Rabu, 26 Agustus 2009

musuh dalam kancut

Rabu, Agustus 26, 2009

Ada seorang pendatang dari daerah miskin yang sedari awal sudah mengantongi niat buruk untuk berangkat mencuri ke daerah lain. Sebelumnya dia telah mempelajari teknik-teknik mencuri, adegan-adegan drama berbohong yang ia pelajari secara otodidak di sebuah sinetron, serta perhitungan cepat ala sempoa (ini mau maling apa mau ikut olimpiade matematik sih?)

Setelah sampai di daerah orang-orang kaya, sang pendatang itu masih mencari-cari rumah mana yang layak untuk dirogoh hartanya

Merayap-rayap, merangkak-rangkak serta jumpalitan agar tak ketahuan pemilik rumah sambil mendekati sebuah ayam. Hehehe..maksudnya ayam yang di pantatnya ada tulisan “Daihatsu xenia” alias mobil!
Tangan sebelah kanannya sudah memegang belati erat-erat, serta memasang wajah sesangar mungkin, lalu mengetuk pintu mobil itu.

Sesaat setelah pintu mobil itu terbuka terkagetlah ia dengan sesosok orang berumbut pirang dan logatnyapun tak sama dengannya, hwaawww sang maling terkaget menganggap pemilik mobil adalah seorang bule, lalu ia mencoba menggunakan bahasa inggris sekenanya

“excuse me! May I control this car?” begitu sang maling teriak mengancam.
Pemilik mobil hanya melongo dan berbalik menimpali
“ohh..pak cik ini mau mencuri rupanya, saya dari malaysye, dan orang malaysye itu lebih terkenal jadi pencuri dari pada negara pak cik”
ternyata sang pemilik mobil orang Malaysia.

“usahlah pak cik ambil mobil saya, karena saya sendiri juga pencuri, mari saya ajari teknik mencuri dan teknik merakit bom lalu pak cik ajari saya menari tari pendet”
tetapi, nasionalisme sang maling terkoyak dan sang maling berkoar

“walaupun di sekolah saya terkenal bodoh tapi saya tidak bodoh! Bapak ini pencuri seni budaya negara saya, saya tahu kalau negara bapak tidak kreatif dan suka mencuri secara diam-diam! Negara bapak memang “musuh berkancut!” errghh..errghh maksudnya, negara bapak memang musuh dalam kancut!”

***

Sebetulnya, sebuah negara tidak akan bisa berkembang maksimal jika masih berorientasi pada uang! Percayalah!

Tengok saja malaysia, untuk apa mereka mengklaim kekayaan kita kalau bukan untuk mencari uang? Karena mereka hanya mementingkan uang maka otak mereka tumpul dan tidak bisa berkarya secara sehat.

Mulai dari lagunya saykoji, masakan rendang, tarian reog, barong, pendet dan yang paling parah mereka telah mengklaim batik! Mungkin Malaysia tergiur akan ke-eksotikkan INDONESIA dan memburu hal-hal yang eksotik dari INDONESIA.

Tapi, jika benar Malaysia mengklaim semua itu atas nama ke-eksotikkan kenapa tak mengklaim “koteka” asal papua itu milik mereka?
Hahaha.. tentu akan menjadi lebih eksotik jika seluruh pria di Malaysia memakai koteka kemana-mana. Ke menara petronas pakai koteka, ke pasar pakai koteka, mau pacaran pakai koteka. dan sejauh mata memandang di negara Malaysia hanya ada “gondal-gandul”

Hiyahh..hiyahh..semoga tak akan ada masalah serupa lagi walaupun yang di klaim hanya sebuah koteka ataupun nasi aking khas masyarakat bawah (bawah jembatan dsb) semoga juga setelah kejadian ini pemerintah INDONESIA bersikap lebih ketat dengan kekayaan kita, serta diri kita sendiri menjadi penduduk negara yang kritis terhadap segala sesuatu.

“PUT ALL THE WORRIES,
YOU AND ME AGAINST THE WORLD!”

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

4 komentar:

vie_three mengatakan...

ati-ati.... jaaahhh jangan2 upil orang indonesia entar diklaim sama orang malingsia..... huwaaa-huwaaa.....

Desy Noer mengatakan...

haha..lucu kali yaa.. ngebayangin satu negara cowoknya pada pake koteka semua...hihi... bahasanye "gondal-gandul"

NoRLaNd mengatakan...

Wah lo kemana aja guzz.....
Lo ga tw kan.. skrng Gw bkn pengacara lagi... ho oh...

Miss Is mengatakan...

waw,,,
pake koteka???bikin adem tuch...
khe khe khe

klo g salah sekarang malaysia udah daftarin 99 jenis makanan biar g ada yang bisa klaim,busyet dah...

ane lupa linknya,sorry y

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top