Minggu, 21 Agustus 2016

Nyonya Bagus

Data yang paling akurat untuk menunjukkan bahwa seorang lelaki itu adalah benar-benar seorang lelaki ternyata bukan data administratif seperti; Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk apalagi Kartu Tanda Pemilih di tingkat Kecamatan. itu semua tidak akurat karena masih buatan manusia sendiri.

Ya, buatan manusia sendiri.
Dalam artian itu semua dapat dimanipulasi untuk berbagai macam kepentingan.

Yang paling akurat dan tidak dapat digugat bahwa kita benar-benar lelaki adalah:

Menikah dengan Perempuan
Jelas, lelaki mana yang merelakan "Titit-nya" dinikahkan dengan seekor "landak mini" ?
Sudah sepatutnya Lelaki itu menikah dengan Seorang Perempuan.
Perempuan ya! catat!! Perempuan!.
Bukan mahluk dua alam.

Memiliki Buah Hati Darah Daging Sendiri
selanjut yang terakhir adalah memiliki Buah Hati dari diri sendiri dan Istri kita sendiri.
ini adalah bukti mutlak bahwa kita benar-benarnya seorang lelaki.
berketurunan, berusaha sedikit menyumbang populasi manusia di dunia.

Alhamdullillah, 10 Juli 2016 saya telah memenuhi Syariat Agama untuk menikah dengan seorang Perempuan Baik-baik sekaligus menuntaskan satu syarat yang saya tuliskan diatas.

Perempuan yang mulai hari itu akan menjadi pendamping hidup saya, yang akan selalu bersama saya dalam keadaan bagaimanapun, yang akan saya lindungi kebahagiaan dan derajatnya sebagai seorang istri sekaligus Ibu dari keturunan saya.

Semoga hari itu menjadi pengantar Doa-doa untuk kami berdua.
Mulai hari itu pula, Perempuan disamping saya ini dianugerahi gelar:
"Nyonya Bagus".

Saya mengenakan Jas hitam (bukan Jas Hujan) menunjukkan Buku Nikah yang baru saja dibubuhi tanda tangan saya dan Nyonya bagus.

Minggu, 24 Januari 2016

Makan Siang

Bima, salah satu kesatria yang tergabung dalam Pandawa Lima siang itu  duduk di pojok taman istana bersandar di sebuah pohon maja sambil memeluk kedua kakinya dan memblesekkan kepalanya di kedua lututnya.

wajah Bima kecil sepertinya sedang murung tidak seperti saudara-saudaranya di Pandawa Lima yang sedang bermain Tekong-Tekongan (nama permainan Petak Umpet dalam bahasa Jawa Suroboyoan) Bima kecil masih saja sendiri duduk di bawah pohon maja sampai salah satu pengemong datang yakni Kiai Semar.

"lho, kok dewean disini kenapa le?"

Tanya Kiai Semar sambil mengelus kepala Bima kecil yang masih saja mblesek diantara kedua lutut.

"aku ngamuk" 
jawab  Bima Singkat saja.

"lha ngamuk kenapa, le?
kali ini Kiai Semar duduk disamping Bima kecil dengan tangan yang akan menggendong bima masuk kembali ke istana

dalam pelukan Kiai Semar, Bima bercerita bahwa dia sedang ngidam Bakso tapi juru masak Istana memaksanya untuk tetap makan sayuran hasil rakyat pribumi istana.

"lah.. lahh.. sayur kan apik buat badanmu le.."

belum selesai Kiai semar menjelaskan tentang sayur, Bima kecil langsung melompat dari pelukan Kiai Semar dan berkacak pinggang di depannya dengan mata "mlorok".

"Lha aku ini Kesatria apa Popeye???"

***

Sudah lama sekali tidak menuliskan sesuatu di blog ini, sampai-sampai di tahun 2014 saya hanya menerbitkan empat postingan saja, selanjutnya di tahun 2015 sudah tidak ada kabar sama sekali, itu yang membuat saya mengganti template blog ini agar terlihat masih berpenghuni dan terawat walau kadang yang membuat semangat menulis down adalah ketika saya blogwalking hampir disemua blog yang saya kunjungi mengalami mati suri. hidup segan, mati masih negosiasi.
dimana teman-teman saya blogger dulu?

12:00 tepat waktu malang, saya merencanakan untuk apel ke rumah calon Istri saya (oh iya, saya lupa! sekarang beta tidak jomblo lagi!!) di Sidoarjo.
berangkat sekitar pukul 12:30 saya nyalakan mesin motor saya dan mengarahkan ke daerah singosari malang, baru sekitar 500 meter saya keluar dari tempat tinggal saya melihat kearah langit yang perlahan menghitam dibarengi dengan hembusan angin yang tidak wajar.

siang itu angin berhembus sangat brutal.
angin berhembus sangat kencang bersamaan dengan langit yang gelap, sudah tidak bisa dihindari lagi bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
benar saja, hujan turun mengeroyok sangat deras, menciprat kemana-mana karena dihempas oleh angin yang sangat kencang.

"Cinta tidak mengenal musim" batin saya sambil terus menerobos hujan dan angin yang kencang.

sampai di pasar lawang saya hentikan motor untuk membeli oleh-oleh, mata saya tertambat pada apel dan langsung saja saya ambil beberapa kilo sebagai buah tangan, masih merasa ada yang kurang saya membeli lagi kerupuk tahu di toko sebelah penjual buah tersebut.
di dalam toko saya sedikit membuka obrolan basa-basi

"waduhhh.. kok hujan terus bu ya?"

"walahh.. emang udah waktunya, mas" kata ibu penjual kerupuk tersebut

saya timpali kemudian "waduhhh jangan dulu, bu, saya masih perjalanan jauh niii"

"ya ndak bisa gitu, mas. hujan itu sudah kehendak Allah, hujan itu berkah juga, nanti kalau panas terus apa ngga retak-retak tanah ini"

saya pikir memang benar adanya kata ibu berkerudung ungu penjual kerupuk tersebut, segala hal di dunia ini tinggal kita terima saja.

menyoal perjalanan saya sudah masuk di daerah Pandaan dan keadaan cuaca masih saja ekstrim dengan angin yang berhembus masih kencang. motorpun jadi sulit dikendalikan, saya arahkan lurus tahu-tahu terhembus angin jadi miring ke kiri. ini membuat saya semakin ketar-ketir di jalan karena mobil dan truk-truk besar tidak akan memberi toleransi pada motor yang ketiup angin kencang.

semakin hati-hatilah saya dijalan, materi "Semakin Di Depan" dari Valentino Rossi tidak bisa saya terapkan saat itu. saya memilih materi "biar lambat asal selamet" saja.

masuk di sekitaran Gempol masih saja hujan mengeroyok secara kasar, saya merasa celana jeans saya sudah basah dan kaki saya sudah dingin sekali rasanya, tapi tujuan sudah dekat, saya tak mau kalah dengan keadaan, saya pacu kembali motor sampai di depan rumah calon istri saya berdirikan motor tepat di depan pintu rumah.
saya ketuk pintu sambil saya missed call HP-nya, siluet nampak dari kaca pintu rumah, saya kenal pasti gadis yang berjalan menuju pintu itu.

semakin mendekat ke pintu saya semakin yakin, pintu dibukanya pelan-pelan dan saya merapat ke pintu, senyumannya membuat saya semakin yakin bahwa itu memang gadis yang saya cari sepanjang siang itu.
senyuman manis pelepas lelah.

gadis itu mengambil tangan saya dan menciumnya, semakin rontok rasa lelah ini dibuatnya.
lalu gadis itu mempersilahkan saya duduk lantas menyiapkan makan siang untuk saya.
gadis itu datang kembali dari dapur dengan membawa segelas teh hangat, lauk ikan dan semangkuk bakso.


ya, sebuah cerita tentang bakso.
bahkan semangkuk baksopun bisa membuat kita bahagia, dasarnya adalah rasa sayang.
kalau sesama manusia kita bisa saling menyayangi, kebahagiaan akan mudah kita dapatkan, seperti bakso di siang itu yang menimbulkan suasana mesra.



*foto dirampok dari sini

Minggu, 07 Desember 2014

Maaf Saya Lupa

Pasukan telah disiapkan untuk bertempur melawan Kurawa, ini bukan hanya sebagai penentu siapa yang pantas berdiri lebih tinggi antar lawan namun juga ada percik-percik dendam di hati prajurit Pandawa yang telah disiksa keluarganya, dirampas harta bendanya.
“dari pada aku mati lapar di rumah, lebih baik aku bersimbah darah meralawan kurawa”
Kata seorang prajurit berbadan sedikit kurus bernama  Ajigung dengan tombak kecil ditangan kirinya. Istrinya sakit, ketiga anaknya perempuan, satu yang paling besar bertugas menghidupkan dapur lapangan untuk prajurit yang bertempur dua yang lain merawat ibunya yang sulit bergerak diatas ranjang reot bekas lungsuran dari Rangga Dumetung, seorang prajurit Sandi Yudha yang selama ini sudah mengintai koordinat tertentu dari Pasukan Kurawa.
Yudistira bergerak kedepan merangsek dari banyaknya prajurit-prajuritnya sambil mengepalkan tangannya keatas lalu memberi aba-aba untuk maju kedepan dengan senjata siap untuk menebas lawan.
Tanah Kurusetra yang menjadi saksi pertempuran kala itu menjadi sangat menyala, pedang saling silang, darah mengecer dimana-mana,  Pasukan Pandawa masuk melalui sela-sela formasi perang Kurawa sampai pada akhirnya ada satu diantaranya yang tersungkur jatuh.

Dia pak Ajigung, prajurit yang berangkat bertempur tanpa sepengetahuan istrinya yang sedang sakit, mukanya memucat, tangannya gemetar namun masih erat memegang tombaknya.
Ujung bawah tombaknya menancap ditanah, badannya tersungkur sambil menunduk  dia berkaca pada percik-percik darah, mukanya semakin pucat dan pandangannya menjadi kabur, lalu rekannya membopongnya dari samping dan bertanya “kenapa, pak Ajigung?, dibadanmu tidak ada luka sayatan pedang, kenapa bapak tersungkur?”
Dengan lemas pak Ajigung menjawab  ”aku lupa belum sarapan tadi pagi”

***
Malam itu saya sedang santai di mess tempat saya istirahat sambil merapikan sprei biru kesayangku (disebut kesayangan karena belum ada gantinya, kalau lagi dicuci biasanya selimut saya jadikan sprei untuk sementara waktu. Oke clear!)
Lalu tiba-tiba hape saya bergetar mengisyaratkan sebuah SMS masuk, kenapa SMS? Bukan BBM? Karena BBM lagi naik, saya putuskan untuk pakai hape sentuh, maksudnya keypadnya yang disentuh, bukan layarnya.
Pesan singkat saya baca isinya simpel tapi menusuk kalbu: “Gus, ke kantor sebentar”
Sialan, malem lagi enaknya istirahat malah dipanggil ke kantor, sampai ditempat saya sudah duduk di depan komputer dan mengerjakan ini-itu dengan cukup cepat (tapi banyak salahnya) lantas saya print produk pekerjaan itu untuk saya setrokan ke kantor pusat, print selesai saya check ulang lagi produk tersebut dan emmm... satu hal yang keliru dan fatal, data yang saya cetak malah keliru print.

Setelah melalui beberapa koreksi pada malam itu, saya setorkan saja data tersebut ke pusat yang sudah sepi dan gelap. Baru berjalan beberapa langkah saya merasa ada yang aneh di telapak kaki saya, kaki kanan terasa longgar tapi kaki kiri kok seperti keberatan sepatu kuda gini?
Saya menunduk dan melihat ada apa di kaki saya, oh tidak ternyata saya tertukar pakai sendal, kaki kanan pakai carvil, kaki kiri pakai jepit hijau lusuh dan kekecilan.
Kenapa ya belakangan ini saya jadi sering lupa?
Pagi-pagi mau sarapan ke kantin saya malah keliru masuk ruang tamu, alhasil hampir setiap pagi saya sarapan busa kursi.
Siang juga gitu, mau menanak beras pas udah beli lauk dan mau makan ehhh... kampret malah tombolnya lupa belum ditekan, siang itu juga saya makan ayam bakar dengan beras dan kuah dari air aqua.

Dari berangkat ke kantor sampai pulang lagi selalu ada suatu hal yang kelupaan, mungkin sibuk kerja itu kurang enak kalau tidak lupa, sama seperti sayur tanpa sendok. Lantas bagaimana kita menyikapinya?

Seringnya manusia lupa itu ternyata disebabkan oleh banyak faktor, yang pertama kurang tidur, gangguan fisik, alcohol dan banyaknya pekerjaan.
Mari kita bahas satu-persatu:

Kurang Tidur
Perkerjaan selalu saya potong di jam 9 malam, kecuali tidak ada data yang harus dilembur malam itu, sepulangnya saya biasakan baca buku sampai jam 10 malam kadang lebih kadang kurang, tapi lebih banyak kurangnya sih, karena baru satu halaman dibaca mulut sudah menguap tiga kali.
Bangun biasanya jam setengah atau tepat jam 5 pagi. Ini rasanya sudah cukup bagi saya walau harus menguap ngantuk pas masih jam 9 pagi.

Gangguan Fisik
terus terang saya ngga ngerti gangguan fisik itu yang seperti apa, saya harus berkonsultasi dan menanyakannya dulu pada ahli bahasa. Bahasa ibu (ibunya buaya)

Alcohol
Bukan saya tidak macho untuk menghindari yang gini-gini, tapi emang saya lebih biasa minum air biasa ketimbang yang gini-gini, dalam tubuh saya sendiri terkandung air 80% diantaranya 50% air putih. 20% susu dan 10% sisanya adalah kuah sayur.

Banyaknya Pekerjaan
Nah ini yang paling benar, pekerjaan sering sekali menumpuk, satu belum dikerjakan sudah datang lagi dua pekerjaan.
Satu data belum disetorkan udah turun lagi lima data yang harus direvisi, kadang saya pusing, komputer juga ikut pusing, kami berdua pusing, saya minum air putih sejenak, komputer saya siram CPU nya, akhirnya komputer mati dan pekerjaan tidak selesai.


Ya seperti itu saya sekarang, lebih banyak lupa dalam mengarungi bahtera kehidupan, jadi kalau seandainya ada orang yang memesan sesuatu ke saya namun tidak saya tanggapi bukan karena saya tidak mau, tapi saya lupa.

Kamis, 03 Juli 2014

Kamu Jangan Terlambat!

"kang mas jangan lupa kalau janji itu hutang lho, ya!"

begitu ketikan pesan singkat dari Shinta pada Rama tunangannya yang merantau di negeri orang dan berjanji akan pulang pada libur musim panas mendatang.
berbulan-bulan Shinta menungggu kehadiran sang penentu hatinya itu di pematang sawah tempat biasa mereka mojok pas malam minggu, maklum saja karena waktu itu belum ada gedung bioskop, jadi ya terpaksa hanya malam mingguan di pematang sawah berteman semilir angin dingin dan "nguing-nguing" suara nyamuk.

libur musim panas datang, Shinta terbangun pagi sekali hari itu, dia langsung berlari ke stasiun dan duduk di kursi tunggu sambil sesekali membetulkan sanggulnya yang melorot karena belum di kancing degan baik (sanggul ada kancingnya ngga sih?)
berjam-jam dia menunggu Rama tak kunjung datang jua, lalu beberapa detik kemudian hapenya bergetar, datang pesan singkat dari sang pujaan hati, Rama.

"My Honey, kamu dimana?"

"aku di stasiun, kangmas..." balas Shinta lengkap dengan Emoticons gambar hati.

beberapa detik kemudian Rama membalas pesan singkatnya:

"aku sampai lumutan nunggu kamu jemput, pantasan nggak ketemu. kamu di stasiun  aku di terminal!"

***

baik, sebelum masuk ke tema yang sebenarnya, saya mau mengucapkan selamat berbuka puasa bagi kalian yang membaca tulisan ini sambil menggigit kabel mouse.

kemarin siang di kantor saya sedang ribut tentang pemilihan personil yang akan ikut pertemuan dengan beberapa pejabat penting dari Jakarta, saya terlibat dalam pemilihan itu, saya menyeleksi banyak orang sampai akhirnya saya lupa mengurangi diri saya sendiri jadinya saya ikut dalam pertemuan itu. kamprett..
banyak orang yang sudah saya kurangi dan tidak terjerumus dalam keribetan pertemuan itu, namun saya malah melibatkan diri dengan sangat percaya diri dan semangat berapi-api di dalam dada, saking berapi-apinya sampai kaos saya terbakar.

jumlah orang yang terlibat sudah saya print dan saya antar ke staf untuk dilaporkan dan diseleksi ulang, dari situ juga disampaikan kalau dalam acara pertemuan itu kami berangkat bukul 05:00 Waktu Indonesia Bagian Kiri.

saya pulang kembali ke mess tempat saya tinggal untuk menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa, emm... kedengarannya bawaan saya banyak ya?
padahal cuman pulpen dan secarik kertas robekkan saja.
sampai di malam hari waktu masih tersa santai, sesantai saya mengobrol sampai jam sebelas malam, sebenarnya saya sudah ngantuk tapi di sisi lain saya masih ingin mengobrol, jadinya saya ngobrol sambil merem.

setengan dua belas malam saya baru beranjak ke tempat tidur, menarik selimut cokelat, warna awalnya sih merah tapi semakin hari bertransformasi menjadi cokelat, entahlah mungkin itu sebagian dari akibat perubahan cuaca.
setidaknya sampai pukul setengah tiga pagi hape saya berdering dan saya langsung terbangun untuk membeli lauk sahur.

singkatnya sahur selesai jam setengah empat pagi, dihitung-hitung masih ada waktu satu jam untuk bersiap-siap berangkat ke tempap pertemuan.
waktu satu jam itu saya gunakan baik-baik untuk..... tidur lagi.

lalu...
seseorang mengetuk pintu mess saya, saya membuka mata dan jam tangan melihatkan pukul 05:30.
terkaget-kaget sampai rasanya bola mata saya jatuh kelantai, saya berlari menuju kamar mandi, tapi dari jendela sudah terlihat banyak orang berseliweran sudah mengenakan pakaian rapi siap untuk berangkat.
berjingkat saya berganti baju lalu keluar mess sambil berkumur Listerine dan cuci muka di kran air depan mess

beruntung saya tidak ditinggal dan tiba ditempat pertemuan sebelum para pejabatnya datang.
sungguh menyedihkan jikalau saja saya harus mepresentasikan sesuatu dimuka banyak orang dengan muka kusut dan rambut mirip brokoli.

nasib baik masih berpihak.
muka saya pagi itu masih agak-agak terlihat maskulin, nafas juga sudah disegarkan oleh Listerin.

demikian tulisan ini saya buat dengan harapan semoga bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua bahwasannya jika kita terlambat jangan lupa berkumur dengan listerin dan cuci muka secukupnya itu sudah cukup meruubah mukamu sedikit lebih maskulin.

SING NULIS

Foto Saya
pria diatas sempat bercita-cita menjadi penyanyi tetapi cita-cita itu pupus setelah di caci maki dan di sumpah-serapahi oleh jutaan pasang kuping saat dia bernyanyi di WC sekolah. sekarang, pria diatas sedang melaksakan perjalanan sunyi.

Social Icons

Pages

 

© 2013 berkata bebas dan membebaskan kata-kata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top