diciptakan leluhur.

mengenai kepindahanku di daerah yang cukup jauh dari kota telah menamparku tentang kepongahan telinga manusia. kenapa? karena kita selalu dengan sengaja meminggirkan pelaku sekaligus penikmat musik tradisional.

sejumlah orang berpendapat mengenai terpinggirnya musik tradisional terjadi karena derasnya arus modern

modern? mungkin tidak sama sekali
sejumlah pemuda berjalan dengan pakaian ala punk tanpa mengerti punk. tidak tahu pogoh fight, tidak paham headbanging atau jika ditanya tentang D.I.Y akan geleng-geleng saja menunjukkan mereka hanya menyukai musik modern dengan kesemuan yang mereka pahami dengan melihat saja. tanpa menganalisis terlebih mengobservasi musik apa, hal apa yang akan dilakukan.

"tai anjing buat kalian yang sok punk! nggak usah lah bergaya sok punk atau berusaha se-gaul mungkin jika tak tahu dan tak paham arti didalamnya!.
HIDUP BUKANLAH FASHION!"

coba kita belajar bersama untuk melatih telinga agar tidak munafik, coba mengajari mulut untuk berkata sesuai dengan apa yang dirasa.
dan rasakanlah musik kita ini dengan perasaan yang sesungguhnya. rasakanlah hembusan angin yang akan menyeret pikiranmu jauh ke masa lampau. kenali dan pelajari negerimu.

"YEN ING TAWANG ANA LINTANG
CAH AYU AKU NGENTENI TEKA MU
MARANG MEGA ING ANGKASA
SUNG TAKOK'KE PAWARTAMU

YEN ING TAWANG ANA LINTANG CAH AYU...
RUNGOKNO TANGIS ING ATI..."

Sabtu, 05 Desember 2009

maaf, jangan gunakan bahasa indonesia

di bibir jalan dekat lampu merah sedang diadakan rapat rahasia "komunitas pengamen non sejahtera".

tidak sengaja pembicaran rapat melipir kedalam "Pembukaan undang-undang dasar 1945"

tejo: kalian tahu kenapa negara kita ini sulit dibilang merdeka?

tengil: mungkin karena banyaknya pengamen kayak kita ini

tejo: bego! bukan itu! justru kita ini manusia kuat dengan atau tanpa pemerintah!

tepos: trus kenapa dong?

tejo: itu semua karena di bagian teks Pembukaan UUD 45 ada kalimat yang salah, dengar bagian ini

lalu tejo membaca UUD 45 dengan cengkok melayu:

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentosa
mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan

negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

lalu tejo menambahkan:
kita sering dibilang belum merdeka karena pendahulu kita hanya mengantar kita ke "depan pintu gerbang" kemerdekaan saja dan tidak dibawa masuk kedalam kemerdekaan!

***

judulnya separtis banget ya?
birin aja!

banyak orang yang menginginkan merdeka, termasuk merdeka di bidang berbicara atau berdialog
namun, kemerdekaan berbicara ini tidak berlangsung dengan kedaan daerah dan tempat tinggal mereka

banyak pemuda yang jelas-jelas berasal dan berkulit asli jawa (coklat langsat agak hitam) yang berbicara dengan cara di jakarta-jakartakan padahal yang diajak bicarapun orang jawa pula. sudah melupakan bahasa masa kecilnya.

ini krisis namanya!
disaat kebudayaan sedang gencar dibicarakan untuk tetap di pertahankan agar tetap lestari tapi seperti sengaja dilupakan, bahasa daerah dinggap kurang menunjukkan kasta ekonomi seseorang.

ini nasionalisasi yang salah!
anak-anak kecilpun diajarkan untuk menggunakan bahasa indonesia dalam pergulan sehari-hari. ini memang mengjarkan nasionalisme sejak dini pada anak, tapi disisi lain keadaan bahasa daerah yang bermacam-macam akan terlupakan secara perlahan.

jika bahasa daerah sudah dilupakan, kemungkinan besar kita akan melupakan diri sendiri dan semakin sulit untuk mengenali diri bangsa.

"wong jowo yo ngomong jowo ae
gak usah isin
kat jaman'e mbahmu durung kawin biyen yo wis ngomong jowo!"


*Ditulis dengan hidung yang dalam kedaan buntu sebelah, ahli medis menyebutnya PILEK!

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top