Rabu, 30 September 2009

dari semarang sampai surabaya berjajar warung-warung

Rabu, September 30, 2009

bumi ini seperti debu diantara luasnya antariksa
dan kita hidup dan menempel pada debu tersebut
bisa dibayangkan betapa super kecilnya diri kita ini
sampai-sampai dimanapun kita berada, tak pelak menjadikan kita selayaknya
debu yang berkeliling


***

kabupaten semarang. sebagian daerahnya masih perawan alias belum terjamah pemburu materi ala lahan-lahan di kota. sebagian penduduk laki-laki bermata pencaharian sebagai petani bukan nelayan (ya iyalahh) sebagian penduduk perempuan bekerja pada pabrik garment
(di sana banyak sekali pabrik garment bukan pabrik permen!) dan sebagian pemudanya bermata pencaharian sebagai penganggur. (oke-oke ini memang analisis awam. jangan di percaya jika kemasan rusak!)

mudik? jika ditanya mungkin orang akan menjawab bahwa mudik adalah hal yang lebih dari budaya. seperti yang kulakukan kemarin. "menilik kembali surabaya setelah sekian lama kutinggalkan"

secara terminologi sembarangan: rindu itu seperti sakit pilek! tiba-tiba datang. "datang tak diundang, pulang bawa oleh-oleh kutang" mungkin itu pepatahnya.
seperti yang terkadang kualami saat di semarang. terlepas dari alam yang perawan di sana
karena yang kurindu tak sekedar alam di surabaya tapi, semua yang sudah kukenal.

terima kasih untuk semua yang sudah kukenal di semarang
kalian telah mengajariku arti sebuah
kesahajaan dalam sebuah kesederhanaan.

sabtu, 27 september 2009 pukul 09:00 (waktu indonesia bagian suroboyo-kenjeran)
aku dan keluarga sampai di surabaya, baru sampai rumah aku langsung keluarkan motor untuk berkeliling surabaya dan kerumah teman, tapi tepat di jam 11 siang aku diajak kerumah saudara yang ada di mojokerto dan lamongan (gile! baru dua jam di surabaya udah di diajak keluar lagi!)

acara di mojokerto dan lamongan adalah hal yang umum dilakukan orang-orang pada umumnya setelah melewati bulan puasa dan sangat tidak penting untuk di ceritakan. saat sampai kembali di surabaya 28 september 2009 pukul 15:00 aku langsung berangkat menuju gelora 10 nopember untuk menyaksikan pertandingan antara persebaya VS deltras tanpa mempertimbangkan rasa lelah.
"asem bosok! waktu pulang, kaki rasanya pindah ke perut, perut pindah ke dahi, dahi pindah ke pantat". gak kebayang capeknya....

aku kesana untuk melampiaskan emosi minorku. walaupun tersengat matahari di tribun supporter, walaupun hanyak teriak-teriak tapi bagiku itu adalah pelampiasan emosi minor (emosi yang buruk).
jangan pikirkan tentang ulah supporter yang di cap rusuh,anarkis,brutal dsb. karena kita ini manusia, dan manusia adalah mahkluk dinamis yang sikapnya bisa berubah-ubah setiap waktu, kita bukan malaikat yang statis berbuat baik walaupun berdampingan dengan jutaan pelacur, kita juga bukan iblis yang statis berbuat buruk walaupun berada di sebelah orang yang beribadah.

banyak hal yang kudapat setelah balik ke surabaya, seperti tahu tetang teman-teman jaman STM yang ternyata banyak yang berprofesi sebagai "pengangguran sukses" "yeahhh...kalian memang tahu pekerjaan yang baik!"
juga perubahan surabaya dari segi lalu lintasnya yang makin rame, banyak gajah bermesin diesel berkeliaran keluar masuk jembatan suramadu yang barus di resmikan itu!
dan banyak lagi gajah-gajah dengan ukuran yang berbeda yang setia memadati lalu lintas (dijalan pada cari apaan sih?)

karena sudah bayak orang yang dengan ketidak sopanannya menanyakan "kapan kamu balik ke semarang?" dengan mimik mengusirku. aku cuman bisa menggerutu dan membiadabkan pertanyaannya!. kejam sekali mereka mengusir anak manis sepertiku ini!

aku menyerah..
aku tak tahan dikejar-kejar pers, di kejar-kejar wartawan majalah dinding retak, hanya untuk menanyakan kapan aku balik ke semarang. baik dalam minggu ini aku akan kembali ke semarang, kembali ke tanah rantau. demi mencari sesuap atau sepiring nasi.

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

1 komentar:

Witha mengatakan...

Klo ngedengar Semarang, jadi inget lumpia semarang...
Ngedenger Kenjeran, jadi inget pas beli lontong balap di sana...dan pedagangnya ngasih harga yg mahal bgt...hiks...ketipu
Ngedenger Surabaya, jd inget nasi bebeknya...sayang terakhir kali aku ke Sby, jembatan Suramadu belum dibuka

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top